Part 2 : That's Him

1.4K 273 352
                                        

Rafaella POV

Tiap manusia pasti punya titik terburuk dalam perjalanan hidupnya bukan?

Nah menurut gue, saat inilah titik terburuk kehidupan gue. Bahkan gue udah tiga hari absen dari kelas, sejak TK gue sama sekali gak pernah absen kecuali kalo sakit.

Jujur gue trauma.

"Raf!" teriak Gian dibalik pintu kos gue. "Buka dong, kok lo ngilang gini sih?"

Gue mendengus kesal. 'Ini gara-gara lu tau.'

"Hari ini sidang proposal, kalo lo gak dateng bisa-bisa lo harus kontrak skripsi tahun depan."

Anjir, gue lupa.

"Tunggu gue siap-siap dulu, lo tunggu di luar."

Gue bangun dari kasur dan menatap bayangan gue di kaca. Sumpah kacau banget, kantong mata gue sama sekali udah gak bisa tertolong lagi. Anyway, gue juga butuh keramas.

***

"Lo kenapa sih?" tanya Gian untuk kesekian kalinya.

"Lu diem, gue gak mau cerita."

Gian menyerah dan menghempaskan dirinya ke tempat duduk di sebelahku, kami sedang mengantri giliran untuk sidang proposal dengan masing-masing pembimbing.

'Gue gak harus menyerah gara-gara kejadian itu 'kan? Hidup gue harus terus jalan.'

Setidaknya itulah yang gue pikirkan sebelum giliran gue disidang. Awalnya gue cukup seneng dapat Sir Michael sebagai dosen pembimbing skrispi, beliau terkenal dengan sikapnya yang easy going dan pengertian kepada para mahasiswa, dan awalnya gue gak tahu siapa dosen pembimbing yang satunya lagi karena namanya cukup asing buat gue, dan sepertinya dia belum pernah mengajar di kelas yang gue ambil.

Tapi, akhirnya gue pun langsung mengenali dosen yang bakal jadi pembimbing skripsi gue.

Kerigat dingin mulai mengalir melewati pelipis gue.

Penampilannya terlihat berbeda. Kali ini ia terlihat sangat-sangat rapi ditambah kacamata yang membingkai kedua matanya benar-benar membuatnya terlihat lebih bermartabat sehingga sanggup menutupi kenyataan bahwa dia adalah pria brengsek.

Dengan mata yang hampir berkaca-kaca gue paksain diri untuk duduk berhadapan dengan pria itu.

Tanpa menatap gue, dia hanya menyibukan dirinya dengan membolak-balikan lembar demi lembar halaman skripsi gue.

"Ehm," deham Sir Michael. "Senang bisa menjadi pembimbingmu Rafael."

***

"Raf, lo masih gak mau cerita?"

Entah sudah keberapa kali Gian menanyakan hal tersebut.

"Ya udah kalo lo masih belum mau cerita, tapi seenggaknya lo makan dong. Muka lo pucat gitu."

Gian adalah sahabat gue satu-satunya sejak SMA, kebetulan kami juga sama-sama mengambil jurusan yang sama pas masuk kuliah. Kadang suka risih jalan sama si Gian, dia adalah salah satu tipe cowok yang lumayan klise, ganteng, populer, tapi gak pernah pacaran.

"Sidang lo tadi gimana? Proposal lo keterima?"

Gue hanya bisa menghembuskan napas lelah. "Gak keterima. Topiknya disuruh ganti."

"Lo pasti bisa okay? Gue pasti bantuin lo." Gian mengelus rambutku.

Entahlah, perhatian Gian malah bikin gue tambah sedih.

"Mau gak lo bantuin gue bunuh diri?"

Gian menatap gue tajam seolah dia bisa menelan gue saat ini juga.

Gue pun tertawa pelan. "Becanda Gi."

Tiba-tiba, tanpa sadar air mata gue langsung mengalir begitu aja. Rasanya gue gak sanggup lagi nahan rasa sesak yang ada di dalam dada gue.

Laki-laki yang setahu gue namanya adalah El ternyata adalah direktur prodi yang baru-Gabriel Farlent Wijaya.

Dia menyepelekan topik skripsi gue, dia ngatain gue bodoh karena bahasa Inggris gue gak lancar, dan dia menatap gue seolah gue cewek rendahan yang pernah dia tiduri.

Dengan pandangan kosong gue tiba-tiba ditarik Gian menjauh dari kantin. Gue gak bisa menghentikan tangisan yang udah gue tahan selama berhari-hari.

Coba deh lo bayangin kalo lo ada di posisi gue. Lo diperkosa dan tiba-tiba pelakunnya adalah dosen lo sendiri yang sebenernya berhubungan erat dengan nasib masa depan lo sendiri.

Gian membuka pintu mobilnya dan membiarkan gue masuk lebih dulu, dan setelah itu pun isakan tangis gue langsung meluncur begitu aja.

"Apa sih yang bikin lo kayak gini?"

"Gu.. gue.. abis diperkosa," kata gue disela-sela tangisan.

Hening.

"Lo becanda kan Raf? Maksud lo apa?"

"Gue gak mau ngulangin kalimat gue Gi." Isakan gue semakin menjadi.

"Siapa pelakunya? Bagaimana bisa?" Gian mencengkram bahu gue dengan kasar.

"Sa.. sakit," erang gue berusaha melepaskan cengkraman Gian.

"SIAPA RAF SIAPA PELAKUNYA?"

Wajah Gian memerah, gak pernah sebelumnya gue melihatnya semarah ini.

"Sir Gabriel," jawab gue taku-takut.

"Anjing! Mati tu orang," makinya kemudian langsung keluar begitu saja dari mobil.

"Gian!" teriak gue sambil menarik lengan bajunya. "Jangan, gue sepertinya dijebak Bela dkk, waktu itu gue diajak ke clubing, dan saat itulah gue ketemu sir Gabriel."

Berhasil, Gian menghentikan langkahnya. "Lo clubing?"

"Kata Bella, gue bisa dapat izin penelitian di kantor bokapnya kalo gue ikutan main sama dia."

"Apa sih yang ada dipikiran lo? Bella dkk itu terkenal nakal Raf. Gak seharusnya lo deket sama mereka."

Gue menggelengkan kepala gue dengan frustasi. "Malam itu gue telepon elo, tapi lo gak jawab."

Gian mengacak-acak rambut hitamnya. "Maaf," ucapnya pelan. "Tapi, kenyataan lo diperkosa itu sama sekali gak bisa gue terima."

Gagal sudah, gue gak bisa mengentikan langkah Gian menuju ruangan direktur prodi. Beberapa mahasiswa menatap kami bingung karena Gian sama sekali gak bisa dikendalikan, ia terlihat marah, langkahnya cepat dan pandangannya benar-benar dingin mengancam.

Gian membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar. Matanya yang tajam menatap pria itu.

Gue berusaha menghentikan Gian, namun satu tonjokan tengah berhasil mendarat di wajah pria itu sehingga mampu membuatnya terjatuh mengantam tembok.

Beautiful MistakeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang