Relakan

78.9K 10.9K 2.9K
                                        

Karena tantangan sebelumnya udah dipenuhi aku update lagi 👌🏻

Tenang gais tarik nafas buang lagi. Jangan sedih kamu enggak sendirian :")

2000 komentar lagi untuk update besok hehe

Terimakasih 🙏🏻

Selamat membaca❤️

🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️🚴🏻‍♂️

"Makasih, Mas." Adel menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan pada driver yang baru saja mengantarnya.

"Makasih," driver itu menerima uang dari tangan Adel.

Baru saja Adel hendak pergi, driver itu menarik sebelah tangannya. Membuat Adel menoleh kaget.

Driver itu tersenyum. "Mbak jangan lupa bahagia. Sayang banget wajah cantiknya kelihatan sedih."

Adel masih terdiam di tempat, terkejut dengan tindakan driver-nya itu. Adel bahkan tanpa sadar masih termenung di tempatnya meski driver itu sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.

Adel meruntuk dalam hati teringat awal pertemuannya dengan seseorang. Hari masih sangat pagi, bahkan kedua mata Adel masih terasa berat karena menangis sepanjang malam. Bukannya mendapat pencerahan untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian malam kemarin, malah kembali diingatkan bahkan oleh seorang driver ojek online.

Dengan langkah berat Adel melangkahkan kakinya melewati parkiran menuju pintu masuk gedung perusahaan. Adel tersentak kaget saat sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang.

"Loh, kok sendirian?" Bondan menghentikan motornya di samping Adel. "Tumben enggak bareng Jack?"

Adel menggeleng.

"Kenapa?" Bondan mengerutkan kening curiga. "Lo bertengkar sama dia? Jack berani macem-macem sama lo? Wah, sini suruh dia menghadap Bon--"

"Plis," Adel menggeleng cepat. "Bisa jangan sebut namanya dulu kalau lagi sama gue?"

Tanpa menunggu jawaban Bondan, Adel segera melangkahkan kaki pergi. Adel bahkan berpura-pura tidak menyadari tatapan bingung Bondan yang masih memperhatikannya dari jauh.

Adel benar-benar sedang tidak ingin mendengar nama itu. Nama yang semula selalu membuatnya rindu justru terdengar menyakitkan sekarang.

Patah hati memang separah itu.

Adel mempercepat langkah menuju ruang kerjanya. Menghindari jika harus berpapasan dengan pria itu. Rasanya Adel ingin melarikan diri dari tempat ini, ia tidak siap jika harus berpapasan dengan seseorang yang sedang berusaha ia relakan mati-matian. Adel memang sudah memutuskan untuk merelakan semuanya. Setidaknya, dengan keputusannya Adel tidak perlu membenci akhir ceritanya.

Mungkin seseorang itu hanya ditakdirkan bertemu dengannya di bumi. Menjalin sebuah kisah menyenangkan, jatuh cinta, dan kemudian pergi. Karena tujuan yang diambil tidak lagi sama. Mungkin suatu saat mereka bisa bertemu kembali, saling berpapasan tanpa ada rasa dendam, dan tersenyum dengan tangan saling menggenggam.

Menggenggam pasangannya yang baru.

Adel meletakkan tasnya di atas meja. Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan wajah mendongak. Sial, kenapa Adel cengeng sekali?

Go-Jack in Love [ PART LENGKAP]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang