Reana terbangun dari tidurnya, tak terasa untuk Reana, kini hari telah beranjak sore. Ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan sinar yang ada pada kamarnya.
Saat ia akan bangun dari posisi tidurnya. Reana merasakan pinggangnya sedikit berat. Dan benar saja, sebuah lengan melingkar posesif pada pinggangnya. Karena Reana yang tidur membelakangi sang empunya tangan, itu menyebabkan ia harus membalikkan badannya.
Deg,
Badan Reana menegang seketika, desiran pada hati dan darahnya menghampiri dirinya. Sesaat kemudian sebuah senyum mengembang pada wajah Reana.
Ia menatap setiap inchi wajah Detha, wajah yang terlihat damai dalam tidurnya. Terlintas pada benak Reana agar ia tidak memindahkan lengan milik suaminya. Namun, ia tepis secepatnya.
Reana bergerak menyingkirkan lengan Detha dengan perlahan, lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia membersihkan badannya, setelah itu turun menuju sebuah ayunan yang terletak di dekat kolam berenang.
Reana mendudukkan tubuhnya di sana, sesaat ia mengingat pahitnya menjadi dirinya, pahitnya menjadi istri seorang Detha. Sesaat Reana tersenyum kecut mengingat itu semua.
Drttt drtt drttt..
Ponsel genggam yang tergeletak di samping Reana bergetar. Dengan cepat Reana meraihnya dan menggeser tombol hijau yang ada pada layar ponsel itu karena di sana tidak tertera nama sang penelepon, jadi ia takut kalau itu adalah kliennya.
"Hallo, dengan Reana disini. Ini dengan siapa?" Sapa Reana.
"Ini gue, Zara" ucap sang penelepon. Terlihat Reana yang mengeryit mengingat-ingat sesuatu.
"Ah... Iya-iya, gue inget. Ya ampun... Lo kemana aja sih, Ra? Kangen banget deh. Eh iya, gimana nih kabar Lo sama suami?" Tanya Reana dengan senangnya.
Zara adalah sahabat SMA-nya, mereka berpisah saat lulus SMA karena beda jurusan kuliah.
"Baik kok, Re. Sekarang sih, anak udah dua, kembar laki. Lo gimana?"
"Gue... Gue udah jadi istri sekarang, gue udah nikah. Yaaa sama kaya Lo... Cuma bedanya... gue belum punya anak" ucap Reana dengan rasa canggung.
"Wah-wah... Lo kok nggak ada kabar mau nikah sih? Eh tapi nggak usah dibahas deh, terus-terus suami Lo gimana tuh orangnya?"
"Perjodohan, Ra. Mama sama papa jodohin gue. Dia sih orangnya baik, mapan, ganteng juga sih. Cuma ya gitu..." Reana menggantungkan ucapannya, kejadian saat dikantornya beberapa saat lalu kembali terlintas pada pikirannya.
"Cuma dia masih punya cewek lain diluar sana" lirih Reana tanpa terdengar oleh Zara. Namun, jika ada orang di sekitar Reana. Yakin, pasti orang itu dapat mendengarnya.
"Cuma apa, Re? Dia jahat ya sama Lo? Dia kenapa, Re?" Tanya Zara bertubi-tubi yang berhasil membuyarkan lamunan Reana.
"Hah? Eh... Nggak papa kok, Ra. Cuma dia itu... Cuma dia... Sedikit dingin... Yaaa dia sedikit dingin, Ra" jawab Reana dengan gelagapan.
"Beneran?"
"Iya, beneran kok"
"Ya udah. Oh iya, Re... Gue kan besok sampe di sana nih. Gue mau dong kerja di kantor Lo"
"Lo balik ke sini?"
"Iya, bareng anak-anak sama suami, Re"
"Ok, kalo gitu... Lo kerja di kantor gue dan jadi sekretaris gue"
"Hah? Sekretaris? Emang nggak papa, Re?"
"Nggak papa, Ra"
"Ya ampun, makasih banyak ya, Re. Suami gue juga ngurus kerjaannya dan gue juga gitu"
"Lah... Terus si twins siapa yang ngurus?"
"Di titip di baby sitter"
"Oh, oke-oke. Udah dulu ya" ucap Reana. Setelah itu, Reana memutuskan sambungan teleponnya dan menyandarkan badannya pada sandaran ayunan.
"Aku harus gimana lagi sekarang? Aku sama sekali nggak ngerti sama perasaan Detha sebagai suami aku. Ditambah lagi dia punya cewek di luar sana" ucap Reana sedikit tersendat.
Tanpa Reana sadari, sepasang mata dan sepasang telinga melihat dan mendengar seluruh kata-kata Reana.
"Re, minum susu dulu nih" ucap Detha tiba-tiba.
"De-Detha?" Ujar Reana gugup karena kedatangan Detha.
"Kenapa? Heran? Kaget?" Tanya Detha dengan alis yang ia angkat sebelah, lalu duduk di samping Reana. Reana hanya dapat mematung dan merutuki dirinya dalam hati.
"Mending minum dulu susunya. Oh... Atau aku deh yang minum, tapi aku gak mau susu yang ini" kata Detha. Reana yang mendengar itu langsung menatap Detha tajam.
"Kamu itu yaa..."
"Iya Re iya, udah... Mending minum susunya dulu, keburu dingin nanti" kata Detha dan dituruti oleh Reana.
"Re... kamu gak perlu mesti gimana-gimana. Intinya, aku gak pernah punya pacar, aku... aku bakal jelasin, tapi pas waktunya udah tepat. Aku janji, Re" kata Detha sembari menggenggam hangat tangan kanan Reana yang terbebas dari gelas yang berisi susu.
Reana menatap Detha dengan dalam, ia ingin sekali Detha menepati janjinya, bukan sekedar omongan yang hampa. Sesaat kemudian, Detha menarik tubuh Reana kedalam pelukannya. Reana hanya memejamkan matanya dan menikmati pelukan Detha saat ini, pelukan yang bagi Reana sudah menghangatkan dan menyamankan.
***
Ketika rasa itu mulai menghangatkan dan menyamankan, kau akan seperti terpenjara dalam balutan rasa yang kian terus mengalir. Lalu, apa kau akan bisa beranjak dari rasa itu?
-author
***
TBC
Hai gmn nih bagian ini? Semoga suka ya🤗
Tunggu terus bagian selanjutnya dari kisah Detha dan Reana😉
Stay tuned 💛
Vote and comment!
Ttp dirmh aja ya man-teman 😙
Love semuaaaa ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SUAMIKU(End')
Teen FictionMasih tentang perjodohan konyol yang dialami oleh Reana dan Detha. Reana, gadis cantik nan karismatik, dengan kedudukan sebagai CEO muda di perusahaannya harus menghadapi perjodohan konyol permintaan dari ayah dan bundanya. Detha, pria tampan nan...
