K.will - Love Blossom
Gabriel POV
Mata Rafa mengerjap bingung setelah gue memarkirkan mobil di garasi sebuah rumah besar bergaya Mediterania.
Hari ini kami—sekeluarga, diundang ke pesta welcoming party-nya Mac di kawasan Bojongsoang. Gue juga sengaja menjemput Sera untuk ikut dengan kami, kata Mac sekalian dibawa aja biar dia bisa sekalian melihat kondisi Sera.
Semenjak keluarganya meninggal, Mac langsung melanjutkan S2-nya di London, itulah alasan mengapa ini adalah kali pertama kami mengunjungi tempat tinggal Mac.
"Kenapa?" tanya gue ketika Rafa hanya diam tanpa tanda-tanda ingin keluar dari mobil. "Ayo turun."
"Beneran ini rumahnya Kak Mac?"
Kak Mac? Kok gue agak terganggu dengan cara Rafa memanggil Mac.
Gue pun gak menjawab dan hanya mengambil Will yang duduk manis di baby car seat. Sera juga ikutan keluar sambil mengekor di belakang kakaknya.
Ternyata nggak banyak yang diundang Mac, rata-rata adalah teman sekampus kami dan beberapa rekan sejawatnya. Michael juga sudah datang, dia memang nggak bisa absen kalau acara beginian, tujuannya adalah ingin tebar pesona selagi masih lajang.
"Dateng juga si keluarga baru." Michael langsung nyosor mencubit pipi Will dengan gemas.
"Udah cuci tangan belum? Nanti anak gue sakit lagi," ujar gue menjauhkan William dari tangan Michael.
Ia berdecak sebal. "Udah ihh, bersih nih, sebersih hati dan pikiran gue."
"Hai El, wah William juga ikutan. Sini gue aja yang gendong biar lo bisa nyantai sama geng teletabis lo." Rena—salah satu teman lama gue menghampiri kami kemudian mengambil William dari gendongan gue.
Profesi Rena yang juga sebagai dokter membuat gue lebih yakin kalau William sudah berada di pihak yang terpercaya. Dibanding Michael ya kan.
"Jadi ini istri kamu? Manis juga. Kenalin aku Rena." Rafa menyambut uluran tangan Rena dengan senyuman canggung. Gue yakin ia pasti kurang nyaman berada di pesta yang hampir semuanya kenalan dan teman-teman gue.
"Rafaella." ucapnya pelan. "Saya permisi ke toilet dulu Tante." Tanpa menatap gue Rafa langsung berlalu menuju ruangan kecil di dekat pantry.
Ada yang aneh. Sang tuan rumah bahkan belum pernah menunjukan letak toilet di mana, namun Rafa kelihatannya seperti sudah hafal dengan tata letak ruangan di rumah besar ini.
Gue yang bahkan sibuk dikerjain Mac dan kawan-kawan untuk mengiris bawang bombai demi barbeque malam nanti, bisa menangkap Rafa yang menggandeng Sera masuk ke dalam satu kamar.
Ngapain astaga!
Gue langsung melepas bawang bombai tersebut kemudian berlari menuju kamar yang dimasuki Rafa.
Betapa kagetnya gue, Rafa sementara bermain PS bersama temannya si Gian. Kenapa si curut ada di sini sih?
Oke gue ingat, dia adalah sepupunya Mac. Tapi masa mereka tinggal serumah? Pantes aja Rafa hafal betul tiap titik yang ada di rumah ini, ia bahkan leluasa sampai bisa dengan santainya bermain PS di dalam kamar laki-laki ini. Gue ulangin, kamar laki-laki ini.
Kalau gak mengingat situasi yang sedang ramai-ramainya, udah gue tarik tuh si Rafa.
"Kenapa El?" tanya Mac yang kini sudah berdiri tepat di belakang gue.
"Oalah, untung ya si Rafa ada Gian yang temenin," kata Mac ketika mendapati apa yang sementara gue lihat. "Ayolah El, biarin aja dulu mereka. Gian gak bakal apa-apain Raf kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beautiful Mistake
Romance[On Going] Gue ditidurin dosen pembimbing skripsi gue sendiri! Pupus sudah akhirnya impian gue pengen cepetan wisuda, kerja, terus biayain keluarga gue yang miskin. -Rafaella Charlotte Gue gak tahu dia anak bimbingan gue! -Gabriel Farlent Wijaya p...
