Jangan lupa vote and comment
Anna menggosokkan kedua tangannya sembari meniupnya perlahan. Malam ini terlalu dingin untuk dihabiskan dengan berjalan-jalan. Tidak, ini bukan kemauan Anna sebenarnya. Dia, Dokyeom dan Junhoe terpaksa harus berjalan kaki melewati padang berumput lantaran Jeep yang mereka gunakan tadi harus ditawan oleh kawanan pemberontak yang memblokade perbatasan kota dan desa.
Awalnya para pemberontak ingin menyerang mereka bertiga namun Junhoe berhasil menghalaunya tapi mereka terpaksa kabur dan meninggalkan Jeep mereka. Sungguh sial nasib mereka bertiga. Setidaknya mereka tidak menghadapi masalah ini saat hendak mengantar anak kecil tadi ke rumah sakit.
"Aku lelah," keluh Dokyeom.
"Kau kira hanya kau yang lelah?" ketus Anna yang tak terima dengan keluhan Dokyeom.
"Barak kita jaraknya sekitar 4 Km lagi. Mungkin 30 menit lagi kita akan sampai." Sebenarnya niat Junhoe menghibur, tapi sayang kalimatnya membuat dua manusia di depannya semakin lesu. Ya, mungkin mereka berdua sudah sangat lelah lantaran berlari dan terus berjalan selama lebih dari satu setengah jam.
"Ini semua salahmu Anna, kenapa kau melibatkan aku?"
"Kenapa menjadi salahku? Kau kira aku akan tahu jika keadaan seperti ini. Apa kau tega membiarkan anak kecil itu terus menderita?" Dokyeom hanya diam tapi pria itu merengut.
"Anna, aku pinjam jasmu. Aku kedinginan."
"Hey, aku ini perempuan. Aku juga kedinginan. Harusnya kau yang pinjamkan jasmu padaku" Anna jelas berang dengan kalimat pria berwajah kuda itu. Astaga, kenapa pria di sekelingnya termasuk ke dalam pria spesies langka yang tak sempurna?
"Penderitaan dan genderisasi itu berbeda. Maaf, tidak hanya kaum pria yang harus mengalah."
"Jangan berisik! Ada yang datang," peringat Junhoe sembari membuat dua manusia itu untuk menunduk di antara ilalang yang menjulang tinggi. Sebagai anggota tentara mungkin kepekaan naluri Junhoe tak perlu diragukan
Langkah kaki itu semakin mendekat bahkan Dokyeom dan Anna yang tadinya tak merasakan kehadiran orang lain kini ikut merasakannya. Junhoe sudah siap dengan Revolver di tangannya, takut jikalau musuh yang sedang mendekati mereka.
Baik Anna dan Dokyeom menutup mata mereka begitu dengan cepatnya Junhoe menodong Revolver ke arah pria yang mendekati mereka. Dua manusia itu masih menutup mata bahkan sembari menutup telinga mereka. Kira-kira hampir satu menit dua manusia aneh itu melakukan hal bodoh, sebelum akhirnya mereka sadar jika tak ada suara tembakan ataupun suara ribut lainnya.
"Kau dengar sesuatu?" Tanya Dokyeom pada Anna masih dengan mata tertutup dan telinga yang disumpal dengan telapak tangannya.
"Bukankah seharusnya ada suara tembakan yang nyaring? Kenapa suaranya belum ada? Apa Junhoe belum menembak?"
"Anna, Jangan-jangan dia sudah mati?"
"Jangan sembarangan kau bicara. Rose akan menikah dengannya tahun depan. Kasihan macanku."
"Ekhm," dehem Junhoe untuk menyadarkan dua sahabat kekasihnya itu.
Anna dan Dokyeom kompak membuka mata mereka dan menyadari betapa bodohnya yang mereka lakukan tadi. Di hadapan mereka berdua ada Junhoe dan dokter Hae In yang menatap dua manusia itu dengan tatapan bingung. Demi seluruh isi dunia, baik Anna maupun Dokyeom keduanya begitu malu. Sangat malu.
"Ternyata Kapten Hae In. Apa kabar kapten?" Walau Dokyeom berusaha keras menyembunyikan nada malu tetap saja pria itu kentara sekali sedang menahan rasa malunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pain || JJH (DITERBITKAN)
FanficBe wise please while read this story. "Mau seberapa banyak rasa sakitnya? Kau bercanda? Aku dibesarkan dengan rasa sakit." -ATLH "No more, i will be your medicine. I'll give you a true of happiness." -JJH Hanya sebuah kisah Professor Jung Jaehyun y...
