Crazy Over You

786 98 16
                                        

"Mampet ya?"

Irene menganggukan kepalanya lemah sementara satu tangannya menekan ujung hidungnya dengan tisu yang Mino sediakan diatas nakas. Pria tampan yang sudah berganti pakaian dengan piyama tidur itu kini duduk kembali disamping istrinya dengan satu mangkok air panas yang mengepul. Irene yang melihatnya hanya menaikkan satu alisnya.

"Buat apa?"

"Minum" Balas Mino dengan seringai jahilnya. Perempuan itu mendengus mendengarnya.

"Masa aku minum dari mangkok, jahat banget punya suami" Keluh Irene lagi dengan suara lemah karena nafas nya yang tersendat. Song Mino tersenyum geli melihatnya. Ia menaruh mangkok yang berisi air panas itu tepat didepan Irene.

"Itu biar idungnya ga mampet, uapnya dihirup ya. Jangan dimakan" Sahut Mino lagi. Irene yang kemudian bangun mendudukan tubuhnya tepat didepan mangkok yang mengepul dan mencoba menghirup kepulan asap dari mangkok yang Mino siapkan.

"Gimana ..."

Perempuan itu mendongak dan mengulas senyuman manisnya saat nafasnya kembali normal. Wajahnya memerah akibat uap panas yang menerpa kulit pipi, setelah dirasa cukup Mino kemudian menarik mangkok itu dan menyimpan nya diujung nakas.

"Udah enakan? Udah bisa nafas lagi belum? Masih mampet ga? ----" Song Mino berhenti bertanya saat tubuh mungil itu menghambur kepelukannya, membiarkan kepala itu terbenam diantara dada bidangnya.

"Jangan nangis"

"Huhu..."

"Kan aku ga marah"

"Kamu bawel banget mau nangis aja rasanya" Gumam Irene yang hanya dibalas tarikan nafas jengah dari bibir Mino.

***

Malam ini langit Lucerne memang indah, perpaduan antara gelapnya malam dan kerlipan gemintang yang menghiasi lazuardi ditambah munculnya sang purnama malam yang memberi kesan romantis untuk malam yang menjelang. Indah sekali.

Dan Mino menikmatinya, duduk sendirian di balkon utama Challet dengan satu cangkir teh hangat dan ponsel ditangan.

Rasanya bosan berselancar di dunia maya, berkali-kali membuka jendela browser yang sama membuat Mino akhirnya menyerah dan memilih duduk menikmati malam. Sebagai laki-laki normal Mino sudah merencanakan dengan baik apa yang akan ia lakukan malam ini. Tapi sepertinya ia harus sedikit bersabar mengingat kondisi Irene yang justru demam di malam kedua mereka sah menjadi sepasang suami istri.

Lamunan Mino berkelana, tidak tentu arah membiarkan kepalanya menggambar bagian memori penting tidak penting terlintas sampai sebuah tangan kecil melingkar di lehernya. Nafas nya yang panas terasa di kulit leher Mino dan itu membuatnya sedikit -jengah.

"Ga bisa tidur?" Tanya Mino, lembut seperti biasanya. Bagian atas kepala Mino bergerak menandakan gelengan dari kepala Irene sebagai jawaban atas pertanyaan nya.

"Engga ... Kamu ngapain sendirian disini? Jangan melamun"

"Siapa yang melamun, aku ga bisa tidur" Balas Mino yang kini sudah menaikkan tangannya mengusap lengan Irene dengan lembut.

"Kalo ga bisa tidur biasanya kamu ngapain?"

Sebaris kalimat itu sontak membuat Mino tertawa. Terasa sedikit menggelikan untuk dijawab. Tapi Mino tidak ingin mendebatnya, ia ingin menikmati momen seperti ini. Moment sederhana yang akan menjadi penguat dalam hubungan mereka nantinya.

Karena seorang pria biasanya memang akan selalu mengalah di awal-awal pernikahan right?

"Aku .... Hmmm, ga ngapa-ngapain sih, ya kalo ga bisa tidur emang harus ngapain? Tunggu aja ngantuk nya dateng" Jawab Mino diplomatis. Sesuai dengan logika nya sebagai laki-laki tapi jawaban nya itu malah membuat Irene gemas. Satu tangannya kemudian terlepas dan naik menjawil pangkal hidung Mino yang bangir, kulit tangan Irene terasa panas diwajah Mino.

HARU [ Mino x Irene ] FINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang