Sebuah pilihan

73.4K 10.4K 1.8K
                                        

Yuk 1000 komen lagi di part ini nanti aku update lagi  ❤️

Bintang juga boleh ehehe biar menerangi hati yang kelam

Aku tahu kalian semua marah dan aku siap mendapat hujatan isokee

Walau itu tetap menyakitkan hehe

Selamat membaca❤️

🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️

"Sumpah, gue lebih mending lihat lo ngepel lantai dari pada kayak gini," George menatap ngeri Jack yang sedang sangat konsentrasi berkutat dengan kertas-kertas di atas mejanya.

Jack bahkan tidak mendengarkan ucapan George dan terus sibuk dengan kegiatannya.

"Gue tahu lo pemimpin yang baik, tapi bukan berarti lo harus mengerjakan tugas karyawan lo sendiri!" George mengacak rambutnya frustasi. "Lo mau gue digaji tanpa kerja apapun?"

Benar, sudah beberapa hari ini Jack sangat gila bekerja. Pagi, siang, sore, dan malam ia habiskan untuk berkutat di depan layar laptop dan dokumen-dokumen penting. Jack bahkan berhasil menyelesaikan tugasnya yang sangat menumpuk dan mengambil alih semua pekerjaan George.

Jack mengganggukkan kepala tanpa menoleh. "Enggak papa, lo temen gue."

"Enggak gini bambang!" George memekik frustasi. "Asli, lo ngepel lagi aja sana. Perlu gue ambilin tongkat pel sama ember sabunnya?"

Jack menggeleng. "Enggak mau. Ngepel enggak cukup kuat buat ngalihin pikiran gue."

"Dari Adel?" tanya George.

Mendengar nama itu, Jack langsung menghentikkan aktivitasnya.

"Udah hampir satu bulan, Jack. Mau sampai kapan lo kayak gini?" George menggeleng. "Gue tahu awalnya pasti susah. Tapi hidup itu terus berjalan bro."

Jack menyandarkan punggungnya di kursi, menatap datar George yang terlihat menggebu-gebu menceramahinya.

George mengepalkan tangan. "Di mana-mana berjalan itu ke depan bukan ke belakang. Karena kalau ke belakang itu toilet."

Jack mendengus. "Nyolong copyrights gue."

"Memang," George mengaku.

Ucapannya barusan adalah nasihat yang diberikan Jack pada George saat sedang patah hati dulu. Jika ucapan itu berhasil menguatkannya, ia berharap hal itu juga bisa dirasakan oleh Jack meski pria itu sendiri yang membuatnya.

"Dulu ngomongnya gampang banget tapi pas harus dilakuin kenapa jadi susah banget, ya?" Jack menertawakan dirinya sendiri.

"Justru itu rumusnya. Lo lebih gampang mengomentari dari pada menjalankan. Bisa mudah banget kasih nasihat ke orang lain belum tentu bisa lo terapin kalau lagi ada di posisi dia," jelas George.

"Tapi, gue kayaknya udah sakit beneran," Jack menggeleng. "Berulang kali gue pingin banget kirim pesan ke dia. Tanya gimana kabarnya. Dulu gampang banget tanya, sekarang kayak mau salim sama Presiden Amerika."

George menaikkan sebelah alis. "Donald Trump?"

"Ralat, mantan presiden," Jack menggeleng cepat. "Obama."

"Wah, pas banget presiden aja lo pilih yang udah jadi mantan--ups." George menutup bibirnya dengan tangan. "Sorry kelepasan."

Jack mengalihkan wajah kembali fokus pada pekerjaannya.

Go-Jack in Love [ PART LENGKAP]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang