9. Please Don't Leave Me.

1.6K 263 12
                                        

As always jangan lupa vote sama comment plus crosscheck juga. Love u all.






























Jaehyun dan semua orang yang berada di rumah Mingyu tadi dengan tergesa memasuki rumah sakit tempat mereka bekerja. Semuanya karena Anna dan Eunwoo yang kabarnya mengalami kecelakaan. Beberapa pegawai rumah sakit bertanya kepada mereka lantaran seharusnya mereka tak ada di sana karena tak memiliki jadwal berjaga malam.

"Di mana dokter Anna?" tanya Mingyu pada seorang perawat yang menjaga ruang UGD.

"Dia ada di ruang ICU, Professor Kim."

"APA? ICU?" Tanpa sepatah kata apapun Jaehyun berlari ke lantai tiga di mana ruang ICU berada. Sapaan serta salam beberapa dokter dan perawat yang dijumpainya tak ia hiraukan layaknya itu hanya sebuah angin lalu. Dia tidak punya waktu untuk itu. Ia harus memastikan jika Anna dalam keadaan baik-baik saja.

Nama Anna terus terselip dalam doanya sepanjang ia berjalan. Entah kepada siapa ia berdoa tapi yang jelas dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia hanya ingin gadisnya dalam keadaan baik-baik saja.

Jaehyun tercekat. Kakinya begitu lemas bahkan ia nyaris saja tergeletak tak berdaya di lantai jika saja tak ada sandaran kursi yang bisa ia gunakan untuk bertumpu. Ia sudah sampai di depan ruang ICU tapi bukan pemandangan yang ia harapkan yang didapatnya. Brankar berisikan pasien dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya telah membuat hidup Jaehyun rasanya terhenti saat itu juga. Namun, dia harus memastikan terlebih dahulu apakah itu Anna.

"Pasien ini kenapa?"

"Dia meninggal karena cidera kepala yang cukup parah. Dia korban kecelakaan yang datang sekitar 30 menit yang lalu, Professor Jaehyun. Permisi, kami harus segera membawanya ke kamar mayat."

Rasanya dunia Jaehyun berhenti saat itu juga. Pasien tadi korban kecelakaan dan jam kedatangannya sama seperti Anna. Tidak, dia masih belum bisa menerima ini semua.

Astaga, ia bahkan belum memastikan tentang perasaannya pada gadis itu. Ia juga belum menceritakan segala hal pada Anna. Ia tak mau kehilangan Anna dengan cara seperti ini. Ia akan sangat menyesali segala hal di sisa hidupnya nanti. Anna bagai sebuah oksigen yang ia butuhkan. Ya, ia butuh Anna. Ia mencintai gadis itu. Tak ada keraguan lagi. Tergambar jelas dengan bagaimana hancurnya diri Jaehyun saat ini.

"Hey, apa yang kau lakukan di sini?" Terdengar seperti suara Anna di telinga Jaehyun. Seingatnya Jaehyun tak punya indra keenam sehingga dapat mendengar suara roh yang sudah meninggal.

"Anna, jangan seperti ini. Aku akan semakin sulit melepasmu pergi." Persetan dengan frasa jika laki-laki tak boleh menangis. Jaehyun jugalah manusia. Ia punya hati yang bisa merasakan kepedihan luar biasa. Tanpa rasa malu Jaehyun memperlihatkan air matanya tanpa peduli akan ada yang memperhatikannya nanti.

"Kau sinting ya? Hey, kau kira aku akan pergi ke mana?" Jaehyun mendongak. Diusapnya lelehan air mata di wajah tampannya. Otaknya terus berpikir apakah Anna di depannya ini adalah benar-benar Anna atau Tuhan mendengar doanya dan menghidupkan Anna kembali. Pasalnya gadis itu terlihat baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun.

"Anna, kaukah itu? atau ini hanya rohmu yang mendatangiku?"

"Apa kau bilang? Kau mau aku pukul ya?" bentak Anna yang geram dengan sikap Jaehyun yang semakin menggila menurutnya. Tanpa persetujuan sang gadis, Jaehyun memeluk gadisnya begitu erat seolah khawatir jika satu detik saja ia lepaskan gadis itu akan pergi jauh darinya.

"Jangan pergi!" Anna masih terpaku seolah satu kalimat itu adalah sihir untuknya untuk membeku seketika. Kalimat itu bukan sebuah alat milik Gru dalam film kartun Despicable Me yang sering ia tonton berulang di kala senggang tapi mengapa Anna dapat membeku seketika.

Pain || JJH  (DITERBITKAN)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang