17. Sunday Morning

1.4K 236 13
                                        

Jangan lupa vote and comment. 











Anna berjengit saat sinar matahari menerpa wajahnya. Ia terpaksa terbangun dari tidur singkatnya. Arloji di tangannya menunjukkan pukul 06.30, ya ini adalah rekor terbarunya. Gadis itu tak pernah bangun lebih dari pukul 05.30

Bertepatan dengan Anna bangun, Jaehyun baru kembali dari kamar mandi. Handuk kecil masih bertengger di lehernya dengan rambut hitamnya yang basah. Anna tak berhenti mengedipkan matanya saat melihat Jaehyun. Astaga, kenapa pria itu terlihat sangat tampan saat ini? Entah mengapa sekelebat kejadian semalam saat mereka berciuman kembali berputar di otak Anna membuat gadis itu bersemu.

"Dokter Anna, kau sakit? Kenapa wajahmu merah?" panik Jaehyun. Pria itu bahkan menempelkan telapak tangannya di dahi Anna membuat tubuh gadis itu semakin membeku.

"Aku harus menyiapkan sarapan." Secepat kilat Anna berlari menuju dapur. Berada di sekitar Jaehyun tidak baik bagi kesehatannya.

Saat sampai di dapur sudah ada dokter Wendy dan Chaeyeon. Mereka sudah mulai memasak tanpa Anna.

"Astaga, kau baru bangun?" tanya Chaeyeon setelah memperhatikan penampilan Anna yang sangat khas orang bangun tidur.

"Eoh? Ya."

"Tidak biasanya kau telat bangun. Kukira kau belum ke dapur karena sibuk dengan buku ternyata sibuk dengan mimpi." Anna menggubris ucapan Chaeyeon. Pikirannya masih melayang bersama bayangan wajah Jaehyun.

"Eoh, dokter Anna, wajahmu merah? Kau sedang demam?" panik dokter Wendy yang sadar akan wajah Anna yang sudah merah layaknya kepiting yang baru saja direbus. Berbeda dengan dokter Wendy, Chaeyeon justru tersenyum jahil.

"Sepertinya bukan karena demam. Pasti karena ..... sebaiknya aku tak mengatakannya."

"Wah, hidungku baru saja mencium aroma kisah cinta di sini." Hanya Tuhan yang tahu bagaimana si jahil Rose datang bergabung dan tahu apa yang ada di otak Chaeyeon. Sedangkan dokter Wendy hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah junior-juniornya itu. Ya, mungkin tak lama lagi dia akan mendengar suara teriakan.

"Rose, sepertinya kau punya satu pikiran denganku."

"Oh tentu, menurutmu otakku tak bisa berpikir apa saja yang sudah terjadi antara Harvard girl dan Oxford boy. Aku bahkan terharu saat si pria menggendong gadisnya dengan begitu gentle semalam." Anna tak tahan lagi, telinganya sangat gatal mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut kedua sahabatnya.

"AKH!!!" ringis Rose dan Chaeyeon bersamaan. Jelas saja mereka meringis. Anna menarik kedua telinga mereka dengan cukup keras dan mungkin akan membuat telinga keduanya memerah nanti.

"Dasar, bersihkan otak kalian berdua. Demi Tuhan, aku tak melakukan apapun dengan si pucat itu."

"Setidaknya kalian berciuman kan?" Petakalah untuk Rose dengan kalimatnya itu. Tarikan Anna di telinganya semakin menjadi-jadi sekarang.

"Dokter Anna, sudahlah. Lepaskan mereka berdua. Kasihan mereka. Biarkan mereka membantuku juga. Kau bersihkanlah dirimu dan bersiap untuk melakukan misa di gereja. Sekarang hari minggu bukan? Kali ini aku yang akan melakukan tugasmu." Sungguh bagi Rose dan Chaeyeon sosok dokter Wendy adalah dewi. Wanita bersuami itu benar-benar melepaskan mereka berdua dari cengkraman iblis dalam diri Anna.

"Kali ini kalian selamat," ketus Anna kemudian dirinya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Hey, apa kata-katamu itu mungkin saja benar?" Rose berpikir dan mengoreksi apa saja yang dia katakan tadi.

Pain || JJH  (DITERBITKAN)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang