Bagi laki-laki cemburu itu tidak harus diperlihatkan, tidak ada dalam kamus hidup seorang laki-laki menunjukan rasa cemburu secara jelas dan blak-blakan. Sesakit apapun rasa cemburu itu membunuh jiwa sekuat itu lah mereka akan berusaha menutupinya serapih mungkin. Serapat mungkin. Bahkan mereka biasanya akan memasang wajah bahagia dan ceria nya dibalik rasa cemburu yang secara pelan menggerogoti rasa cinta.
Laki-laki juga manusia biasa. Memiliki ego dan amarah yang sama besarnya dengan seorang perempuan. Memiliki hati yang juga bisa terluka dan patah. Mereka, juga manusia dengan perasaan yang bisa tersakiti.
Laki-laki juga memiliki hati yang rapuh seperti para perempuan. Beda nya, mereka terlalu tangguh menutupi kelukaan nya, mereka terlalu pintar menutupi rahasia terdalam hati nya.
Seperti Mino. Saat ini. Ia juga terluka, karena fikiran buruknya, karena rasa cemburunya yang teramat besar hanya karena terus terbayang bagaimana cara pria yang Irene perkenalkan dengan nama Choi Minho.
Mino bahkan tidak perlu mengenal lebih jauh siapa itu Choi Minho, karena tanpa berkenalan pun Mino tahu. Pria itu, si Choi Minho itu menyimpan rasa ketertarikan yang lebih pada istrinya. Wanita nya. Irene nya.
Perempuan yang menjadi sesuatu yang berharga dalam hidup Mino. Irene adalah segalanya bagi Mino dan rasanya tidak tenang mengetahui ada pria lain yang dengan jelas tertarik pada perempuannya diluar sana.
"Kenapa lagi sih No?!" Decak Jinu, membuyarkan lamunan Mino disiang hari. Pria Song itu terus saja menatap kanvas putih dihadapannya tanpa menggores apapun di sana padahal Mino sudah duduk di sana selama 2 jam.
"Enggak" Jawab Mino pendek. Ia kemudian menaruh cat nya yang masih bersih dan beranjak bangun meninggalkan Jinu yang mematung dengan nafas ter hela.
"Kalian berantem lagi? Apa lagi kali ini?" Cerocos Jinu melihat kediaman Mino yang lain dari biasanya. Pria Song itu mengedikan bahunya dan berlalu menuju pantry yang berada di sudut ruangan. Mengambil satu cangkir putih dan memasukkan beberapa sendok kopi kedalamnya. Kim Jinu mendecak lagi.
"No... Irene--"
"Tsk ... Biarin, Irene ga bakalan liat" Dengus Mino sebal, tepat setelah ia mengucurkan air panas dari termos elektrik dan mengaduk kopi panasnya dagunya terangkat seketika menatap Jinu dengan tajam. "Kecuali Hyung lapor, dia pasti tau" Gumamnya malas. Pria itu menaruh sendok dengan suara nyaring kemudian berlalu menuju balkon dengan satu cangkir kopi panas nya. Meninggalkan Jinu yang kemudian mendelik tidak suka.
"Makanya kalo belum siap nikah ga usah sok-sokan membina rumah tangga" Gumam Jinu sebal.
"Aku denger ya Hyung"
"Bagus kalo kamu denger! Aku fikir kamu budek?!" Decak Jinu semakin menjadi. Pria Kim itu mendengus dan kemudian berlalu menghampiri Mino yang masih menyesap kopi panasnya ditengah teriknya panas balkon. Song Mino yang melihat kedatangan Jinu hanya mendesah gamang ditempatnya. Sesuatu yang biasa ia lakukan saat mood nya berada dalam mode paling buruk. Jinu melipat kedua tangannya dan mendelik kearah pria jangkung yang masih mematung mendiamkan dirinya. Sementara Mino kemudian menarik nafasnya, mencoba menarik kembali kilasan kenangan malam tadi.
A few hours before
Irene mengerjap lalu buru-buru meremas jemari Mino sekuat mungkin, memberikan pertanda kalau ini bukanlah sesuatu yang istimewa lagi. Persis seperti yang Mino lakukan pada Irene ketika ia menceritakan Soojung.
Mino mendesah, kenapa semuanya jadi terbalik seperti ini. Ia seperti dipaksa merasakan apa yang kemarin Irene rasakan. Merasakan down yang sebenarnya, terluka sekalipun ia sadar itu hanya sebuah kisah di masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARU [ Mino x Irene ] FIN
FanfictionBagi Mino menikah itu bagian akhir perjalanan cinta nya, tapi bagi Irene justru perjalanan ini baru saja dimulai. Nyatanya menikah tidak cukup hanya dengan cinta. story of Mino and Irene HARU December, 2019 ©ziewaldorf
![HARU [ Mino x Irene ] FIN](https://img.wattpad.com/cover/209009764-64-k703561.jpg)