Kalau ada seseorang yang tulus datang kepadamu, genggam jangan dilepaskan. Karna mungkin itu salah satu doa yang dikabulkan Tuhan untukmu.
-------
Gavin mengantarkan gita sampai rumahnya. "Makasih vin" Ujar gita, lalu melepaskan helm yang dikenakannya.
"Eh ngomong-ngomong, lo selalu bawa dua helm?" Tanyanya lagi.
Gavin melepaskan helmnya, lalu meletakkannya diatas motor. Terlihat cool dan tampan. "Sejak ketemu sama lo, ya kali aja kan lo bareng gue" Ujarnya lalu terkekeh.
"Kalo gue nggak mau gimana?"
"Ya gue paksa terus lah sampe mau"
Gita mendecih, lalu terkekeh geli. "Kalo gue bener bener nggak mau gimana?"
"Gue cium" Ujarnya spontan yang membuat gita terkejut. Namun ia tertawa melihat ekspresinya.
"Hahaha muka lo ih. Blusshing ya"
"Berisik. Pulang sana". Gita memalingkan mukanya, lalu mengusir gavin yang ada didepannya.
"Eh ada tamu. Siapa?" Tanya ghani yang baru saja datang. "Oh pacar gita ya?" -tambahnya lagi.
Gavin beranjak turun dari motornya, lalu bersalaman sopan. "Belom bang" Ujarnya.
"Belom, berarti mau dong"
"Doain aja bang" Ujar gavin lagi, yang membuat gita melotot kearahnya.
"Mauan sih sama adek gue. Jangan deh, dia reseh"
Gita memukul lengan abangnya, lalu mengomel dan menyuruhnya masuk. "ABANG IH!! Masuk sanaa"
"Eh vin, makasih ya. Gue masuk. Bay". Gita masuk kedalam rumahnya sembari mendorong-dorong ghani masuk kedalam. Gavin tertawa melihatnya, lalu melaju.
****
Gita masuk kedalam rumahnya dengan raut mukanya yang kusut. "Abang tuh ih ngapain sih keluar"
"Yee kan nggak tau kalo ada cowok lo"
"Bukan cowok guee". Gita hampir melemparkan sepatu kearah ghani.
"Ada apasih berisik ini?" Ujar nita, mamanya.
Gita terkejut mendengar suara mamanya, suara yang sangat ia rinduka beberapa hari belakangan ini. Karna kedua orang tuanya yang sibuk bekerja ke luar kota.
"Mamaa" Pekik gita, lalu menghamburkan pelukannya kepada mamanya. "Mama ih, kapan pulang?" -tambahnya.
Nita mengelus rambut putrinya yang saat ini berada dalam pelukannya. "Tadi. Kan surprise dong buat gadis mama"
"Dih manja banget sih" Ujar ghani sambil memakan cemilan yang dibawanya. Lalu, gita menyelewekannya.
"Makan yuk. Mama masak sesuatu yang enak banget". Nita bangkit dari duduknya, lalu menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.
Gita celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. "Papa mana ma" Tanyanya.
"Papa tadi pergi lagi ke kantor, ada meeting"
Gita mendengus kasar, lalu mengerucutkan bibirnya. Nita tersenyum melihat putrinya yang cemberut, lalu mengelus rambutnya. "Nanti pasti balik kok. Jangan sedih ya"
Gita mengangguk pelan dan tersenyum.
"Lebay banget sih lo" Ujar ghani yang kini tengah menyantap makanannya.
"Biarin"
"Kalian berdua ini ya, berantem terus. Saudara cuman dua tapi ribut terus. Udah gede padahal"
Gita menyelewekan kearah ghani, begitupun sebaliknya.
"Ma tau nggak, tadi gita pulang sama pacar-". Belum sempat ghani melanjutkan pembicaraannya, ia kesakitan karna kakinya diinjak oleh gita. "Aww"
"Apasih abang ini"
"Bener ma. Tadi gita pulang dianter pacarnya. Eh belom deng katanya, belom ditembak. Lumayan lah cakep tapi tetep kalah jauh sama ghani, ya kan git?" Tanyanya dengan senyum yang menyeringai.
"Enggak maa bukan"
"Oh anak gadis mama udah gede dong ya"
"Mama nggak tau? Dia kan dulu pernah pacaran eh tapi diselingkuhin" Ujar ghani tanpa mersa bersalah.
Gita semakin naik pitam karna diledek terus-menerus, lalu berteriak. "ABANG IHHH"
Ghani yang mendengarnya langsung berlari kedalam kamarnya, lalu ia tertawa sampai tawanya terdengar keseluruh ruangan dirumahnya. Kalau gita bilang, tawa ghani itu geledek.
****
Gita terlungkup diatas kasur dengan musik box yang bernada merdu ditangannya. Boneka kecil yang ada diatas bix musik tersebut terlihat berputar seraya mengikuti alunan merdu suaranya. Ia melirik jam dindingnya yang mulai menunjukkan pukul 8 malam. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada satu pesan masuk disana.
0812XXXXXXX : Udah tdr belom?
"Siapa ya?"
"Oh iya lupa. Gavin"
"Oh"
"Oh aja nih? Sakit hatiku"
"Apasih alay"
"Lo belom tidur?"
"Blm. Knp?"
"Singkat amat sih elah"
"B aja. Mau gak gue bales?"
"Eh jangan. Yaudah deh nggak papa, siapa tau nanti lama-lama terbiasa"
"Najis"
"Yaudah deh tidur sana. Mimpi indah ya". "Eh jangan lupa di save. Gavin calon pacar"
Gita menyudahi chatting-annya dengan gavin tanpa membalas lagi. Sebenarnya ia malas sekali berurusan dengan gavin, apalagi makin kesini makin aneh tingkahnya kepada gita. Tidak menutup kemungkinan ada maksud terselubung dibalik baiknya gavin kepadanya. Sedangkan dulu, gavin selalu saja mencari ribut dengan gita.
"Ck apasih mau anak itu" Gumamnya kesal.
-----
Author kasih yang santai dulu ya, sebelum nanti dikejutkan dengan yang baper-baper😆😆
TBC😊
Jangan lupa vote dan komennya yahhh😉🌟🌟🌟
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOW ME
Roman pour Adolescents🌻Ada yang bilang cinta itu indah. Tapi bagiku cinta itu pahit, berkali-kali aku merasakan yang namanya sakit hati. Selalu bangkit, lalu jatuh kembali dilubang yang sama. Entah aku yang salah memilih orangnya atau memang ada yang salah dengan diriku...
