CHAPTER 2

105 20 15
                                        

Mencintai itu dua tangan, kalau sebelah tangan namanya patah hati. Tau apa yang paling menyakiti dari mencintai? Yaitu cinta tak berbalas.
--------


Setelah upacara, semua murid berhamburan masuk ke kelas untuk memulai pelajaran selanjutnya. Namun, ada beberapa murid yang masih duduk diteras kelas menunggu gurunya sampai masuk. Hal yang paling mendebarkan sekaligus menjengkelkan adalah ketika sesudah upacara, dilanjutkan dengan mata pelajaran yang gurunya killer. Begitulah yang dirasakan Gita dan teman-teman kelasnya saat ini.

"Lo kenapa sih?" Ucap Gita yang melihat wiwit menggerak-gerakkan kakinya sedari tadi.

"Setiap pelajarannya bu Gen, gue deg-degan gini" Jawabnya sambil menggigit ujung pena nya.

Gita tertawa melihat tingkah sahabatnya satu itu. Sementara itu, lulu yang duduk dibelakangnya tiba-tiba teriak.

"Ih jorok banget sih lo, upil tarok di meja. Bolot banget" Teriak lulu yang melihat Tono sedang mengupil kemudian diletakkan di mejanya.

"Apasih lo, berisik banget, nggak tau apa orang lagi nikmat gini" Ucap Tono sembari mengerjapkan matanya.

Lulu menggedikkan bahunya geli, lalu berdiri dan pindah tempat duduk didepan ujung. Karna saat ini, yang punya meja sedang tidak masuk.

Suasana yang tadinya riuh, berubah menjadi tegang ketika bu Gen masuk. "Woy bu Gendut woy dateng"
Ujar Aldi yang berlari masuk kedalam kelas, disusul Wawan dan Adit yang juga ikut masuk kekelas. Sejak tadi ketiganya memang duduk diteras kelas karna guru belum masuk.

Kemudian, dibelakang mereka terlihat bu Gen yang berjalan membawa beberapa kertas ditangannya.

Nama aslinya bu Gendis guru sosiologi, beberapa siswa memanggilnya bu Gen, karna singkat sehingga lebih mudah diingat dan diucapkan. Namun, lain halnya dengan teman kelas Gita, mereka memanggilnya dengan sebutan bu Gendut plesetan dari bu Gendis, karna tubuhnya yang gemuk. Bu Gendis adalah guru senior yang belum pensiun, karna usianya yang sudah tua, ia seringkali memberi tugas aneh-aneh sehingga sulit dimengerti oleh muridnya terlebih ia selalu merasa dirinya benar dan tidak pernah salah.

Seperti pada saat itu, mereka disuruh membuat laporan penelitian tentang beberapa kejadian sosial yang ada disekitarnya. Mereka disuruh mencari judul yang tepat kemudian jika di ACC oleh bu Gendut, langsung melakukan penelitian. Waktu itu Tono yang mendapat judul Judi Kartu, harus melakukan penelitian kepada orang yang melakukan wawancara judi kartu, alhasil karna takut, ia meminta Aldi untuk berpura-pura menjadi bapak-bapak pemain judi kartu. Dan Alhamdulillah bu Gendis mempercayainya. Sehingga semua kelas mengikuti Tono.

"Hari ini kita UTS, semua tas diletakkan didepan kelas. Hanya boleh ada alat tulis diatas meja. Jika ada yang ketahuan mencontek, ibu robek kertas ujiannya" Ujarnya lantang, lalu memukul mejanya dengan penggaris besar.

Semua murid meletakkan tasnya didepan kelas, namun bukan Aldi namanya kalau mengikuti perintah guru. Ia memang meletakkan tasnya didepan, tetapi menyelipkan hp di saku bajunya.

"Ih kesel banget gue sama ibu ini, seneng banget bikin muridnya jantungan dikasih ujian mendadak gini" Ujar Wiwit kepada Gita dengan setengah berbisik.

"Sstt udah kerjain aja. Lo mau kena hukuman?" Tanyanya.

Wiwit menggelengkan kepala. Tak lama UTS pun selesai karna bel pergantian jam berbunyi.

-----

Halohaa
Gimana puasanya? Lancar kan?
Inget ya puasa nggak cuma hawa nafsu, tapi juga puasa lisan.
Jadi jangan ghibah ya hehe

Jangan lupa bintangnya yaa..
Tunggu part selanjutnya🌹

BLOW METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang