Pernah berpikir jika hidupmu sebagai pembawa sial? Kali ini Jisung merasakannya. Sejak ia lahir, tak ada yang berjalan dengan baik. Ayahnya kecelakaan saat tergesa-gesa hendak menyusul sang bunda di rumah sakit.
Tepat saat kelahirannya, ayahnya pergi.
Bundanya terpukul, begitu pula dengan kedua abangnya. Saat bayi, bunda Jisung bahkan tak ingin menyentuh anaknya itu. Jisung di rawat oleh bibi Kim, bersama abang tertuanya, Mark.
Dulu saat Jisung kecil, terang-terangan abang keduanya itu mengatakan jika dia penyebab ayah mereka pergi. Hingga Jisung kecil hanya bisa menangis. Tapi bunda mereka pun tak membela Jisung, dia hanya mendiamkan anak usia 5 tahun itu.
Hanya Mark, yang tak pernah berhenti menyayanginya. Namun, Jisung juga tak berhenti menyayangi keluarga kecilnya. Berusaha mencari perhatian pada sang bunda dan abang keduanya. Hingga akhirnya mereka luluh dan menyayangi Jisung.
Ah tidak, mereka sayang pada si bungsu di keluarga mereka itu. Hanya saja, kesedihan yang tidak bisa hilang begitu saja membuat mereka jadi sempat membenci Jisung.
Lalu kini, Jisung kembali merasakan dirinya sebagai pembawa sial. Didepan makam bundanya, ia merenung seorang diri.
Ini semua salahnya.
Dia yang memberitahukan sang bunda jika abangnya punya kekasih lelaki, walau dengan harapan bundanya bahagia. Tapi ternyata bundanya tidak suka dan mengusir abangnya. Dia ikut pergi, sang bunda menderita karena kehilangan dirinya dan juga anak kesayangannya. Dan kini, bundanya pergi.
Sekarang dengan memeluk lututnya dan menundukkan kepalanya, Jisung terisak. Abangnya telah sadar, walau belum sembuh total. Bagaimana cara dia memberitahukan semuanya? Satu-satunya orang yang tak pernah hilang kasih sayangnya, bisa membencinya.
Dari kejauhan, abang keduanya melihat Jisung dengan rasa ibanya. Ia mengerti yang ada di pikiran adiknya itu. Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Ia pun masih sangat kehilangan sosok ibu mereka.
Tapi, ia masih sadar jika yang tengah tenggelam dalam kesedihannya itu tetap adiknya. Ia menghampiri Jisung, duduk di samping adiknya itu sebelum menarik Jisung dalam pelukannya.
"Sstt udah.. bunda udah bahagia bisa sama ayah. Jangan nangis terus, nanti bunda ikut sedih dek." Younghyun mengusapi punggung adiknya itu perlahan. Berharap tangis sang adik mereda.
"Jisung jahat sama bunda bang. Jisung bener-bener bawa sial buat kalian. Jisung.." Younghyun menangkup kedua pipi adiknya itu, mengusap air mata yang masih mengalir.
"Gak ada yang namanya bawa sial dek. Semua udah ada yang ngatur. Maaf kalau dulu abang pernah benci sama kamu, tapi jangan anggap diri kamu begitu lagi dek. Bunda pergi karena memang itu udah takdirnya bunda." Setetes air mata Younghyun kini ikut mengalir saat melihat mata adiknya. Anak itu jelas sangat terluka. Entah bagaimana Younghyun harus meredakan sakit yang ditanggung adiknya.
"Kita hadapi bareng-bareng ya. Kamu boleh bergantung sama abang, jangan nanggung sendiri, ok? Abang sayang kamu dek." Jisung memeluk erat tubuh abangnya. Sedikit semangatnya kembali karena ucapan abangnya.
"Makasih bang. Jisung juga sayang abang." Biarkan mereka saling menguatkan untuk saat ini.
●●●●●
Para pelayat sudah berganti, beberapa teman Jisung juga sudah mulai berpulangan. Hanya tinggal Changbin yang masih menemaninya. Namun, ia sama sekali belum melihat Hyunjin disana. Entah kemana temannya yang satu itu. Padahal jelas-jelas Hyunjin lah yang pertama kali mengetahui berita kematian mendiang bundanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terlambat [HyunSung]
Fiksi PenggemarHan Jisung yang suka sekali terlambat bertemu dengan Hwang Hyunjin yang membawanya pada lembar masa lalu yang ingin ia lupakan. Genre : School-Life, Romance, Hurt-Comfort, Yaoi Main Cast : - Hwang Hyunjin - Han Jisung Support Cast : - Seo Changbin ...
![Terlambat [HyunSung]](https://img.wattpad.com/cover/213172352-64-k704543.jpg)