10 || REMUK

82 54 3
                                        

Memasuki ruang musik yang cukup dingin, Elysh bisa melihat Dinda dan Pak Gum di sana. Seperti mereka sudah cukup lama menunggunya.

"Maaf, Pak. Udah lama ya nunggunya?" katanya yang mengambil tempat berdiri di sebelah Dinda.

"Tidak apa-apa," kata Pak Gum ramah. Pria yang sudah memutih sebagian rambut dan kumisnya itu bahkan masih mau menebar senyum padanya.

Merapikan beberapa kertas di atas mejanya, Pak Gum mengatur posisi duduknya dengan lebih nyaman sebelum memulai percakapan.

"Baik, jadi alasan saya mengundang kalian berdua ke sini adalah untuk membahas masalah audisi menyanyi yang akan diadakan dua minggu lagi. Seperti yang kalian ketahui, kemarin saya sudah memilih kalian untuk mewakili sekolah dalam kompetisi tersebut. Tapi... dengan berat hati hari ini saya mau mengumumkan bahwa hanya akan ada salah satu di antara kalian yang menjadi perwakilan sekolah."

Baik Elysh maupun Dinda sama-sama terkejut. Keduanya saling memandang tanpa mengatakan apapun, lalu kembali mendengar ucapan Pak Gum.

"Jujur, saya juga kaget mendapat info perubahan audisi yang hanya memperbolehkan mengirim satu perwakilan untuk tiap sekolah." Pak Gum menghela napas berat.

Pria paruh baya itu menatap kedua anak didiknya. "Elysh," panggilnya yang membuat perasaan gadis itu jadi tidak enak.

"I-iya, Pak?"

"Saya minta maaf sama kamu sebelumnya. Tapi, dengan sangat terpaksa saya harus mengundurkan kamu sebagai perwakilan sekolah untuk audisi ini," ucapnya dengan ragu, walau tetap harus dikatakan.

Elysh sudah menduganya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi layu, bak bunga tak pernah disiram air. Ia menunduk dalam sembari menerima kenyataan bahwa ia dieliminasi menjadi perwakilan sekolah mengikuti audisi menyanyi yang sangat ditunggu-tunggunya itu.

"Dan kamu, Dinda. Kamu akan tetap menjadi perwakilan sekolah dalam lomba ini. Saya harap kamu bisa memaksimalkan penampilanmu sampai audisi tiba."

"Keputusan ini saya ambil tidak asal-asalan. Saya selalu mengevaluasi penampilan kalian setiap kali latihan. Dan memang sebelumnya kalian berdua yang terbaik menurut saya sejauh ini. Tapi karena syarat audisi telah direvisi, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa selain memilih salah satu di antara kalian untuk tetap maju mewakili sekolah kita."

Tetap terpilih menjadi perwakilan sekolah tak serta merta membuat Dinda bahagia sepenuhnya. Di sisi lain, ia tak tega melihat Elysh bersedih seperti ini jadinya. Tapi mau bagaimana lagi jika keputusan Pak Gum telah memihak kepadanya.

"Sa-saya mengerti, Pak," sahut Elysh dengan suara paraunya. "Dinda memang pantas untuk mewakili sekolah kita. Saya rasa, dia akan memenangkan audisi ini." Ia menatap Dinda dengan sangat menyemangati.

Begitu keluar dari ruang musik, Dinda mengejar Elysh yang melangkah mendahuluinya.

"El," panggilnya dan meraih lengan gadis itu.

"Selamat ya, Din! Gue senang lo bisa jadi perwakilan sekolah," katanya dengan mengembangkan senyum, walau matanya yang berkaca-kaca tak bisa berbohong tentang perasaannya.

"El, gue-"

"Lo gak perlu ngerasa gak enak atau apapun itu. Karena lo berhak maju dan menangin audisi itu. Gue yakin keputusan Pak Gum gak akan mengecewakan. Jadi, lo gak usah mikirin gue. Gue gak papa, kok." Setelahnya, Elysh berlalu tanpa menoleh lagi.

Dari balik punggungnya, seorang cowok berkacamata datang dan merangkul Dinda. "Hei, ngapain lo sendirian di sini?"

Dinda meliriknya. "Stef...," ucapnya lirih.

"Kenapa lo?"

ʕ•ε•ʔ

Dari kejauhan Caca dan Mutia tampak sibuk mengobrol satu sama lain hingga tak begitu memerhatikan anak-anak lain yang berlalu-lalang di dekat mereka. Alhasil, Mutia yang apes itu pun menabrak Alkana yang muncul dari arah berlawanan.

