˙·٠•●♥ [ 𝓗 𝓸 𝔀 𝓘 𝓜 𝓮 𝓽 𝓜 𝔂 𝓑 𝓻 𝓲 𝓭 𝓮 ] ♥●•٠·˙
Aku pasti dikutuk. Aku tidak tahu apa yang telah kuperbuat di kehidupanku sebelumnya jika itu memang ada, hingga membuatku terjebak dengan dua gadis gila. Aku spontan tertawa mendengar perkataan Jennie."Apa kau gila?" tanyaku setelah usai tertawa.
Jennie hanya tersenyum.
"Saya tidak peduli bagaimana Direktur beranggapan pada saya. Yang jelas, semua yang harus diketahui Direktur tentang Lee Hayi, ada di dalam amplop ini. Kalau Direktur tidak setuju, saya tinggal mengambil kembali amplop ini.""Nona Kim, kenapa aku harus berkencan denganmu? Kau menyukaiku?"
Kini Jennie membulatkan matanya.
"Whatt?? No. Direktur, Anda salah paham.""Salah paham?? Nona Kim baru saja meminta untuk berkencan denganku dan sekarang Nona Kim berkata bahwa aku salah paham? Whaa.."
"Direktur, berkencan tidak harus saling menyukai. Dengarkan saya, posisi saya dan Direktur tidak jauh berbeda. Direktur dan saya juga butuh perisai. Jalannya adalah skandal berkencan."
Skandal berkencan? Apalagi ini?
"Apa maksudmu?"
"Direktur setuju? Kalau Direktur setuju, maka saya akan menceritakan detailnya. Kalau Direktur tidak tertarik, maka lupakan," ujar Jennie yang mengambil kembali amplop di atas meja untuk dimasukkan ke dalam tasnya.
"Tunggu! Kau sungguh bersumpah isi amplop itu benar?" tanyaku.
Jennie berhenti memasukkan amplop itu dan menoleh.
"Direktur sungguh tidak percaya dengan saya?"Aku menatap gadis itu lekat-lekat. Aku mencoba mencari gelagat yang aneh dan mencurigakan darinya, tapi tidak ada. Astaga, apa aku bisa mempercayai gadis ini? Bagaimana kalau itu hanya bualan dan gertak sambal? Atau justru isi dalam amplop itu hanya hal-hal yang tidak berguna. Sial. Aku tidak pernah sepusing ini, bahkan ketika saham sedang kritis.
"Hahh.., katakan dulu alasan Nona Kim membutuhkan skandal berkencan hingga harus memintaku. Yaa, Nona Kim, kenapa harus aku??"
"Ahhem! Apa sebaiknya aku pergi saja? Sepertinya kalian butuh waktu berdua," celetuk Bobby.
"Tidak!" ujarku yang ternyata bersamaan dengan Jennie.
"Ah, okay. Lanjutkan. Aku akan diam layaknya patung," ujar Bobby.
Aku menghela nafas dan kembali beradu tatap dengan Jennie. Pertanyaanku masih belom dijawabnya. Aku sama sekali tidak mengerti.
Hayi, mantan yang telah lama tidak ada kabar sama sekali dan bahkan aku sudah tidak memikirkannya lagi, tiba-tiba muncul dengan memintaku melakukan pertunangan palsu. Alasan dari itu adalah karena keinginannya untuk tidak dijodohkan dengan anak kolega dari perusahaan ayah tirinya. Sekarang, Jennie. Model yang menjadi BA di perusahaanku, wajah baru kami, juga tiba-tiba mengajakku berkencan dengan alasan butuh skandal berkencan. Ya Tuhan, apa semua wanita jaman sekarang sudah benar-benar gila?
"Kau disini jadi saksi, Bob. Sekaligus, kau harus menyimpan informasi ini rapat-rapat hanya pada kita bertiga," celetuk Jennie.

KAMU SEDANG MEMBACA
How I Met My Bride [OnHold]
Fiksi PenggemarFF [Marpho Series - Side Story] Sombong sekali dia. Apa hebatnya gadis seperti dia? - Kim Hanbin Apa maunya duda satu itu? Sok penguasa. Cih! - Kim Jennie ::disclaimer:: Cerita ini hanya menggunakan nama idol sebagai cast, namun tidak dengan sifat k...