"Setahu gue ada banyak banget abang ojek online di Indonesia. Kenapa selalu lo yang muncul? Sebenernya lo siapa?"
"Jodohnya Mbak Adel, hehe.."
***
Bagaimana jika kamu tidak sengaja memesan ojek online dan mendapatkan driver yang bikin darah tinggi?
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berbukalah dengan yang manis-manis seperti kisah JumAdel
Ditunggu 2000 bintang dan 3000 komentarnya untuk part selanjutnya❤️
Yuk follow ig: @gojack_in_Love
Terimakasih banyak
Selamat membaca❤️
🚴🏻♂️🚴🏻♂️🚴🏻♂️
"Will you marry me?"
Adel masih terdiam di tempatnya, setengah tersadar memandang cincin yang berada di kotak beludru. Jantung Adel berdebar kencang hingga membuat rongga dadanya terasa nyeri. Adel yakin bukan hanya jantungnya yang berdebar dua kali lipat lebih cepat dari pada biasanya, berada sedekat ini dengan Jack membuat Adel seolah dapat merasakan debaran jantung pria itu.
Jack masih menunggu dengan sabar. Beberapa kali ia membasahi bibirnya gugup karena Adel tidak juga memberikan respon. Gadis itu masih terdiam membelakanginya tanpa bergerak sedikitpun.
"Maaf saya tahu ini jauh dari kata romantis," Jack mengulum bibirnya sesaat. "Mungkin cuma saya orang yang melamar di atas jembatan tanpa bunga dan tanpa makan malam dengan iringan lagu romantis di restoran."
Sesaat Jack menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Berusaha mengontrol suaranya yang sedikit bergetar. "Saya hanya takut akan kehilangan kesempatan lagi karena menunda-nunda. Cukup sekali saya harus kehilangan kesempatan itu, cukup sekali saya harus kehilangan kamu."
Jack tanpa sadar menegakkan postur tubuhnya saat Adel melonggarkan pelukannya, beralih menghadap ke arahnya. Hati Jack mencelos saat menyadari kedua manik hitam Adel sedikit basah, gadis itu terlihat mati-matian menahan air matanya. Cukup sekali Jack melihat Adel menahan air matanya saat ia mengucapkan salam perpisahan duku, Jack tidak ingin melihat Adel menangis lagi karenanya.
"Disaat hampir semua cowok bilang aku cewek yang gila kerja, sama sekali enggak menarik untuk diajak pacaran, membosankan, dan bikin jenuh," Adel menatap lurus manik kecokelatan Jack. "Kenapa harus aku yang kamu pilih?"
Adel mendongakkan wajahnya menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Akhirnya pertanyaan yang sudah ia pendam sejak hari pertama Jack mengaku tertarik padanya ke luar juga. Pertanyaan yang selalu membuat Adel merasa akhirnya ada seseorang yang bisa menerimanya apa adanya. Ada seseorang yang tidak pernah menuntut meski Adel lebih mementingkan pekerjaan. Adel pikir selama hidupnya tidak akan pernah bisa menemukan pendamping yang benar-benar menerimanya tanpa perlu mengorbankan apalagi mengubah dirinya sendiri.
Adel sering merasa tidak pantas untuk Jack. Pria itu tampan, berasal dari kalangan atas, dan mempunyai daya tarik yang kuat. Adel selalu membayangkan berapa banyak gadis cantik dari kalangan atas yang berusaha dekat dengan Jack. Pasti tidak terhitung jumlahnya. Adel merasa kecil hati, merasa tidak akan mampu membuat Jack bahagia. Bahkan saat di Monas waktu itu, Adel diam-diam berharap semoga setelah kepergiannya akan ada seorang perempuan yang jauh lebih pantas mendampingi Jack. Terus menggenggam tangan pria itu dengan kasih sayang melebihi apa yang telah ia berikan.