Terlambat : Lima

1.4K 180 23
                                        


Jisung mulai sadar kembali, namun yang berbeda adalah dirinya tak lagi berada di lingkungan sekolah. Hyunjin membawanya ke rumah sakit terdekat. Bau obat yang menyengatlah yang menyadarkan Jisung jika ia tengah berada disana.

"Han! Lo udah sadar? Bentar gue panggilin dokter." Di lihatnya temannya itu berlari keluar bilik rumah sakit. Datang lagi bersama dokter.

Sebenarnya, Jisung tidak suka berada disini. Tapi kepalanya masih sangat sakit. Mau tak mau, dia diam menunggu dokter memeriksa kepalanya.

"Benturannya cukup keras, tapi untungnya gak ada yang serius." Sedikit banyaknya Jisung bernafas lega, dia tidak boleh sakit.

Dokter juga menunjukkan hasil rontgen dari kepala Jisung, tidak ada yang retak disana. Benturan keras itu hanya melukai kulit kepala Jisung.

"Tapi untuk sementara, kamu harus istirahat dirumah." Jisung menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dokter selanjutnya.

"Baik dok, terimakasih. Sekarang saya boleh pulang?" Tanyanya langsung pada intinya.

"Boleh, asal kamu kuat."

"Saya kuat dok." Aslinya kepala Jisung masih berdenyut, tapi kelamaan di rumah sakit dia bisa mual.

"Han, mendingan lo istirahat dulu. Sebentar lagi pulangnya." Saran Hyunjin.

"Gue gak tahan disini. Mau istirahat dirumah aja." Tangannya terulur ke arah Hyunjin, tanda meminta tolong padanya. Dan dengan senang hati Hyunjin membantunya berdiri.

Dengan memapah Jisung, keduanya berjalan keluar dari rumah sakit. Tapi belum mereka naik ke dalam taksi, Jisung ingat sesuatu.

"Hwang, biaya rumah sakitnya gimana? Kok kita main keluar aja?" Tanya Jisung kebingungan.

"Udah kok. Lo jangan pikirin itu, ok?"

"Lo yang bayarin?"

"Iya, kan ini tanggung jawab gue. Gue yang udah ngebuat lo jadi gini." Jisung lantas merasa tak enak hati, tapi memang ada benarnya. Dia begini karena ingin menyelamatkan Hyunjin, bukan?

"Gue anterin ya, lo jangan nolak." Jisung kembali mengangguk pasrah.

Saat berada di dalam taksi, ia menyandarkan kepalanya ke belakang. Namun, Hyunjin mengizinkan Jisung menggunakan bahunya sebagai bantal.

"Tidur aja gak apa-apa, nanti gue bangunin." Setelah menyebutkan alamat rumahnya, taksi itu melaju. Membawa Hyunjin dan juga Jisung yang sudah memejamkan mata.

Hyunjin merangkul bahu Jisung, mencoba menyandarkan kepala temannya itu ke dadanya. Ia melirik wajah Jisung yang sedang terlelap. Dadanya bergemuruh, sama seperti saat mereka bertemu dulu. Ah bukan, lebih berdebar sekarang karena wajah damai Jisung yang lelap.





●●●●●







Tidak tega membangunkan Jisung yang tampaknya terkena pengaruh obat, akhirnya Hyunjin menggendong lelaki itu di punngung saat tiba di depan rumah Jisung. Di luar rumah, terlihat Changbin yang duduk di atas motornya. Menunggu Jisung pulang tentunya.

"Woy! Lo apain Jisung?!" Changbin setengah berteriak melihat Jisung yang ada di gendongan Hyunjin.

Hyunjin mengisyarakat Changbin untuk diam. Dia melirik ke arah pintu rumah Jisung. "Bukain pintunya, gue jelasin nanti." Changbin akhirnya menuruti permintaan Hyunjin. Membantu lelaki itu membuka pintu rumah Jisung.

"Loh Jisung kenapa?" Tanya seorang perempuan yang tak lain adalah bibi yang menampung Jisung dan abangnya.

"Dimana kamar Jisung?" Hyunjin memilih mengabaikan pertanyaan perempuan itu. Dengan segera bibi Kim menuntun Hyunjin menuju lantai atas. Perjuangan Hyunjin lumayan berat ternyata.

Terlambat [HyunSung] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang