[On Going]
Gue ditidurin dosen pembimbing skripsi gue sendiri!
Pupus sudah akhirnya impian gue pengen cepetan wisuda, kerja, terus biayain keluarga gue yang miskin.
-Rafaella Charlotte
Gue gak tahu dia anak bimbingan gue!
-Gabriel Farlent Wijaya
p...
Entahlah, gue rasa kehidupan gue bener-bener udah kayak sinetron. Bayangin aja anak miskin kayak gue, dikerjain temen-temennya—eh, bukan temen sih. Terus, kebablasan gituan sama dosen sendiri dan akhirnya harus nikah sama si dosen. Yang paling parah dari semuanya, keluarga gue yang miskin dan terzalimi, ditolong sama si dosen tajir yang alias calon suami gue.
Untung lah si El gak tua-tua amat. Kalo diliat-liat masih cocok lah sama gue. Walaupun mungkin aja gue kelihatan kayak sugar baby-nya dia.
Omong-omong soal calon suami. El, dosen pembimbing skripsi gue—Gabriel Farlent Wijaya—resmi menjadi suami gue hari ini. Alamak! Hati ini masih sulit untuk percaya.
Kalian mau tahu gimana reaksi Bunda ketika tahu status El yang sebenarnya? Speechless guys speechless. Ya, mau gimana lagi. Bunda juga udah iyain tinggal di salah satu unit apartemen milik El, mau gak mau Bunda pun setuju gue menikah.
Resepsi yang dilangsungkan di pesisir pantai The Laguna Bali, benar-benar mewah. Memang yang hadir kebanyakan adalah kerabat terdekat El. Keluarga satu-satunya gue yang hadir cuma Bunda dan Sera, gue gak mau lagi mikir soal Ayah, mau dia ke mana kek, ngapain kek, terserah. Gue masih gak senang dengan perlakuannya ke Bunda.
Dengan canggung, El mengulurkan lengannya untuk gue gandeng. Gue mengenakan Royal Dress dengan warna baby blue. Sebenarnya, gue sama sekali nggak memilih pada saat fitting—El lah yang memilih semuanya. Namun, gue gak bisa bilang gak suka karena semua yang dipilih El ternyata gue juga suka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Ekstra aja sih, kira-kiradressnya Rafa kek gitu)
Gue pun melambai ke arah Bunda dan Sera. Senangnya gue bisa melihat eskpresi bahagia mereka, mungkin karena ini adalah kali pertama Bunda dan Sera ke Bali—sama sih gue juga baru pertama kali.
"Sera udah makan Bun?" tanya gue ke Bunda yang ternyata lagi asyik berbincang dengan Mamanya El. Gak butuh waktu lama untuk mereka mengakrabkan diri, mengingat pembawaan Tante Marie yang easy going.
"Udah kok. Sera masih malu-malu, tapi makannya banyak." Bunda tersenyum sambil membelai rambut pendek Sera.
Tiba-tiba aja sebuah sentuhan lembut menyentuh pergelangan tangan gue.
"Eh William. Sini, Kakak gendong." Gue pun tersenyum senang ketika William, yang dengan polosnya menghampiri gue.
"Lah Raf, udah bukan Kakak lagi kan sekarang," goda Mamanya El.
Gue pun hanya tersipu malu sementara El yang berdiri di belakang gue hanya berdeham gak jelas.
"Udah ah Ma, aku mau kenalin Rafa ke teman-temanku dulu." El pun melenggang dari meja keluarga setelah mengkode gue untuk mengikutinya.