"Selamat hari Minggu, V. Kau sedang apa?"Sapa Yeora mendekat padaku. Tapi aku lebih memilih untuk pergi meninggalkannya. Menenteng wadah berisi mainan yang sudah ku rapikan. Kemudian meletakkannya pada tempat semestinya.
Pagi ini aku melihatnya ada di rumah. Dugaanku ia sedang libur kerja.
Aku keluar dengan membawa gunting rumput. Ranting pohon yang kurasa mengganggu, kubuang agar pohonnya terlihat lebih rapi. Daun-daun kering yang jatuh berserakan kupungut satu persatu dan kumasukkan dalam tong sampah.
"Hari ini akan ada seseorang berkunjung. Tahu apa artinya itu? Biasanya orang yang datang kemari mempunyai dua tujuan berbeda. Berdonasi, atau mengadopsi. Berdandan lah yang rapi, oke?"
Aku memang sengaja menghindarinya, walau aku memahami maksud ucapannya. Tapi Yeora malah semakin menempel. Dan itu telak menggangguku. Karena saat aku melihatnya, bayangan di mana mereka berciuman semalam jadi terus berputar-putar di otakku. Aku kesal.
"V? Kau dengar aku?"
Aku menepis tangannya kasar. Ia terperanjat dan menatapku tak percaya.
"Kau terlihat marah. Ada apa? Apa aku menyakiti hatimu?"
Seseorang yang sedang marah, akan semakin menggila saat kau bertanya penyebabnya. Karena semakin kau bertanya, semakin dia mengingat alasan pemicu amarah itu sendiri.
Aku meninggalkan Yeora di pelataran rumah. Aku ingin pergi di suatu tempat yang tidak ada Yeora. Untuk hari ini saja. Aku muak melihat wajahnya.
