"Minum dulu, Del."
Adel menerima gelas kaca berisi air hangat dari tangan Bondan. Perlahan Adel meneguk air tersebut, membasahi tenggorokannya yang terasa perih.
Suasana di ruangan itu masih hening dan canggung setelah kejadian beberapa menit yang lalu. Saat ini Riadi sedang di bawa ke ruangannya untuk berbicara dengan Andrew dan dua orang pria yang terlibat dalam keributan.
"Kenapa tiba-tiba dia ada di sini?" tanya Adel setelah berhasil menguasai diri.
"Siapa? Marchelino?"
Adel tersentak mendengar nama itu. Hampir saja ia lupa pria bernama Jumardi yang selama ini menjadi abang ojeknya adalah orang yang sama dengan pria yang baru saja menyelamatkannya dari pukulan Riadi. Marchelino Feraz Harianto, nama itu masih terdengar asing bagi Adel. Bahkan tadi ia kelepasan memanggil Marchelino dengan nama Jumardi. Ia juga lupa bahwa dirinya sangat membeci pria itu dan tidak ingin melihat wajahnya lagi. Tetapi pria itu kembali muncul, lebih membingungkannya lagi pria itu menolongnya. Adel bingung harus marah atau justru berterimakasih.
"Iya.." Adel berdeham canggung, "Dia kenapa ada di sini? Dia beneran pecat Riadi? Kok bisa?"
"Sabar gue jawab satu-satu," Bondan tersenyum jahil, "Semangat banget? Langsung sembuh gitu lihat dia?"
Adel memutar bola matanya malas, "Bon, gue serius."
Bondan terkekeh, "Lo udah denger kabar perusahaan kita diakuisisi perusahaan lain, kan?"
"Iya," Adel mengangguk seraya meneguk kembali air hangat dari gelasnya.
"Jadi, perusahaan kita bakalan jadi anak cabang perusahaan itu. Denger-denger yang berubah cuma pemiliknya aja, jadi kita tetep kerja seperti biasa. Jabatan kita juga mungkin nggak berubah," jelas Bondan lagi-lagi mendapat anggukan Adel, "Nah, lo tahu perusahaan mana yang ambil alih perusahaan ini?"
Melihat Adel mengerutkan kening bingung, Bondan mencondongkan tubuh berbisik pelan di telinga Adel, "Perusahaannya Marchelino."
Mendengar itu sontak Adel terbatuk-batuk tersedak. Sementara itu, Bondan justru tertawa puas melihat reaksi Adel.
"Makan dulu rotinya baru minum obat," Fion yang baru saja kembali dari apotik memberikan obat kepada Adel, "Loh, lo enggak ada bilang kalau batuk juga. Gue enggak beli obat batuk."
Adel menggelengkan kepala dengan kondisi masih terbatuk-batuk. Melihat tingkah Adel, tawa Bondan semakin terpecah.
"Gue enggak..uhuk..batuk," Adel meraih kembali gelas di atas mejanya, dengan rakus meneguk air hangat yang tersisa.
"Gue nggak batuk," ucap Adel setelah berhasil menguasai diri.
"Lah, barusan apa kalau bukan batuk," balas Fion.
Bondan yang tidak tahan menyeletuk, "Dia kesedak bego, bukan batuk. Lo udah nikah pinteran dikit napa?"
"Hubungin terus aja, Bon," sungut Fion, "Bawa-bawa terus aja pernikahan gue."
"Ini bikin ngantuk, enggak?" Adel meraih plastik putih berisi obat yang Fion berikan. Di dalam plastik itu terdapat tiga pil dengan warna yang berbeda.
"Kata mbaknya enggak," Fion menepuk pelan puncak kepala Adel, "Udah minum aja, kalau ngantuk pulang bilang nanti gue anterin balik. Jangan keras kepala."
KAMU SEDANG MEMBACA
Go-Jack in Love [ PART LENGKAP]
Romance"Setahu gue ada banyak banget abang ojek online di Indonesia. Kenapa selalu lo yang muncul? Sebenernya lo siapa?" "Jodohnya Mbak Adel, hehe.." *** Bagaimana jika kamu tidak sengaja memesan ojek online dan mendapatkan driver yang bikin darah tinggi? ...
![Go-Jack in Love [ PART LENGKAP]](https://img.wattpad.com/cover/149348924-64-k5083.jpg)