SISI
Hal terakhir yang kuingat adalah matanya yang hitam dan indah terbingkai bulumata lentik menatapku tajam dan dalam. Ada harapan di sana dan ada janji penuh kesungguhan. Aku memejamkan mataku. Merasakan dahinya di dahiku, hidungnya menyentuh hidungku. Aku berusaha menyimpan memori sentuhan jari tangannya di wajahku.
'Until we meet again, Sisi.', kata-katanya terus berputar di kepalaku. Sebelum akhirnya aku merasakan sakit kepala yang amat sangat. Aku merasakan dunia berputar. Aku membuka mataku, tapi yang kudapat hanya kegelapan. Aku menoleh ke segala arah. Semua tampak hitam pekat. Aku merasakan tangan Digo bergerak terlepas dari genggamanku.
Aku menahan tangannya sekuat tenagaku. Aku mulai menangis ketakutan.
"DIGOOOOO!!!", aku berteriak sekuat tenagaku. Aku mendengar suaraku bergetar diantara isak tangisku sendiri.
"SISIIIIII!!!", aku mendengar suara Digo.
Suara lantangnya perlahan terdengar menjauh. Aku mengulurkan tanganku ke segala arah diantara putaran hitam pekat yang mulai membuatku mual. Aku berusaha menggapai Digo yang aku sendiri tak dapat melihat keberadaannya. Aku membenci kegelapan ini. Kegelapan ini memisahkan aku dan Digo. Air mataku berderai tak tertahankan.
"DIGOOOOO!!!", teriakku lagi.
Kemudian aku merasakan kepalaku terbentur sesuatu. Aku kehilangan kesadaranku. Semuanya tampak semakin gelap, semakin pekat. Aku membiarkan tubuhku terhempas. Aku mulai tak mendengar suara apa-apa. Aku merasa hilang.
------------------------------------------------------
------------------------------------------------------
DIGO? ALI?
"SISIII!!!", aku berteriak sekuat tenaga, aku terduduk tiba-tiba.
Aku merasakan peluh membasahi sekujur tubuhku. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Aku berada di dalam kamarku sendiri. Aku memijat pelipisku, mengingat-ingat mimpi buruk yang mengganggu tidurku tadi. Mengingat-ingat kata apa yang kuteriakkan tadi. Aku menundukkan kepalaku, memandang kalung batu dengan bandul sayap perak diujungnya yang bergelantung lemah di leherku. Lagi-lagi aku tak bisa mengingat mimpi burukku, aku mengumpat dalam hati.
"BRAKKK!!!", aku tersentak mendengar suara pintu yang membuka lebar tiba-tiba.
"ALI?! Kenapa 'Li?", tanya kak Riri yang muncul dari balik pintu kamarku.
"Ya ampun, Kak. Ngagetin gue aja lo.", aku mengomel pada Kak Riri, saudara sekaligus manajerku.
"Lo yang ngagetin gue. Pagi-pagi teriak kayak orang kesurupan. Buruan mandi. Ada shooting iklan.", katanya padaku, lalu menghilang dibalik pintu yang menutup keras karena dibantingnya.
Aku menghela napas berat. Lantas bangkit dari ranjangku dan menyambar handukku sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi. Begini hidup menjadi orang terkenal. Terkadang menjadi seorang aktor dan entertainer bukan hanya berarti gelimang harta dan blitz kamera. Aku merasakan hidupku kosong dan hampa. Ada yang hilang dalam diriku. Namun aku tak tahu apa itu.
------------------------------------------------------
Writer:
Halo readers tercinta!
Gimana part ini menurut kalian? Lanjutan sekuel keduanya lagi aku kerjain. Mudah2an lancar dan aku ngga kena writers block yah.
Semoga kalian suka. Pokoknya wings of alter ego akan aku publish secepat yang aku bisa. Mohon doa dan dukungannya. Votes dan comments sangat berarti buat aku.
Sekali lagi, makasih semuanya ❤
-rizkiadiyati-
KAMU SEDANG MEMBACA
nightingale
Fantasyselama ini sisi menjalani hidupnya sebagai manusia biasa. ia menyelesaikan SMA nya sebagai seorang gadis biasa. hingga pada usia 18 tahun, kedua orang tuanya mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut. sisi adalah seorang peri! gawatnya lagi, sisi...
