Rafaella POV
Gue menatap indahnya matahari terbit melalui jendela kamar.
Sampai sekarang gue masih belum berani ngasih tahu bunda kalau gue udah hamil di luar nikah.
El emang berniat tanggung jawab. Mungkin gue bersedia menikah dengannya. Tapi, jujur gue gak ngerti dengan perasaan gue sendiri.
Flashback on
"a-are you okay?"
Air mata gue mulai mengalir dari pelupuk mata. Napas gue bener-bener sesak dan gue gak tahan lagi ingin melarikan diri dari semua ini.
Kalau saja gue gak ke club malam itu, hal ini sudah pasti gak akan menimpa gue.
"Ma-maaf," ucapnya pelan kemudian membawa gue dalam pelukannya.
Isakan gue mendadak berhenti, napas gue pun mulai kembali normal.
Kenapa bisa dia mempermainkan gue seperti ini? Sebenarnya kepribadian El itu seperti apa? Gue gak ngerti Tuhan.
"Minum dulu airnya, dan tidurlah. Saya nggak akan ngapa-ngapain kamu." Setelah El melepaskan pelukannya, ia memberikan gue minum kemudian menyelimuti gue dengan selimut.
Akhirnya gue pun tertidur di sampingnya masih dengan air mata yang menggenang.
Flashback off
"Raf," Panggil Gian dengan nada frustasi. "Gue nyariin lo di mana-mana. Gue ke kosan lo, lo-nya gak ada, nomor telepon lo juga gak aktif. Sebenernya ada apa sih?"
Pukul tujuh pagi gue udah nongkrong di kantin kampus. Gue bener-bener males untuk sekedar melihat wajah El, gue masih kesal dengan perbuatannya kemarin. Dia pikir dia siapa bentak-bentak gue terus larang-larang gue berhubungan sama Gian.
"Gi, gue capek bahasnya," ucap gue lemah sambil menyandarkan kepala gue di meja kampus. "Gue ngantuk, bangunin gue kalo kelas udah mau mulai."
Gian hanya menghembuskan napas dengan gusar.
"Apa masalah ini menyangkut dosen sialan itu?" tanyanya membuat gue mau gak mau mengangkat wajah.
Padahal hampir aja gue mau ketiduran.
"Bener kan?" tanyanya lagi memastikan.
Gue pun cuma bisa mengalihkan pandangan gue ke arah Mang Benu yang sementara membersihkan rerumputan kering di taman kampus.
"Gi, lo punya kenalan yang bisa bantuin aborsi gak?"
Hening.
Tatapan Gian saat itu benar-benar menyeramkan. Terbesit perasaan kaget dan campur aduk dalam manik matanya yang gelap.
"Becanda Gi," ucap gue pada akhirnya.
Masih Hening.
"Ah, ela. Becanda gue. Serius bener sih." Gue pun terpaksa tertawa.
"Lo gak hamil kan Raf?"
"Gu-gue..."
Gian meraih tangan gue kemudian menggenggamnya erat. "Jawab gue Raf."
Rasa putus asa yang selama ini gak pernah gue ungkap keluar begitu aja. Lagi-lagi gue menangis karena nasib. Apalagi yang lebih buruk dari ini, masa depan gue bener-bener sudah hancur.
"Gi... gue harus gimana?" isak gue sejadi-jadinya.
Gian mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Bener-bener harus mati tu orang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Romance[On Going] Gue ditidurin dosen pembimbing skripsi gue sendiri! Pupus sudah akhirnya impian gue pengen cepetan wisuda, kerja, terus biayain keluarga gue yang miskin. -Rafaella Charlotte Gue gak tahu dia anak bimbingan gue! -Gabriel Farlent Wijaya p...
