Gabriel POV
"Halo Mike."
"Apa? Apaa? Ganggu aja lo gua lagi di jalan ini sambil nyetir," keluh Michael di seberang telepon.
Satu-satunya orang yang terpikirkan oleh gue adalah si Michael. Gue pikir inilah akhir dari hidup gue. Gak ngerti lagi harus gimana.
Gue pun hanya bisa mengacak-acak rambut gue dengan kasar, jadi ingat kalau hari ini gue belum sempat mandi.
"Anak itu hamil Mike," kata gue dengan pelan saking masih nggak percaya dengan kenyataan.
"Apa? Lo ngemeng apa sih?" Akhirnya si Michael hanya membuat gue kesal.
"Hamil Mike, si Rafaella hamil!" teriak gue hingga Mbak Sumi yang lagi bermain dengan William menoleh ke arah gue dengan penasaran.
"Anjir lo El. Gue hampir celaka gara-gara lo," umpat Michael seperti sedang kesetanan.
"Gue harus gimana?" tanya gue putus asa.
"Gue otw sana, jangan kemana-mana lo."
***
Gue yang tengah menyibukan diri dengan bermain bersama William dikagetkan dengan kedatangan Michael yang tanpa permisi udah langsung nyosor masuk ke dalam kamar.
"Sekarang lo jelasin semuanya," tuntutnya nggak sabar. "Eh, ada baby Will. Lagi main sama daddy yaa?" William berhasil mengalihkan perhatian Michael.
Dia ingin menggendong William namun dengan segera gue melarangnya. "Jangan peluk William, lo terlalu kotor."
"Lo yang lebih kotor dari gua El."
Gue pun langsung menidurkan William di atas kasur king size gue dan mengajak Michael keluar dan mencari spot terbaik untuk membahas masalah kehidupan berat ini bersama-sama.
Kami pun berhenti di taman belakang tempat biasanya gue ingin berjemur matahari.
"El, fix ya lo tuh nggak normal. Lo mau jemur gue kayak ikan asin di sini?" sungut Michael yang hanya membuat gue mendengus kesal.
"Udahlah Mike duduk aja. Ada pembantu gue di dalam jadi kita ngobrolnya di sini aja."
Ia pun hanya manggut-manggut sok ngerti sambil menunggu gue menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
"Jadi ya kayak gitu Mike, gue ternyata hamilin dia."
"Kan gue bilang apa, lo jangan terlalu ikut-ikutan sisi buruknya Regiel dong. Tiap malam main ke club, dan akhirnya apa? one night stand lo gak berhasil kan, ujung-ujungnya lo harus tanggung jawab karena dia hamil. Lo juga geblek sih gak safety first."
Awalnya gue emang sering ikut Regiel minum-minum di club, tapi gue sendiri juga gak nyangka bisa tergoda dengan gadis itu.
"Lo bener Mike, gue bener-bener goblok."
"Dan yang lebih buruk lagi, Rafa itu statusnya masih pelajar, dan lo itu dosennya. Mana moral lo sebagai pengajar El."
Gue membenamkan wajah gue di telapak tangan. Gak bisa dipungkiri bahwa yang dikatakan Michael benar.
"Gue harus gimana Mike?"
Michael menarik napas dengan berat. "Ya lo harus tanggung jawab dong, Gabriel Wijaya."
Itu pun gue juga tahu, tapi masa sih gue harus nikahin anak itu? Semua ini terjadi begitu cepat dan gue sama sekali belum siap. Walaupun logika gue lebih cepat jalan daripada perasaan gue, tapi gue juga salah satu laki-laki yang mengakui bahwa, pernikahan itu harusnya diawali dengan yang namanya cinta.
Dan permasalahannya adalah gue nggak cinta sama dia.
"Mike, coba deh lo pikir. Gue udah duda dan beranak satu pula. Emangnya lo pikir orangtuanya dia bakal setuju gitu?" keluh gue sambil melamun meratapi nasib.
"Bilang aja lo gak siap El. Kalo lo sayang sama dia dan anak yang ada di dalam kandungannya lo harusnya gak bakal peduli dengan status lo sekarang."
"Gue belum punya perasaan kayak gitu ke dia Mike. Lo tahu lah apa yang menimpa gue sebelum ini."
Michael menepuk jidatnya frustasi. Gue tahu Mike, gue emang keras kepala. "Gini deh, anak itu punya masa depan dan lo udah ngerebut itu dari dia, dan sekarang dia sedang mengandung darah daging elo sendiri. Katakanlah lo nikah sama dia karena kasihan, ya udah nggak apa-apa setidaknya lo punya perasaan buat dia walaupun itu cuma sebatas kasihan."
Sekali lagi gue cuma mau bilang kalo Michael bener. Gue sama sekali nggak nyangka bahwa sikap Michael bisa lebih dewasa dalam hal ini dibanding gue.
"Thank you bro. Lo emang sahabat sejati gue," ucap gue tulus sambil memeluknya. Michael pun sok sokan merasa jijik. "Anyway, gue udah ngajak dia tinggal di sini."
"Uhuk.. uhuk." Michael langsung terbatuk dengan lebaynya. "Gercep juga lo. Ini tandanya lo bisa tulus sayang sama dia suatu saat nanti."
"Serah deh."
***
Awkward. Bener-bener awkward.
Entah gimana caranya gue ngomong ke dia kalau sekarang ini juga gue akan membawanya menemui Mama.
'Halo, Rafaella. Tolong dong siap-siap sore ini kita ketemu Mamaku.' Kayaknya gak mungkin deh gue ngomong begitu.
Ah, shit. Awkward.
"Uhm, lagi apa sir di depan pintu? eh maksudku El."
Anjir! Kaget dong gue. Tiba-tiba aja dia muncul.
Salah gue sendiri sih berdiri di depan pintu kamarnya dia.
Dan sepertinya kekagetan gue bertambah dua kali lipat melihat gadis itu berdiri di hadapan gue dengan rambut basah, pakaian tipis dan celana pendek. Mau gak mau gue pun dibuat nelen ludah sendiri melihatnya.
Sesegera mungkin gue menyadarkan diri jangan sampai junior di bawah sana bertingkah hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kamu siap-siap, kita ke rumah orangtuaku sekarang juga," titah gue dengan nada sok dingin.
"Ta..tapi saya belum siap."
Gue menatapnya dengan kesal. "No excuses. Pokoknya lima menit dari sekarang."
"I..iya saya siap-siap dulu," jawabnya takut-takut dan segera menutup pintu untuk bersiap-siap.
Apa gue terlalu kejam kali ya? Tapi gue emang nggak suka orang yang nggak bisa nurutin gue. Memang kesannya gue egois tapi, inilah tembok yang gue bangun selama ini. Gue paling benci sama orang yang memandang rendah gue.
Jarak rumah gue dengan rumah mama memang lumayan jauh dan gue sama sekali nggak nyangka gadis itu akan tertidur sepanjang jalan. Ia nampak lelah namun kecantikannya sama sekali nggak berkurang sedikit pun. Ah gue mikir apa sih.
"Ma, ada yang mau kukenalin sama Mama," kata gue tanpa basa-basi ketika sampai di rumah yang ditinggali Mama dan adik laki-laki gue.
Ekspresi Mama yang masih shock atas kedatangan gue hanya manggut-manggut sambil mempersilahkan gue dan Rafaella masuk.
"Ada apa sih El? Kok nggak ngabarin Mama dulu."
"Aku mau bicarain hal penting sama Mama, sekalian juga sama Felix kalo dia di rumah," jelas gue dengan serius.
Mama pun yang masih bingung beranjak dari duduknya dan memanggil adik gue—Felix di kamarnya.
"El? Kapan datangnya?" adik gue memang usianya nggak terlalu jauh dari gue, itu pun sebabnya kenapa dia sama sekali nggak pernah manggil gue dengan sebutan kakak.
"Baru aja," ucap gue sambil memeluknya.
"Jadi El, tadi apa yang mau dibicarain?" tanya Mama nggak sabaran.
Gue pun yang ngerti dengan rasa penasaran Mama hanya bisa menarik napas panjang sebelum menyampaikan tujuan gue datang jauh-jauh ke rumah.
"Aku mau menikah lagi Ma."
TBC
next dong yaaa?^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Romansa[On Going] Gue ditidurin dosen pembimbing skripsi gue sendiri! Pupus sudah akhirnya impian gue pengen cepetan wisuda, kerja, terus biayain keluarga gue yang miskin. -Rafaella Charlotte Gue gak tahu dia anak bimbingan gue! -Gabriel Farlent Wijaya p...
