Gabriel POV
Dengan mata masih berupa garis, gue paksain diri untuk bangun. Badan gue rasanya mau remuk gara-gara acara semalam. Gue rada menyesal ikut Regiel dan temen-temen minum di bar, tanpa sadar gue sebenarnya udah kecapean minta ampun gegara harus beramah-tamah dengan para tamu.
Hampir aja gue terperanjat ketika melihat siapa yang sementara terbaring di samping gue. Jujur, gue masih belum terbiasa. Kalian pikir aja, udah dua tahun gue tidur sendiri di atas kasur gede-bohong namanya kalau gue gak merindukan seorang teman untuk tidur di sisi gue.
Oh shit!
Apa dia memang kebiasaan pake baju seseksi ini saat tidur? Bayangkan, anak yang baru aja beranjak dewasa ini memakai kaos oversized putih dengan celana pendek yang super pendek-hampir ya, gue kira dia ini gak pake celana. Auto gue embat lah kalo gitu.
Dia juga apa-apaan pake meluk-meluk gue segala, dikira gue gulingnya dia apa?
Manja juga, ya elah. Gue jadi terpesona gini bawaannya.
Demi menyingkirkan naluri alami kelaki-lakian gue, akhirnya gue pun beranjak dari kasur dan bersiap untuk jogging.
***
Gak pernah kepikiran kalau gue harus ketemu lagi dengan si bocil yang siapa sih namanya? Gian?
Jujur aja, gue lumayan menikmati acara jalan-jalan kami sebagai pasangan baru. Ini pertama kalinya juga gue berlibur bersama anak gue William. Melihat William selalu tersenyum dan tertawa senang, membuat hati gue menghangat. Semenjak ada kehadiran Rafa dalam kehidupan kami, gue akui cukup memberikan warna bagi keluarga kecil gue.
Tapi, pas lagi khusyuk menikmati jalan-jalan kami, gue malah dikejutkan dengan kehadiran laki-laki ini. Bisa gak sih ketemunya pas di kampus aja.
Gue orangnya memang dendaman, masih kesal gue gara-gara pernah digebukin sama anak ini.
"Wadoh! sakit hati gue ngeliat pengantin baru lagi jalan-jalan."
Gue menyadarkan kembali pikiran gue ketika mendengar ocehan Michael. Bagaimana bisa ni bocil jalan bareng temen-temen gue?
"Gian! Ya ampun, kenapa lo di sini?" kini Rafa yang dengan hebohnya menghambur ke arah si bocil.
Oke, dia benar-benar merusak pemandangan.
"Diajak sepupu gue, kirain ke nikahannya siapa." Si Gian kini beralih menatap gue. Idih, dia pikir dia sejago apa berani-beraninya natap gue tajam.
"Lah, kenapa gak dateng tadi malam?" Rafa menatapnya dengan tatapan mirip kucing yang ada di film Shrek.
"Males," jawabnya singkat.
Mac dan Michael menjadi hening seketika. Oh, I see. Siapapun pasti sadar kalau laki-laki ini memiliki perasaan lebih pada Rafa.
Gue tersenyum melecehkan, entah mengapa gue merasa menang aja.
Mac berdeham. "El, we're goin' to the bar, wanna join?"
***
Setelah menyerahkan William pada Mama, gue pun ikut bersama Mac dan Michael. Gue baru tahu si bocil ternyata adalah sepupunya Mac. Gue menarik napas panjang, betapa sempitnya dunia ini.
"Eh, mau kemana?" gue tanpa sadar mencekal tangan Rafa.
Gue melepas tangannya dengan canggung. Kenapa sih El? Malah jadi kaku gini.
"Mau kemana, hmm?" tanya gue sekali lagi dengan penuh tekanan.
"Itu ... Mau duduk di deket kolam sama Gian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Romance[On Going] Gue ditidurin dosen pembimbing skripsi gue sendiri! Pupus sudah akhirnya impian gue pengen cepetan wisuda, kerja, terus biayain keluarga gue yang miskin. -Rafaella Charlotte Gue gak tahu dia anak bimbingan gue! -Gabriel Farlent Wijaya p...
