"Setahu gue ada banyak banget abang ojek online di Indonesia. Kenapa selalu lo yang muncul? Sebenernya lo siapa?"
"Jodohnya Mbak Adel, hehe.."
***
Bagaimana jika kamu tidak sengaja memesan ojek online dan mendapatkan driver yang bikin darah tinggi?
...
Saat kalian semua membenci Dimas. Entah kenapa aku justru sakit banget lihat dia. Enggak pernah kebayang gimana rasanya ada di posisi dia. Cuma dibanding-bandingin sama kakak sendiri aja sedihnya minta ampun huhu
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ngebayangin Dimas masih kecil sedih gitu meringkuk sendirian.
Oke cukup
Selamat membaca
3000 untuk part selanjutnya bisa? Biar gak bosen 2000 terus 🤣
Btw, aku seneng kalian meninggalkan jejak komentar hehe tp plis jangan komentar yang bikin sedih ya kayak "awas aja kayak sinetron." Sakitnya ke ulu hati hehe Cukup doi aja yang melukai hatiku kalian jangan ya ehehhee
Thx
Selamat membaca❤️
🚴🏻♂️🚴🏻♂️🚴🏻♂️
Dimas mengepalkan tangan dengan rahang mengeras melihat Vanessa terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan di ranjang rumah sakit. Di samping ranjang wanita itu terdapat monitor yang menampilkan grafis kinerja detak jantung. Dimas meraih kursi kecil yang berada di sisi ranjang, dengan tangan bergetar meraih tangan kanan Vanessa yang sudah terpasang infus.
Nafas Dimas berubah memberat. Rahangnya mengeras menahan sakit yang menusuk lubuk hatinya. Sudah cukup lama Dimas tidak bisa berada sedekat ini dengan Vanessa, namun sekalinya bertemu mengapa harus dalam keadaan seperti ini? Dimas sangat menyayangi Vanessa lebih dari dirinya sendiri.
Dimas memejamkan kedua matanya. Memori masa lalunya perlahan kembali teringat. Sayup-sayup bayangan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun sedang berlari kecil membawa selembar kertas terbayang di benaknya.
"Ayah, coba lihat!" Dimas tersenyum senang, berlari kecil menuju ruang kerja Andreas dengan sebelah tangan membawa selembar kertas. "Dimas dapat nilai delapan puluh ulangan matematika kemarin!"
Andreas yang semula sedang konsentrasi pada pekerjaannya menoleh. Andreas mengusap sekilas puncak kepala Dimas. "Bagus."
Senyuman Dimas hilang seketika melihat Andreas kembali sibuk pada pekerjaannya.
"Papa!"
Konsentrasi Andreas kembali terusik melihat putra kecilnya yang masih berusia tujuh tahun berlari kecil ke arahnya.
"Papa, hot wheels keluarin model mobil terbaru!" Marchello menarik-narik ujung kaus Andreas. "Chello mau!"
Andreas menggendong tubuh Marchello, memangkunya. "Main terus, belajarnya kapan?"