Vote and comment please
Sudah menginjakkan kaki di Somalia bukan berarti perjalanan mereka sudah berakhir. Setelah sampai di landasan pacu milik militer Somalia, mereka harus menaiki truck militer untuk sampai di tempat tujuan.
Kekesalan Anna pada Jaehyun masih berada di ujung kepala lantaran kejadian saat mereka berangkat dari Korea, itulah mengapa ia memilih duduk berjauhan dengan Jaehyun sejak masih dalam pesawat. Jika Jaehyun mendekat maka Anna akan pergi semakin jauh atau berlindung pada kapten Hae In yang baru dikenalnya.
Selama tinggal di Somalia mereka akan tinggal di sebuah barak militer bersama angkatan udara Korea Selatan dan berdekatan dengan rumah sakit kecil di tengah perkampungan.
"Selama tinggal di sini kalian akan menempati barak militer di sebelah timur. Silahkan berkemas dan hari ini kalian dapat beristirahat dan berkeliling di sekitar pemukiman warga tapi ingat untuk tidak pergi terlalu jauh karena banyak pemberontak di daerah ini. Kalian bisa bekerja besok namun apabila ada pasien darurat hari ini kalian harus siap. Berhati-hatilah! Di sini membunuh atau melukai seseorang adalah hal yang biasa," jelas seorang Letnan Kolonel yang mengambil penuh tanggung jawab selama mereka berada di Somalia.
Setelah mendengar arahan dari sang Letkol mereka memutuskan untuk pergi ke barak yang akan mereka tempati selama di sana. Barak itu terdiri dari beberapa ruangan dan kamar tidur. Setiap kamar tidur dikelilingi kelambu untuk menghalau nyamuk.
Kamar tidur sendiri hanya terdiri dari sepasang nakas kecil dan kasur kecil yang jumlahnya tidak sama tiap kamar. Ada dua kamar mandi berukuran kecil yang diperuntukan untuk para perempuan. Untuk laki-laki mereka akan mandi di pemandian umum milik pasukan militer yang berada di samping barak.
"Kita tidak tidur di kamar satu untuk satu orang? Apa tidak ada kasur? Bagaimana jika banyak nyamuk? Apa airnya bersih? Nanti kulitku bisa gatal jika airnya tidak bersih." Belum satu jam mereka sampai tapi Chaekyung sudah banyak mengeluh layaknya seorang putri kaisar yang tiba-tiba hidup dirundung kemiskinan.
"Ini bukan hotel atau kamar mewahmu, Professor Chaekyung," balas Rose kesal.
"Sudahlah, kita bagi saja kamar di sini," ujar dokter Wendy yang merupakan dokter dengan usia paling tua di sana. Ia dokter yang bijaksana dan mengerti jika semua orang pasti sedang dalam fase emosional yang tak beraturan lantaran dibuang begitu saja ke Somalia.
"Biar aku yang membagi," Interupsi Jaehyun. Tak ada yang berani mengelak lantaran pria itu adalah pria yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dari yang lain. "Ada berapa tempat tidur di setiap ruangan?" tanyanya lagi.
"Ada sekitar 7 kasur di kamar pertama, 4 kasur kamar kedua, 5 kasur di kamar ketiga dan 2 kasur di kamar paling ujung," jawab Dokyeom yang tadi sempat berkeliling.
"Semua perawat kecuali Perawat Jung Chaeyon, dan Perawat Jihyo akan menjadi satu ruangan di kamar pertama. 2 perawat yang kusebut tadi di kamar ketiga bersama dokter Chaekyung, dokter Rose dan dokter Wendy. Dokter Jungkook, Dokter Dokyeom, Dokter Taeyong dan dokter Taehyung di kamar kedua. Aku dan dokter Anna di kamar paling ujung."
"APA? KAU GILA YA?" pekik Anna tak terima lantaran dia mendapat kamar yang isinya hanya berdua dengan Jaehyun.
"Kau timku dan aku punya tesis yang observasinya dilakukan di sini. Kau harus membantuku!"
"Sejak kapan aku mau menjadi asistenmu?"
"Kau kan tim bedahku."
"JUNG JAEHYUN SINTING!!!"
"Tidak ada penolakan! Ayo cepat rapikan semua barang bawaan kalian!" Anna nyaris saja menjatuhkan rahangnya lantaran masih terkejut dengan keputusan gila Jaehyun. Beberapa dokter dan perawat juga saling berbisik sembari tersenyum penuh arti. Oh ya, hanya Taeyong dan Chaekyung yang memasang wajah masam tanda tak suka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pain || JJH (DITERBITKAN)
FanfictionBe wise please while read this story. "Mau seberapa banyak rasa sakitnya? Kau bercanda? Aku dibesarkan dengan rasa sakit." -ATLH "No more, i will be your medicine. I'll give you a true of happiness." -JJH Hanya sebuah kisah Professor Jung Jaehyun y...
