Deg,
Hati Reana seakan tersayat, jantungnya seakan memberontak dengan bibir yang terasa kelu untuk mengeluarkan sebuah kata.
Ia sangat tertegun oleh apa yang ada di hadapannya saat ini. Dua makhluk yang dimana salah satunya adalah seseorang yang kini sudah menyandang status sebagai suaminya dan satunya lagi adalah seorang perempuan yang tak Reana kenal sama sekali.
Perasaan Reana seakan semakin tersayat saat melihat perempuan itu bergelayut manja pada lengan Detha yang Reana sendiri belum pernah menyentuhnya. Reana menatap Detha dengan tatapan tajam.
"Bu Reana yang terhormat, silahkan dimulai meetingnya" ucap perempuan itu dengan senyum genit yang bagi Reana adalah senyum menjijikan.
"Oh... Baik. Mari kita mulai" jawab Reana sembari mendudukkan badannya dan menatap layar laptopnya dengan senyum seperti orang yang sedang baik-baik saja.
Ia hanya ingin terlihat profesional di depan kliennya, dan Reana segera memulai meetingnya dengan memainkan tak-tik khas milik Reana.
-skip meeting-
"Sayang, kamu udah selesai, kan? Kita balik yuk" kata perempuan itu dengan sangat manja.
Sayang? -bhatin Reana.
"Maaf, saya pamit untuk balik ke ruangan dulu. Permisi" pamit Reana.
Tak lupa ia memberikan tatapan sinis untuk perempuan di samping Detha dan berlalu dari hadapan kedua makhluk itu. Rapuh, itulah yang Reana rasakan.
Detha menatap kepergian Reana dari ruang meeting, pria itu benar-benar tidak menyangka jika pemilik saham "Greliya Company" adalah Reana, istrinya sendiri. Begitupun Reana, ia tidak menyangka sama sekali bahwa "Bagary Group" adalah perusahaan milik Detha, suaminya.
*****
Reana membuka pintu ruangannya dan menutupnya kembali. Ia mengunci pintu ruangan tersebut, setelah itu tubuhnya luruh ke lantai dengan punggung yang bersandar pada pintu ruangannya. Air matanya seketika mengaliri pipinya.
"Kenapa gue sesakit ini sih, Detha? Lo sadar gak sih apa yang Lo buat, apa yang Lo lakuin... ini ngebuat gue bener-bener rapuh.. tapi kenapa gue harus serapuh ini?" Ucap Reana disela air matanya yang terus mengalir.
Reana tidak bisa di kantor hingga jam pulang. Ia benar-benar butuh ketenangan saat ini, ia ingin menyendiri di kamarnya. Dengan langkah cepat Reana keluar dari ruangannya dan menuju mobilnya.
Setelah beberapa saat di perjalanan, kini Reana melangkahkan kakinya pada lantai rumah dan langsung menuju kamarnya. Ia mendudukkan tubuhnya pada tempat tidur dengan tubuh yang ia sandarkan pada sandaran tempat tidur. Air matanya kembali jatuh saat kejadian di ruang meeting kembali melintas di pikirannya.
Setelah beberapa jam setelah Reana sampai rumah, kini terlihat Detha melangkahkan kakinya lebar memasuki rumah. Pria itu terlihat membuka jas kerja yang ia kenakan dan melampirkannya pada sofa ruang tengah, ia mencopot dasinya, lalu melipat lengan kemejanya hingga mencapai siku, ia benar-benar khawatir dengan Reana. Apalagi setelah kejadian di ruang meeting.
"Bi, Reana udah pulang?" Tanya Detha pada Bi Titin yang berada tak jauh dari Detha.
"Sudah kok Den" jawab Bi Titin.
"Terus dia udah makan?" Tanya Detha lagi.
"Tadi teh langsung ke kamar. Non Reana belum makan... Sepertinya dari kemarin malam. Bibi teh gak tau kenapa Non Reana gak makan, mungkin Non Reana lagi banyak pikiran, Den" jelas Bi Titin.
Detha mengusap wajahnya gusar dan segera mengambilkan makanan yang Bi Titin masak, lalu beranjak menuju kamar Reana.
Lo mikirin apa sih, Re... Sampe gak makan kaya gini? Apa mungkin gara-gara di ruang meeting tadi? -bhatin Detha.
Ceklek,
Pintu kamar Reana terbuka, saat itu pula muncullah Detha lengkap dengan sebuah nampan yang berisi sepiring nasi dan segelas air mineral.
Reana menatap Detha sekilas lalu membuang muka ke arah lain. Detha menghela nafas dan meletakkan nampan yang ia bawa pada nakas di samping tempat tidur Reana.
"Sekarang Lo makan dulu" kata Detha yang tak digubris oleh Reana.
Tidak mendapat respon dari istrinya, Detha memilih untuk berlalu meninggalkan kamar Reana dan menutup pintu kamar Reana.
Reana tidak memakan sesuap pun makanan yang Detha bawakan untuk dirinya. Seketika air mata Reana tumpah kembali. Ia terlalu sakit untuk saat ini. Baru saja ia merasakan bahagia karena perubahan sikap akhir-akhir ini, tapi kini? Ia malah sakit kembali.
"Kenapa jadi istri Lo sesakit ini sih, Detha?!!! Andai gue tau kalo Lo gak pernah berusaha buat buka hati Lo untuk gue, gue gak bakal berharap hubungan kita akan baik!!! Lo malah punya cewek diluaran sana... Hati gue sakit Detha!!! Apa gak ada terlintas sedikit pun dipikiran Lo buat berusaha cinta sama gue? Kenapa Lo hianatin orang tua gue, Detha?! Kenapa Lo hianatin orang tua Lo sendiri!!!!" Ujar Reana dengan gusar dan sesekali berbaur dengan isakannya.
Tanpa sepengetahuan Reana, sepasang telinga mendengar seluruh ucapannya dari balik pintu kamar. Detha... Ya! Detha mendengar semua kalimat yang istrinya ucapkan. Ia hanya mampu mengukir senyum kecut bercampur getir saat mendengar kata-kata Reana, istrinya.
Maafin gua, Re... Lo cuma gak tau posisi gua saat ini. Gua bakalan jelasin semuanya... Tapi gak sekarang -bhatin Detha dan berlalu ke kamarnya.
***
Terkadang, cinta itu rumit. Bertindak membuat kita kehilangan dan diam membuat kita sakit. Tapi, pernahkah kita menatap senja? Ia tidak akan diam saja dan membuat sakit, ia rela cahaya dan indahnya hilang, lalu berganti dengan gelapnya malam, untuk menjelang cantiknya pagi🙃
-author
***
TBC
Aku tepatin janji nih man-teman 😁
Maap klo kemaleman update-nya 🙏
Btw... Gmna nih yg bagian ini? Smga suka ya☺️ mksi jg yg udh sll baca kisah Detha dan Reana ❤️❤️
Sll tnggu bagian selanjutnya yaa😉
Vote dan comment yaa!!
Ttp dirumah aja man-teman!! 🙌
Love semuaaaa ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SUAMIKU(End')
Teen FictionMasih tentang perjodohan konyol yang dialami oleh Reana dan Detha. Reana, gadis cantik nan karismatik, dengan kedudukan sebagai CEO muda di perusahaannya harus menghadapi perjodohan konyol permintaan dari ayah dan bundanya. Detha, pria tampan nan...
