Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gimana?"
"Apanya?" Tanya Wonwoo.
"Ck, kok lu jadi dongo gini sih Nu?" Decak Odoy sambil meminum kopinya.
"Apaan sih gak jelas," Wonwoo mendengus.
Hari Sabtu ini Wonwoo menghabiskan harinya bersama ketiga sahabatnya yaitu Doyoung, Hoshi serta I.M atau sering disapa akrabnya Odoy Oci Ayem sahabatnya sejak bangku sekolah.
"Pusing gua nih." Keluh Wonwoo sambil menerawang ke arah luar cafe.
"Minum obat aja lah," Sahut Oci.
"Kok lu gak nyambung sih?" Odoy nempeleng kepala Oci.
"Apaan sih Odoy freak." Decih Oci.
"Sialan lu."
Ayem hanya menyimak sesekali memakan spaghetti pesanannya ia masih belum bisa berkomentar karena perutnya terasa sangat lapar dan lagi pula Ayem membutuhkan makanan agar cacing di dalam perut tidak meraung-raung terus walaupun sebenarnya ia muak melihat Odoy dan Oci terus-terusan saja bertengkar.
"Jalanin aja dulu pendekatan coba. Lu udah tau kan lagian dia siapa? Gua yakin saran orang tua itu gak akan salah ya walaupun rada berat sih kayaknya." Akhirnya Ayem buka suara.
Gak heran sih Ayem kalo otaknya gak lagi konslet begini emang paling bisa diandelin dalam urusan saran-saran tentang permasalahan hidup atau percintaan.
Cielah percintaan gak tuh.
"Iya sih kalo gua nih ya jadi lu Nu, gua gas dah itu cewe tanpa nunggu lama lagi. Btw gua salah satu gue pengagum dia juga loh!!" Ucap Oci menggebu-gebu sambil melahap rotinya.
"Ya emang! Emangnya Oci si bujangan karatan gak jelas.'
"Wetsss jangan salah Doy gini-gini gue banyak yang ngerebutin nih." Oci berseru dengan gaya tengil andalannya.
"Alah tai tapi hutang lu ke gue gak dibayar-bayar tuh sampe sekarang." Cetus Odoy.
Hoshi menggebrak mejanya kesal. "Gak nyambung tapi emang berapa sih hah berapa hutang gua ke eloh mahluk kelinci yang amat sangat jelek, sini gua bayar!"
"Lu gak boleh body shamming gitu dong dasar macan gak jelas!" Balas Odoy sengit.