CHAPTER 3

98 18 5
                                        

Kamu adalah butir kata yang sedang aku rangkai menjadi beberapa kalimat.
---------

Bel istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan keluar kelas, menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan. Bukan kantin namanya kalau saat iatirahat tidak ramai, murid-murid rela antri berjejelan untuk memesan makanan. Namun tidak semua murid ke kantin, ada yang membawa bekal dari rumahnya.

"Gila, gue tadi ngasal jawab soal bu Gen" Ujar lulu menepuk meja, yang kini sudah berada dikantin dengan kedua temannya.

"Ya elo tadi ngapain pindah kedepan". "Mba baksonya satu sama es tes, kalian apa?" Ucap Wiwit sembari mengucap pesanannya. Lalu, mba kantin tersebut memberikan kertas dan pena. Dikantin sini, memang disediakan kertas dan pena untuk murid yang ingin memesan makanan, karna kondisi kantin yang ramai, sehingga takut kewalahan.

"Ishh kesel gue". "Gue juga deh sama, tulis wit". Ujar lulu yang mengacak rambutnya frustasi. Ia yakin, bisa-bisa mendapat nilai nol. Sudah duduk didepan, tidak dapat contekan pula.

"Lo git?" Tanya Wiwit.

"Samain aja deh" Jawabnya.

Saat ketiganya tengah menikmati makanannya, tiba-tiba diujung sana terlihat Gavin dan teman-temannya yaitu Aksa dan Fauzan, sedang memesan makanan dan disampingnya terdapat 3 cewek yang selalu mendekatinya.

"Gavin sayang, kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin ya" Ujarnya sambil melendot manja ke Gavin.

"Terserah kamu deh" Jawabnya sembari tersenyum, lalu menoel dagunya.

Cewek bernama Sheila itu pergi memesankan pesanannya dan Gavin, bersama antek-antek dibelakangnya yakni Nia dan Nadia.

Sheila adalah ketua cherleaders yang bertubuh tinggi langsing dan berkulit putih. Ia menyukai Gavin sejak duduk dibangku kelas 10, selain karna tampan, ia juga menyukai karna Gavin adalah ketua tim basket yang terkenal. Keduanya sering pergi bersama, karna Sheila yang mengajaknya dan Gavin selalu menurutinya. Murid lain bahkan sampai mengira keduanya berpacaran.

"Gila lo, playboy kelas atasss. Kemaren balik sama Sisi, sekarang makan bareng Sheila" Ucap Aksa menggelengkan kepala.

Aksa adalah teman yang suka menasehati teman-temannya dengan ceramahnya yang menurut keduanya tidak penting.

"Bukan Gavin dong namanya kalo nggak bisa direbutin cewek". Ujar Ojan, disusul tawa ketiganya.

Oh iya, kalau ini namanya Fauzan tapi ia lebih senang dipanggil ojan, orang yang paling gokil diantara keduanya, selalu mengeluarkan jokes-jokes lucunya saat menggombali wanita.

"Berisik lorang dua, ya kan lumayan uang jajan gue berkurang sama dia" Jawab Gavin dengan senyum menyeringai. Kemudian tepuk tangan terdengar dari kedua temannya.

Sementara itu, beberapa pasang mata melihatnya dengan tatapan memuja, ada juga yang kesal karna tingkahnya yang sok kegantengan. Begitu pula dengan Gita yang kini tengah melihatnya dengan tatapan sinis.

"Yaallah bisa kenyang duluan nih gue kalo ngeliat Gavin didepan gitu" Ujar lulu, lalu tangannya yang menopang dagu dengan mata yang berbinar-binar.

"Gue tuh nggak suka amat sebenernya sama dia, tapi kalo dia senyum rasanya meleleh hati gue, kayak lilin disulut api" Ucap Wiwit yang juga menengok kebelakang dengan mata yang berbinar. Karna posisi duduknya yang membelakangi Gavin.

Gita menenggol lengan keduanya. "Lo berdua ini udah nggak waras kali ya, cowok kayak gitu kok dipuja, makin gede kepala yang ada"

"Udah ah, sini wit gue pindah tempat lo" Ucapnya ketus. Lalu, Gita pindah ketempat Wiwit, membelakangin Gavin, karna ia enek melihat muka Gavin yang sok kegantengan seperti itu. Wiwit yang disuruh pindah malah semakin senang.

****

Bel masuk berbunyi, menandakan murid-murid harus masuk kelas dan mengikuti pelajaran berikutnya.

"Wit temenin gue ke wc yuk" Ucap Gita yang kini sedang berada didalam kelas.

"Ih sendiri aja deh lo, gue lagi berjuang hidup dan mati nih". Jawabnya. Kali ini pelajaran pak Anto, mereka mendapatkan tugas mereview cerita yang diberinya. Wiwit tipikal orang yang susah mengarang, lain halnya kalau mengarang kata-kata cinta, juara nomer satu bisa-bisa.

Gita mendengus. Dilihatnya kebelakang, lulu sedang serius mengerjakan, beberapa kali terlihat ia menghapus jawabannya dengan kasar dan terburu-buru.

Bisa dilihat kalau ia tengah kesal mengerjakan tugas. Sehingga Gita tidak berani mengganggunya, bisa-bisa bakal ngomel dari ujung rambut sampai kaki.

Alhasil, Gita maju kedepan dan permisi ke kamar mandi sendirian. Ia melewati koridor yang mulai sepi karna murid-murid lain yang masih mengikuti pelajaran didepan kelas. Namun, ia melihat rombongan Gavin dan teman-temannya tengah merokok diujung koridor dengan asap mengepul-ngepul.

-----

To be continued🌻
Jangan lupa bintangnya yaaa

BLOW METempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang