Berdamai

80.7K 11.6K 4.6K
                                        


Saat kalian semua membenci Dimas. Entah kenapa aku justru sakit banget lihat dia. Enggak pernah kebayang gimana rasanya ada di posisi dia. Cuma dibanding-bandingin sama kakak sendiri aja sedihnya minta ampun huhu

 Cuma dibanding-bandingin sama kakak sendiri aja sedihnya minta ampun huhu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ngebayangin Dimas masih kecil sedih gitu meringkuk sendirian.

Oke cukup

Selamat membaca

3000 untuk part selanjutnya bisa?
Biar gak bosen 2000 terus 🤣

Btw, aku seneng kalian meninggalkan jejak komentar hehe tp plis jangan komentar yang bikin sedih ya kayak "awas aja kayak sinetron." Sakitnya ke ulu hati hehe
Cukup doi aja yang melukai hatiku kalian jangan ya ehehhee

Thx

Selamat membaca❤️

🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️

Dimas mengepalkan tangan dengan rahang mengeras melihat Vanessa terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan di ranjang rumah sakit. Di samping ranjang wanita itu terdapat monitor yang menampilkan grafis kinerja detak jantung. Dimas meraih kursi kecil yang berada di sisi ranjang, dengan tangan bergetar meraih tangan kanan Vanessa yang sudah terpasang infus.

Nafas Dimas berubah memberat. Rahangnya mengeras menahan sakit yang menusuk lubuk hatinya. Sudah cukup lama Dimas tidak bisa berada sedekat ini dengan Vanessa, namun sekalinya bertemu mengapa harus dalam keadaan seperti ini? Dimas sangat menyayangi Vanessa lebih dari dirinya sendiri.

Dimas memejamkan kedua matanya. Memori masa lalunya perlahan kembali teringat. Sayup-sayup bayangan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun sedang berlari kecil membawa selembar kertas terbayang di benaknya.

"Ayah, coba lihat!" Dimas tersenyum senang, berlari kecil menuju ruang kerja Andreas dengan sebelah tangan membawa selembar kertas. "Dimas dapat nilai delapan puluh ulangan matematika kemarin!"

Andreas yang semula sedang konsentrasi pada pekerjaannya menoleh. Andreas mengusap sekilas puncak kepala Dimas. "Bagus."

Senyuman Dimas hilang seketika melihat Andreas kembali sibuk pada pekerjaannya.

"Papa!"

Konsentrasi Andreas kembali terusik melihat putra kecilnya yang masih berusia tujuh tahun berlari kecil ke arahnya.

"Papa, hot wheels keluarin model mobil terbaru!" Marchello menarik-narik ujung kaus Andreas. "Chello mau!"

Andreas menggendong tubuh Marchello, memangkunya. "Main terus, belajarnya kapan?"

Go-Jack in Love [ PART LENGKAP]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang