Beberapa kenangan hadir bukan untuk disesali karna kenangan hadir untuk memberikan pelajaran dan pelajaran memberikan kekuatan
____
Hari semakin sore, matahari mulai menenggelamkan dirinya tergantikan dengan sinar rembulan yang terang. Beberapa bus masih terlihat berlalu-lalang dikawasan kota tua. Sebagian toko-toko kelontong penjual pernak-pernik maupun makanan khas kota tua jakarta ada yang tutup dan ada sebagian yang masih buka, bahkan bertambah. Kali ini suasana kota tua benar-benar indah dan sejuk dimalam hari.
"Eh sorry" Ujar rain, lalu menghapus air matanya yang sejak tadi menetes.
Gavin mengangguk dan tersenyum, lalu ia bangkit dari duduknya. "Santai. Masuk ke kotu lagi yok bentaran abis itu balik"
Gita mendongak kearahnya, lalu tersenyum. Kemudian berdiri dan keduanya kini, sudah berada lagi didalam kawasan kota tua. Dilihatnya, banyak pengunjung atau wisatawan yang masih duduk-duduk di depan museum Fatahillah. Sebenarnya siang, sore ataupun malam hari didepan museum Fatahillah memang banyak pengunjung yang duduk-duduk, bahkan ada sepeda jika ada yang ingin menyewanya.
"Sini bentar" Ujar gavin. Lalu keduanya duduk berselonjor bersama para pengunjung lainnya didepan museum Fatahillah.
"Coba lo liat keatas" Ujarnya lagi, lalu menunjuk kelangit.
Gita mengikuti arah yang ditunjuknya. "Ada apaan?" Tanyanya.
"Lo liat bintang-bintang itu? Walaupun kecil dan bahkan sesekali nggak keliatan kalo awan lagi mendung. Tapi dia tetep berdiri kokoh disana membantu penyinaran bumi saat malam hari" Ujar gavin sambil melihat keatas dan tangannya yang menunjuk kearah beberapa bintang.
"Terus maksudnya?" Tanya gita, yang masih ikut menengadahkan kepalanya melihat langit.
Gavin tersenyum, lalu menurunkan jarinya dan menengok kearah gita. "Artinya, meskipun arah melintang sekalipun dia nggak pernah egois, selalu terang bersinar walau dia juga sedih kalo tiba-tiba jejaknya hilang tertutup awan. Begitupun buat lo, nggak usah sedih mikirin hal yang seharusnya udah nggak perlu lo fikirin, lo harus tetap tersenyum bersinar buat orang-orang disekitar lo"
Gita menengok kearah gavin yang kali ini menatapnya dengan serius. "Hidup itu kayak air, biarin semuanya ngalir sesuai porsinya" Ujarnya lagi.
"Iya gua faham. Makasih ya" Ujar gita tersenyum.
"Eh tapi kalo kali ini gue yang ada dalam kenangan lo, percayalah gue nggak bakal buat lo nangis"
"Cihh apasih" Ujar gita malu-malu, lalu memalingkan muka. Sedangkan gavin yang melihatnya pun tertawa.
Suasana semakim ramai, sejuk dan indah, kota tua kali ini benar-benar membuatnya senang dan nyaman. Terlihat sinar kuning redup terpancar dari salah satu kafe yang masih buka pada malam hari; Càfe Batavia.
Beberapa muda-mudi terlihat mesra bersama pasangannya. Berpegangan tangan, berjalan bersama dan sesekali tertawa bersama. Itulah yang gita lihat saat ini. Setelah kepergian Abi, ia belum menemukan sosok pengganti yang bisa menggantikan Abi dihatinya. Gita adalah tipikal orang yang sulit membuka dan menutup hati.
"Yuk balik udah malem"
Keduanyapun melanjutkan perjalanan pulang. Menyusuri kota malam jakarta, banyak lampu-lampu yang menghiasi jalanan. Jakarta selalu ramai, dari pagi hingga malam.
"Makasih ya" Ujar gita, lalu turun dan melepaskan helmnya.
"Kiss dong" Jawab gavin, sambil memajukan pipinya.
"APA!!! MAU GUA TAMPOL LO!!!". Ujar gita, sembari melayangkan tas yang digenggamnya. Gavin tertawa melihatnya, kemudian melaju.
****
Gita terlungkup diatas kasurnya dengan boneka beruang disampingnya. Boneka beruang pemberian Abi saat keduanya merayakan anniversary satu bulan hubungannya. Kala itu, abi mengajaknya ke sebuah kafe dengan kerlap-kerlip lampu yang bercahaya indah, ia memberinya kejutan dengan membawa kue yang diatasnya lilin, beserta boneka beruang disampingnya.
Gita mengerjapkan matanya, ia berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Kenangan itu cukup ada diingatan, bukan dihati.
Tokkk tokk tokk...
Terdengar pintu diketuk, sedangkan gita masih terdiam, tak bergerak dan tak menjawabnya.
"WOYYY!! Kalo diketok itu dibuka. Kalo gue langsung buka terus lo lagi gapake baju gimana"
Gita berdecak kesal karna lamunannya dibuyarkan oleh datangnya bang Ghani kekamarnya. "Lagian ada apaan sih" Ujarnya kesal.
Ghani masuk kedalam kamar gita, lalu menarik kursi belajarnya menghadap gita. "Gue mau minta bantuan nih"
Gita memutarkan bota matanya, lalu menghela nafas. "Huhh pasti masalah kak feby lagi nih" Ujarnya.
Memang, tiap kali Ghani ada masalah dengan feby; pacarnya, pasti gita yang disuruh membujuk feby untuk berbaikan. "Ya tolonglah dekku yang cantik"
"Hm. Jadi gue ngapain nih?" Tanyanya.
"Ya lo pura-pura nelpon aja gitu, bilang bang ghani dari tadi nggak keluar kamar, nggak mau makan. Gitu gituin deh" Ujarnya.
"Dih boong banget lo"
"Udah sih elah, besok gue kasih duit gocap"
"Wah nggak mau ah gocap doang, lipstik kurang nih. Cepek lahh"
"Wah pemerasan ini namanya" Ujar ghani kesal, karna merasa dimanfaatkan.
"Dih yaudah kalo nggak mau. Gue sih santuy aja, kal elo yang butuh"
Ghani berdecak kesal, lalu berdiri. "Yaudah deal, tapi harus beres loh" Ujarnya sembari keluar kamar.
"Sip" Ujar gita, lalu mengangkat jempolnya.
------
Segini dulu yaa hehe
Ayoo komen dong gimana ceritanya😊
Tunggu part selanjutnyahhh
Jangan lupa votenya ya🌟🌟🌟
Buat yang udah baca dan vote, makasih banyak yaaa hehe.
Salam sayang dari author💋❤
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOW ME
Teen Fiction🌻Ada yang bilang cinta itu indah. Tapi bagiku cinta itu pahit, berkali-kali aku merasakan yang namanya sakit hati. Selalu bangkit, lalu jatuh kembali dilubang yang sama. Entah aku yang salah memilih orangnya atau memang ada yang salah dengan diriku...
