Part 10 : Es Krim

858 139 191
                                        

Gabriel POV

Suara bising tempat hiburan malam ini sama sekali gak bisa bikin gue tenang. Ya iyalah, adanya malah bikin kuping pekak.

Semenjak Anna meninggal dunia, gue jadi makin sering clubbing bareng Regiel dan kawan-kawan. Terkadang alkohol lah yang menjadi obat gue dari keterpurukan. Melihat cewek-cewek nari striptis juga lumayan. Memang sih awalnya gue gak se liar ini dulu, tapi sepertinya pengaruh Regiel dalam kehidupan galau gue, ternyata benar-benar merubah gue jadi buruk.

"Tumben lo ikut?" tanya gue ke Michael yang sementara menenggak minumannya—tenang aja, Michael hanya minum segelas Mojito tanpa alkohol.

"Buat jagain lo lah," ucapnya dengan nada kesal.

Regiel yang sibuk dengan wanita-wanitanya langsung menatap Michael terkesiap, "gue gak tahu kalo lo homo Mike, kalo gitu udah dari dulu gue kenalin lo sama germo khusus gay."

"Anjing lu! Gak lah, masih doyan perempuan gue." Michael ngegas kemudian menguap. Udah gue duga pasti si Michael yang notabene anak mami pasti nggak tahan kalau harus melek sampe subuh.

Regiel tertawa terbahak, "terus kenapa lo seniat ini sih buat jagain El? Dia udah besar Mike, dia udah tahu mana yang baik dan mana yang enggak."

"Iya emang, tapi dia gak bisa bedain itu semua kalau lagi mabuk."

Gue menarik napas dalam-dalam menanggapi ocehan Michael yang sok tahu.

"Emang kenapa sih?" tanya Regiel yang emang gak tahu apa-apa.

"Dia ngehamilin satu mahasiswi di kampus, gegara ikut lo mabuk-mabukan."

"Dasar ember!" cibir gue sambil menenggak minuman keras langsung dari botolnya.

"Loh kenapa bisa?" Regiel lagi-lagi bertanya. Kepolosannya yang menyebalkan ini semakin buat gue frustasi.

"Gara-gara lo anjir! Gadis yang lo kenalin itu mahasiswi bimbingan gue, menurut Michael dia bukan pelacur, dan dia sekarang hamil gara-gara gue." akhirnya gue pun ikutan ngegas.

"Ha? Mereka beneran PSK, El. Siapa itu namanya, gue lupa... Fella?"

"Rafaella," koreksi Michael.

"Iya itu, dia memang baru tapi temen-temennya udah lama gue kenal, dan bayaran lo udah gue kasih ke temen-temennya itu." Regiel menerawang mengingat kembali kejadian malam itu. "Jadi menurut kalian si Fella bukan pelacur?"

"Rafaella." Lagi-lagi Michael mengoreksi. "Gue yakin seratus persen Reg, Rafaella itu gak seperti itu."

"Tapi, kayaknya Michael bener deh. Dia minum sedikit aja udah mabok, gak kayak temen-temen pelacurnya. Gue juga bisa lihat dari penampilan dan lekuk tubuhnya kalo dia sama sekali belum terjamahkan waktu itu." Regiel memberikan pendapat kemudian berdecih, "kayaknya si Fella emang dijebak temen-temennya sih."

"Iya dia masih perawan," ucap gue sambil menatap kosong ke arah penari striptis. "Sejujurnya, gue bener-bener ngerasa bersalah."

"Gue tahu lo emang brengsek El, tapi ya udah lah jangan menyalahkan diri lo terus, yang penting lo mau tanggung jawab."

Gue yang terharu langsung memeluk Michael. "Gue kemarin bentak Rafaella sampe dia sesak napas Mike."

Michael medorong tubuh gue dengan kasar. Gue yang udah mabuk berat dan gak punya energi hanya bisa terhuyung menghempas sandaran sofa.

"Kenapa bego? Kenapa?" Kalau saja ini film kartun kalian pasti bisa melihat mata Michael yang bagaikan kobaran api.

"Dia telponan sama si temennya itu, yang pernah gebukin gue. Ya gue gak suka lah. Lagian 'kan bentar lagi dia jadi istri gue."

Beautiful MistakeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang