Part 18 : Dinner

571 49 81
                                        

Gabriel POV

Tiba-tiba gue teringat pengalaman pertama gue mengantar Anna untuk mengecek kandungannya di rumah sakit.

Perasaan sedih, tentu aja masih bisa gue rasain. Waktu itu, Anna benar-benar bahagia, karena pada dasarnya waktu itu Anna tidak dalam kondisi siap untuk mengandung.

Gue jadi parno sendiri karena khawatir dengan keadaan anak kedua gue yang sekarang berada di dalam kandungan Rafa.

"Gimana?" tanya gue ketika Renata selesai melakukan tindakan USG.

Renata tersenyum sambil membantu Rafa turun dari brankar. "Sehat El, lo tenang aja. Gue bisa lihat kok kalau ibunya selincah ini, anaknya juga pasti sehat."

Gue menghembuskan napas lega.

"Mulai sekarang perbanyak makan makanan sehat ya, gue juga resepin beberapa vitamin untuk Rafa. Jangan bikin Rafa stres juga ya El, tempernya dijaga." Renata kembali menjelaskan sambil menulis resep vitamin untuk Rafa.

***

Setelah menjemput William di rumah Mama, kami sempat berbelanja ke supermarket untuk bahan makanan seminggu. Gue udah lama nggak pernah belanja sendiri, biasanya cuma ngasih uang belanja ke Mbak Sumi dan kulkas sudah pasti langsung lengkap.

Berasa kayak suami istri deh gue sama Mbak Sumi.

"Mau makan apa?" tanya gue ke Rafa yang sepertinya udah tiga kali bolak-balik buka kulkas, ni anak kelaparan apa giamana sih?

"Es krimnya udah abis?" tanyanya yang masih terpaku pada isi kulkas.

Gue menarik napas. "Makan siang dulu lah, es krimnya entar."

"Tapi pengennya sekarang. Es krim mangga." Gadis itu mengeluarkan suara setengah memelas.

Gue mengerutkan kening berusaha menyembunyikan senyuman yang ingin meluap begitu aja.

"Duduk dulu di situ." Gue menunjuk ke arah meja makan dekat pantry. "Biar kubikinin dulu."

Wajahnya langsung berseri. "Masa sih bisa bikin es krim sendiri?"

Gue gak menjawab dan hanya menyibukan diri dengan mempersiapkan bahan-bahan untuk es krim, dan tanpa gue sadar, William sudah ikutan duduk di kursi makannya.

Hati gue seketika menghangat ketika melihat Rafa sementara asyik bercanda bersama William. Pemandangan baru buat gue. Seandainya Anna masih ada.

Gue menggeleng cepat. Ini adalah kehidupan baru yang harus gue terima.

"Kamu udah lama jadi dosen?" tanya gadis itu tiba-tiba.

Gue menghentikan kegiatan potong-memotong mangga. "Sama lah kayak Michael."

"Kok aku gak pernah lihat kamu? Sir Michael mah terkenal banget."

"Kamu aja yang sering bolos kelas."

Rafa mendengus kesal. "Yee! Aku tuh mahasiswi paling rajin seantero angkatan."

Gue menahan tawa, kemudian hanya mengangkat bahu.

"Es krimnya harus didinginin dulu," ucap gue sambil menaruh satu bowl besar berisi es krim mangga di dalam kulkas. Gue bisa melihat raut wajah Rafa yang berubah kecewa. Entah sejak kapan ekspresi itu sudah menjadi favorit gue.

"Raf," ucap gue pelan.

Wajahnya berubah merah padam. Jarang sekali gue manggil nama dia.

"I-ya?" jawabnya terdengar gugup.

Gue membawa makanan bayi William kemudian duduk berhadapan dengan mereka. Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut kecil William.

Gue tersenyum, "Mau berkencan?" tanya gue sambil memalingkan pandangan dari anak gue ke Rafa.

Beautiful MistakeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang