Part 4 : Stubborn

1.1K 246 260
                                        

Gabriel POV

Pikiran gue bener-bener kacau sekarang. Kenapa gue bisa se goblok ini sih.

Bisa-bisanya gue nidurin mahasiswi gue sendiri. Tapi, ya udahlah. Sebenernya bukan salah gue juga ya kan? Lagipula gue gak tahu kalau dia itu mahasiswi di kampus ini dan bisa-bisanya takdir mempertemukan gue dan dia sebagai mahasiswi semester akhir dan dosen pembimbing skripsi.

"Saya gak peduli Sir itu dosen apa bukan. Yang pasti saya tidak terima teman saya diperlakukan seperti itu."

Gue sengaja menyeret bocah satu ini ke atas atap kampus. Gue gak mau siapapun tahu mengenai masalah ini, kecuali Michael yang udah terlanjur gue kasih tahu.

Bibir gue mulai terasa perih akibat pukulan bocah ini. Rasanya tangan gue udah gatel banget pingin bales nonjok, tapi gue mengurungkan niat itu karena bisa-bisa martabat gue jatuh Cuma gara-gara kepancing sama bocah ingusan kayak dia.

"Itu tidak sepenuhnya salah saya. Salah teman kamu kenapa mau jadi perempuan bayaran."

Satu tonjokan, dua tojokan, bahkan tiga tonjokan berhasil menghantam perut gue.

"Brengsek! dia bukan perempuan seperti itu!"

Gue capek, tubuh gue mulai terasa nyeri. Dengan sigap gue menghardik pukulannya. Dia gak tahu aja gue sempat jadi pelatih taekwondo.

"Kamu tidak berhak ikut campur urusan saya," geram gue dengan emosi meledak-ledak. Kalo aja dia bukan mahasiswa gue, udah pasti masuk rumah sakit ni bocah.

***

Akhirnya gue berhasil menahan nyeri sampe rumah. Dipikir enak gitu nyetir sehabis digebukin?

"Loh, Mama?" ucap gue kaget ketika nyokab gue sedang bermain dengan anak gue di ruang tamu.

"El? Ya ampun. Muka kamu kenapa?" Mama menghampiri gue dengan tatapan super khawatir.

Emangnya seburuk itu ya tampilan gue sekarang?

"Ada lah ma, masalah yang gak bisa kuceritain," ucap gue sambil berpaling meraih anak gue yang sedang digendong asisten rumah tangga.

Mama dengan kepanikannya bergegas mengambil handuk basah untuk mengompres sudut bibir gue yang kayaknya lagi berdarah. Ia memang wanita yang baik, gue benar-benar bersyukur, Mama yang tinggal bersama adik laki-laki gue sering berkunjung ke rumah setelah mendiang istri gue meninggal.

Dengan begitu gue gak perlu terlalu khawatir dengan William karena Mama selalu siap memberikan waktunya untuk mengawasi cucu kesayangannya itu.

William yang berada dalam gendongan gue tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.

"Ada apa sayang?" tanya gue lembut sembari menepuk-nepuk punggung kecilnya.

"Daddy..." erangnya masih menangis.

Mama mengambil William dari gendongan gue. "Udah kamu masuk kamar aja dulu, William tuh sedih lihat muka kamu luka-luka begitu."

Gue gak bisa menyembunyikan rasa haru gue. Kenapa anak gue bisa segemes itu sih?

Setelah menghembuskan napas lega, gue pun bersyukur karena masih punya Mama di dunia ini. Gue sama sekali gak berbakat dalam mengurus anak, kadang gue pun nggak mengerti kenapa William bisa tiba-tiba menangis dan kadang tertawa-tawa. Bahasa bayi kayaknya memang begitu kali ya.

Duda keren gini mah bisa apa.

"Oh ya El. Tadi Mama ditelepon Alice, katanya mau ketemu kamu. Kalau Alice telepon ya diangkat dong El."

Perkataan Mama menghentikan langkah gue ketika sedang menaiki anak tangga ke lantai dua.

Alice adalah saudara kembar Anna—almarhuma istri gue. Sejak Anna meninggal saat melahirkan William, gue benar-benar putus kontak dengan siapapun yang berhubungan dengan Anna.

Gue gak mau mengigat lagi saat-saat Anna masih hidup, karena hal itu hanya membuat gue jadi makin rapuh. Kami benar-benar pasangan yang bahagia kala itu, lebih bahagia lagi saat ia mulai mengandung anak pertama kami William. Tak kala gue sering bikin dia kecewa dengan perhatian gue yang cenderung kurang karena gue tipikal workaholic. Gue menyesal, sampai akhir napasnya gue gak pernah ngasih kebahagiaan yang cukup buat dia.

"Ia Ma, nanti kuhubungi," ucap gue singkat sambil berlalu.

***

Michael tertawa terbahak-bahak sehingga seisi penghuni kafe tersebut menatap kami dengan tatapan ilfil.

Monyet satu ini memang gemar sekali mempermalukan gue.

Tawanya seperti tidak bisa berhenti menggelegar saat tahu sebuah fakta bahwa gue baru saja dipukulin mahasiswa gue sendiri.

"Kok lo bisa kalah sih sama anak itu?" tanyanya untuk kesekian kali.

Gue memutar bola mata gue dengan jenuh. "Ya kali gue bales mukul dia. Yang ada malah gue masuk penjara Mike."

Michael mengangguk-angguk setuju. "Lu sih, main sembarang nidurin cewek. Cari pacar dong bro."

"Mana ada yang mau sama gue, duda beranak satu," ucap gue sambil bersedekap.

"Ya banyak lah El. Pertama lo tajir, kedua wajah lo lumayan, ketiga lo tajir."

"Harus ya tajirnya diulang-ulang?" ucap gue sarkas.

Michael tidak lagi melanjutkan ledekannya, kini wajahnya berubah serius sambil membuang puntung rokoknya di asbak. "Terus lo mau gimana sama anak itu?"

"Siapa?" tanya gue dengan kepolosan murni bak air mineral.

"Rafaella."

Gue terdiam. Belum pernah kepikiran gue harus gimana.

"Gue gak tahu Mike," ucap gue lemah.

"Ehm, maaf permisi. Ini pesanannya dua iced americano."

Mata kami terpanah melihat siapa pelayan yang membawakan pesanan kami. Ya, anak itu. Rafaella. Mahasiswi gue.

Wajahnya berubah pucat pasi ketika menyadari bahwa pelanggan yang sedang dilayaninya adalah kami berdua, dosennya. Terlebih karena ada gue.

"Rafaella?" Michael juga menampakkan keterkejutannya. "Kamu kerja di sini?"

"Ehm.. iya." Jawabnya singkat disertai kegugupan yang pasti sulit dijelaskan. "Maaf saya permisi dulu."

Kini padangan Michael beralih ke gue. "El, tega-teganya lo ngerusakin anak sepolos dia."

Tiba-tiba kepala gue terasa pening. "Gue gak tahu Mike, gue gak tahu," tekan gue. "Lagian kalau dia anak baik-baik ngapain bergaul sama perempuan bayaran."

Michael juga terlihat frustasi. "Dia mahasiswi favorit gue El. Gue tahu banyak tentang dia. Rafaella itu gak bisa dibilang jenius atau berbakat. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mati-matian mempertahankan beasiswanya. Nggak mungkin anak sebaik itu bisa jadi perempuan bayaran."

Napas gue terasa berat. "Bisa aja buat duit tambahan kan Mike."

"Lo emang keras kepala El."

Hai, ada gak sih yang nungguin cerita ini, kayaknya udah berbulan2 ya?

TBC

Beautiful MistakeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang