"Kamu mau minum apa Ra?" Amara bergidik ngeri mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Devan.
Ini sudah dua bulan setelah insiden penculikan itu. Galang dan Mr. Axel sudah diamankan polisi untuk mempertanggungjawabkan perilaku mereka. Papa Devan sudah bisa menjalankan bisnisnya dengan tenang, tanpa takut ada orang yang mencelakai anaknya.
Satu bulan setelah insiden itu, Amara semakin dekat dengn Devan. Dan satu bulan setelahnya, setelah tangan Devan sembuh, sesuai perkataannya di rumah kosong tempo hari, Amara menerima cinta Devan.
Namun hingga kini ia masih bergidik ngeri saat Devan memanggilnya dengan sebutan aku-kamu atau saat Devan mengucapkan kata-kata manis.
"Gausah sok manis," kata Amara.
"Emangnya gak boleh bersikap manis sama pacar sendiri?"
"Gak."
"Dih, biasanya cewek seneng deh kalau cowoknya bersikap manis. Kok elo enggak?"
"Ck, gue beda."
"Makanya jangan beda."
"Harusnya lo bersyukur dong, gue yang beda dari cewek lain ini jadi milik lo. Ini satu-satunya loh, di luar sana gak ada yang kayak gini lagi."
"Iya iya, gue bersyukur banget kok," kata Devan. "Jadi mau minum apa nih?"
"Seadanya aja."
"Semuanya ada buat lo. Lo mau hati gue sekarang juga ada kok," kata Devan yang mendapat likiran tajam dari Amara. Devan menggumam pelan dan berlalu ke dapur.
Hari ini hari Minggu, dan mereka sedang ada di apartemen Devan. Menunggu teman-temannya yang lain datang, karena rencananya mereka mau menghabiskan hari libur ini dengan berkumpul bersama.
Beberapa saat kemudian, Devan kembali dengan membawa segelas minuman sirup rasa jeruk dan mengambil duduk di sebelah Amara yang sibuk menonton televisi.
Tangan kiri Devan bergerak ke Amara. Meraih kepala Amara dan mengarahkannya ke bahunya. Amara nurut saja, dan memposisikan dirinya senyaman mungkin.
Tangan kanan Devan meraih tangan kiri Amara dan menggenggamnya.
"Tangan lo udah gapapa?"
Devan melihat tangan kirinya dan menggeleng pelan. "Udah gapapa kok."
Hening sesaat menghampiri mereka.
"Ada misi baru?" tanya Devan.
"Gak ada."
Ya, setelah kejadian itu Devan mengetahui pekerjaan Amara. Devan menilai pekerjaan itu terlalu berbahaya untuk Amara, dan ia ingin Amara meninggalkan pekerjaan itu saja. Namun Amara menolak, ia sangat mencintai pekerjaannya ini walaupun ia sadar betul kalau ini berbahaya.
Devan sudah tak pernah memintanya berhenti dari pekerjaan setelah beberapa kali meminta dan berakhir dengan pertengkaran yang panjang. Mau tak mau Devan menerima pilihan Amara karena tak mau perempuan itu menjauh karena merasa ia kekang.
Pintu apartemen Devan di ketuk. Cowok itu bangkit membukakan pintu. Mario yang berada paling depan tersenyum cerah dan tanpa sungkan langsung masuk diikuti oleh yang lain.
"Lah, udah di sini aja lo," kata Mario.
"Hm."
"Dingin banget sih," gumam Reyhan. Amara memutar bola matanya malas. Reyhan yang gemas pun mendorong pipi Amara pelan, yang mendapat decakan kesal dari sang empunya.
Devan sudah tidak marah lagi melihat kedekatan mereka. Karena Devan sudah tahu jika mereka memang dekat. Namun tak lebih sebagai sahabat dan rekan kerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Agent Fall In Love (TERBIT)
Fiksi Remaja[MAAF, BEBERAPA PART SUDAH DIHAPUS] [SEGERA OPEN PO KE-2] Amara Felicia Alexandria. Perempuan. Kelas XII. Sebenarnya Amara sama seperti perempuan seusianya yang lain. Kecuali sifat cuek dan fakta jika dia adalah seorang agen rahasia. Walau masih dud...
