Reana memasuki kantornya. Ia melangkahkan kakinya dengan sesekali menebar ukiran senyum manisnya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Reana mengulum senyum untuk atasan mereka itu, dengan senang hati Reana membalas tebaran senyum itu.
Reana memasuki ruangannya dan memulai kegiatannya di dalam dunia kerja. Ia mulai memfokuskan dirinya pada berkas-berkas yang ada di hadapannya.
Tok, tok, tok...
"Masuk!" Ucap Reana dengan nada tegasnya dan terlihat sekretarisnya saat pintu telah dibuka.
"Maaf, Bu. Diluar ada wanita yang katanya sekretaris ibu yang baru" kata Anis dengan sopan, sekretaris pertama Reana.
Reana terlihat mengangkat salah satu alisnya, seraya mengingat-ingat tentang sekretaris baru. Tak beberapa lama, ia menyunggingkan senyumnya dan segera meminta Anis untuk mempersilahkan Zara masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi" kata Zara dengan sopan. Reana tersenyum dan memeluk Zara dengan hangat.
"Anis perkenalkan.. ini Zara. Mulai hari ini, dia akan bekerja dengan kamu, saya harap kalian bisa menjalin hubungan baik, dan Zara.. ini adalah Anis, sekretaris saya dari dulu" jelas Reana saling memperkenalkan dua wanita itu. Terlihat kedua wanita itu mengangguk dan tersenyum tanda mengerti.
"Oke, kalo gitu.. Anis tolong kamu antarkan Zara keruangannya dan jelaskan tugas apa yang harus ia kerjakan. Oh iya, satu lagi, tolong perkenalkan Zara dengan semua teman-teman kantor" pinta Reana yang segera diangguki Anis.
Setelah dua sekretarisnya keluar dari ruangannya, Reana kembali mendudukkan tubuhnya pada bangku kebesarannya dan kembali fokus pada kerjanya.
Drttt, drtt...
Ponsel Reana bergetar, sekilas mata Reana melirik ponselnya dan setelah itu langsung meraih ponselnya.
Husband 💙
Re, nanti malem kita pergi ke pernikahan temen kantor aku. Kamu pulang lebih awal, bisa kan?
Reana membaca notif tersebut, sebuah senyum terukir pada sudut bibirnya saat membaca nama dari pengirim notif itu.
Wife❤️
Ya udah.. nanti aku pulang lebih awal.
Setelah itu, Reana fokus pada kerjaannya kembali hingga jam kerja yang ia targetkan hampir tiba. Reana segera berkemas dan langsung keluar dari ruangannya untuk menuju mobilnya.
Saat sampai rumah, Reana segera menuju kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi Reana untuk bersiap, kini ia keluar dari kamarnya dengan sosok Reana yang sangat-sangat anggun.
Tepat saat Reana keluar dari kamar, terlihat Detha yang keluar pula dari kamarnya. Spontan mata Reana terkunci pada Detha yang mengenakan kemeja putih lengkap dengan balutan jas berwarna hitam.
Begitu juga dengan Detha, manik mata milik pria itu terus saja terkunci untuk selalu menatap istrinya yang kini terbalut dress hitam tanpa lengan, senada dengan warna jas yang Detha kenakan. Tanpa mereka sadari, mereka saling menyunggingkan senyum.
"Udah siap? Yuk berangkat" kata Detha yang dibalas anggukan kecil dari Reana.
Detha melangkahkan kakinya seraya menggenggam tangan kiri Reana, tapi Reana malah mencekal lengan Detha dengan tangan kanannya. Detha yang menyadari cekalan itu beralih menatap Reana sembari menaikkan salah satu alisnya.
"Kenapa, Re? Ada yang kelupaan atau.. oh, kamu gak suka aku gan.."
"Kamu yakin mau berangkat dengan..."
Reana menggantungkan kata-katanya sembari mendekat ke arah Detha dan bergerak untuk membenahi kerah jas dan kemeja yang Detha gunakan.
"Kalo mau pergi kemana-mana itu harus rapih dong, masa iya semberautan kayak gini" gumam Reana mengoceh yang membuat Detha menyunggingkan senyumnya.
"Oh ya? Kalo aku sih bakalan pilih semberautan aja setiap mau pergi" ujar Detha yang membuat Reana menatapnya dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Kok gitu?" Tanya Reana.
"Iyaa.. biar bisa diperhatiin sama kamu kayak gini nih" jawab Detha polos dan bergerak untuk melingkarkan lengannya pada pinggang Reana.
Reana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya jengah, tapi Reana tidak merespon apapun itu saat Detha melingkarkan lengannya pada pinggang ramping miliknya.
Reana hanya terfokus pada kerah kemeja dan jas yang Detha kenakan. Setelah rapih kembali, Reana menatap Detha yang kini juga menatapnya.
"Udah selesai nih, yuk berangkat... Nanti telat" kata Reana dan bergerak untuk melepaskan pinggangnya dari lengan Detha.
Namun, Detha malah menarik pinggang Reana kembali yang menyebabkan tubuh mereka berhimpitan. Seketika, jantung Reana berdetak tidak semestinya.
"Detha..." Peringat Reana.
"Kalo aku mau kayak gini terus, gimana? Kamu juga gak bisa lepas. Kan, aku yang borgol kamu.. nihhh" kata Detha seraya menghimpitkan kembali tubuhnya dengan sang istri.
"Detha!!!" Seru Reana dan melepaskan paksa pinggangnya. Tawa Detha pecah seketika.
"Ahahaha... Ya udah iya, maafin aku.. yuk kita jalan sekarang" kata Detha sembari meredakan tawanya.
Reana mendelik kesal dan langsung beranjak menuruni anak tangga, Detha hanya mengikuti istrinya dari arah belakang.
"Re, jangan jauh-jauhan jalannya... Gini aja udah" ucap Detha sembari merangkul pinggang Reana dengan posesif. Reana hanya menatap wajah suaminya, lalu tersenyum hangat.
TBC
Gmn nih bagian ini? Smga suka ya man-teman🤗 mksih bgt buat tmn" yg udh mau bca kisah Detha dan Reana 🙏
Ttp tunggu kisah" Detha dan Reana yg selanjutnya ya😉
Stay tuned 💛
Vote dan comment☺️
Ttp dirmh aja man-teman!
Love semuaaaa ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SUAMIKU(End')
Teen FictionMasih tentang perjodohan konyol yang dialami oleh Reana dan Detha. Reana, gadis cantik nan karismatik, dengan kedudukan sebagai CEO muda di perusahaannya harus menghadapi perjodohan konyol permintaan dari ayah dan bundanya. Detha, pria tampan nan...
