Rafaella POV
Gue ngapa sih?
Ini pengaruh kedinginan apa gimana?
Sama sekali gak bisa gue gambarin lagi gimana rasanya ketika lo dicium, bukan sekedar cium, tapi ini tuh lebih dari itu. Rasanya lebih intim, hangat dan lembut. Gue sama sekali nggak mendapati perasaan seperti dipermainkan atau sekadar nafsu El belaka. Gue ... gue merasa disayang.
Kenapa gue bisa sejatuh cinta ini sih?
Sepertinya udah saatnya gue berhenti buat takut sama dia. Bagaimana bisa gue yang awalanya begitu membenci dia dan sekarang, bahkan mungkin gue udah tergila-gila dengan laki-laki satu ini. Gue kepribadian ganda apa gimana?
Ini adalah pertama kalinya gue berharap seandainya hujan gak berhenti. Gue gak mau kembali ke villa dan gue masih pengen berada dalam pelukan pria dewasa ini.
"Hujannya udah redah, balik sekarang yuk," ajak El masih belum melepaskan pelukannya.
Hujan mah gitu, gak mau diajak kerja sama.
Gue hanya mengangguk kecil namun enggan juga melepaskan pelukkannya.
El tersenyum geli. "Lepas dulu dong."
Gue cuma bisa cengar-cengir kuda karena malu.
Kami akhirnya kembali ke villa dan dikejutkan dengan penampilan konyol Sir Michael yang sepertinya sudah siap berperan sebagai tim penyelamat dengan jaket hujan oversize warna merah dan payung besar warna pelangi.
El tertawa terbahak mengejek penampilan sahabatnya itu. Gue juga gak bisa untuk gak tertawa. Haduh mampus, nanti skripsi gue bisa-bisa dipending nih.
"Gue pikir lo berdua udah ilang dimana astaga." Dengan kasar Sir Michael melepaskan segala atribut konyolnya.
"Lo gak apa-apa?" tanya Gian tiba-tiba keluar dari kamar.
Gue menggeleng namun tidak bisa menyembunyikan cengiran gue.
Gian menatap bingung namun seolah mengerti. "Ya udah," jawabnya rileks sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celana.
Belum sempat bercengkrama lebih dengan Gian, El sudah menarikku masuk ke dalam kamar. Ya elah si bapak.
El kemudian mengisyaratkan gue untuk segera mandi dan ganti baju.
"Atau mau mandi bareng," godanya langsung membuka polo shirt-nya yang basah.
Aih, apa sih?
Gue menutup wajah gue malu. Bener-bener malu. Like, kenapa semudah itu laki-laki satu ini menggoda gue?
El menarik tangan gue. Gak tahu lagi muka gue udah kayak gimana.
Gue akhirnya memberanikan diri menatap wajah El.
Pria itu memiringkan kepalanya menatap gue dengan sayang. Ia tersenyum lembut, tangannya yang besar dan dingin membelai rambut gue ke belakang telinga. Menghantarkan wajahnya mendekat kemudian, lagi, El mencium gue sampai ke kamar mandi.
Lidahnya bermain semakin menjadi, rasanya berbeda. Kali ini El jauh lebih agresif dari sebelumnya. Gue sepertinya akan habis napas. Gue mengeratkan pelukan gue.
Setelah menyalakan pancuran shower, tangannya mulai perlahan bermain ke arah perut gue. Asli, ini kelemahan gue.
Napas kami muai memburu. Dengan gerakan cepat El mulai melepaskan kaos gue yang sedari tadi memang sudah basah sepenuhnya.
Walaupun dihunjani air shower, wajah gue tetap terasa panas. Gue malu karena pria itu kini memandangi gue yang sekarang tinggal memakai celana dan bra kuning bunga-bunga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Romantizm[On Going] Gue ditidurin dosen pembimbing skripsi gue sendiri! Pupus sudah akhirnya impian gue pengen cepetan wisuda, kerja, terus biayain keluarga gue yang miskin. -Rafaella Charlotte Gue gak tahu dia anak bimbingan gue! -Gabriel Farlent Wijaya p...