Buku yang digenggam Alkana pun terlepas dan tergeletak di lantai. Ketika hendak mengambilnya, dua siswa tak dikenal yang berlari-larian di koridor tak sengaja menginjak bukunya begitu saja hingga meninggalkan bekas noda. Membuatnya geram bukan main.

Alkana mengepal kedua tangannya sembari melirik sinis kedua siswa yang sudah jauh itu. Ia menghela napas menahan amarah.

Mutia tampak panik saat melihat buku Alkana seketika rusak. "Al, gue minta maaf. Tapi lo tenang aja. Gue bakal ganti rugi, kok, soal buku lo yang rusak itu."

"Gak perlu," balas Alkana tanpa menatapnya. Kemudian berlalu begitu saja.

ʕ•ε•ʔ

Setelah dari ruang musik, Elysh benar-benar mogok bicara dan tak berniat melanjutkan kegiatan belajarnya. Bahkan saat Della, Juna, dan Rendy bertanya alasan mengapa ia murung pun enggan ia beritahukan. Mungkin Della masih bisa menebak jika kesedihannya berkaitan dengan dirinya yang dipanggil oleh Pak Gum ke ruang musik. Sedangkan Alkana, untungnya anak itu jarang bicara. Jadi, Elysh bisa menenangkan dirinya hingga pulang sekolah.

Menahannya selama beberapa jam di sekolah, akhirnya tangisnya pecah juga ketika di kamar. Ia berteriak sejadi-jadinya karena keputusan Pak Gun yang mengecewakannya yang padahal sudah bersusah payah selama ini berlatih dengan semaksimal mungkin.

"Udahlah, El. Mungkin ini memang bukan kesempatan kamu. Jangan terlalu dipikirin. Nanti yang ada kamu malah stres lagi," kata Clara berusaha menenangkan.

Menarik ingusnya, Elysh berusaha bicara walau sesenggukannya cukup menyulitkan. "Ta-tapi, Ma, masalahnya itu aku pengen banget i-ikut audisi itu. Bu-buat apa coba, a-aku latihan selama ini ka-kalau ujung-ujungnya u-usahaku sia-sia." Lalu kembali merengek.

"Mama tau itu. Tapi Pak Gum juga pasti udah memutuskan semuanya secara matang walaupun dia pasti cukup berat buat ngelepasin kamu sebagai perwakilan sekolah. Intinya, ini semua bukan akhir dari perjuangan kamu. Mama yakin suatu saat nanti kamu akan berkesempatan untuk bernyanyi di depan banyak orang dan jadi penyanyi sekaligus musisi yang terkenal.

"El, kamu tau? Dulu almarhum Papa kamu juga gitu. Sudah banyak kali dia jatuh bangun merintis kariernya sebagai musisi tanah air. Di mana pada saat itu, Mama menjadi saksi atas perjuangannya, sampai dia berhasil mewujudkan impiannya. Itu karena dia mau berusaha, El. Intinya, keberhasilan itu selalu berawal dari kegagalan. Jadi, kalau gagal ya coba lagi," jelas sang Mama panjang lebar sembari bernostalgia mengenang suaminya yang telah wafat.

Benar kata Clara. Papanya dikenal sebagai musisi tanah air yang namanya cukup dikenal orang banyak. Bahkan piagam dan piala penghargaan sudah banyak terkoleksi di lemari khususnya. Itu semua tentu melalui proses yang panjang. Seharusnya Elysh belajar dari almarhum Papanya. Andai saja Papanya masih hidup, pasti ia akan diomeli karena terlalu gampang menyerah.

Menghentikan tangisnya, Elysh memandang Mamanya. "Mama benar. Elysh harusnya belajar dari Papa. Ya, Elysh gak boleh nyerah gitu aja. Mungkin ini bukan kesempatan Elysh, tapi Elysh bakal tunjukkin kalau Elysh bakal dapetin kesempatan lain itu!" ucapnya menyemangati diri sendiri.

Clara tersenyum. Akhirnya putrinya mau mengerti juga. "Pinter!" katanya sembari mengusap pelan rambut anaknya.

"Sekarang kamu hapus air mata kamu. Jangan nangis lagi. Oke?"

"Siap, Bos!" balas Elysh kembali ceria.

ʕ•ε•ʔ

AlkanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang