Ada beberapa hal yang menjadi motivasi Lisa untuk semangat pergi ke sekolah. Pertama, uang jajan yang mengalir sehingga ia bisa menabung untuk membeli album idol kesukaannya. Kedua, bertemu teman-teman dan saling berbagi gosip terbaru. Dan yang terakhir karena ia bisa melihat seseorang yang ia sukai. meskipun hanya dari jendela kelas, atau saat pura-pura pergi ke toilet dengan jalan memutar agar bisa melihatnya tengah olahraga. Lisa suka semua alasan itu, terutama yang terakhir.
Seperti sekarang, senyumnya tertarik begitu melihat lelaki pujaannya tengah mengantri makanan di kantin. Orang yang tengah jatuh cinta memang berlebihan, bahkan kebetulan seperti ini ia tafsirkan sebagai takdir dan pertanda dari Tuhan untuknya. Lisa sedari tadi tersenyum menyadari jarak sedekat ini, bahkan aroma parfum lelaki yang lebih tua darinya dua tahun itu tercium jelas, membuat rasa senangnya berkali lipat.
"Hyung cepat!" Suara dari belakang cukup mengagetkan, apa lagi saat sebuah tangan tepat berada di atas kepalanya. Baiklah Lisa tahu jika dua lelaki ini memiki tinggi yang menjulang, tapi tolong jangan memperjelas dan membuatnya seperti kurcaci. Lisa menahan nafas saat pria yang di colek itu berbalik, lantas tersenyum lebar membuat dua bolongan di pipinya terlihat.
Sangat manis.
"Maaf, aku lama ya?" Lisa menggeleng, sempat terhipnotis dan nyaris mempermalukan dirinya sendiri.
"Gwencana Sunbaenim."
"Sudah tahu masih bertanya!" Sahut suara pemuda itu lagi, membuat lelaki yang Lisa panggil Sunbaenim tadi berdecak, lantas mengepalkan tangan seolah ingin memukul seseorang yang sedari tadi terus protes padanya.
"Memangnya pesanan siapa yang merepotkan ini?" Lelaki dengan kulit pucat tak menjawab justru melenggang pergi begitu saja, langsung duduk manis meninggalkan Lisa dan si Sunbae di antrian.
"Demi Tuhan, Oh Sehun adalah makhluk paling menyebalkan yang pernah ku kenal! Dasar albino gila!" Lelaki tinggi bernama Park Chanyeol itu mengumpat, lantas segera meminta maaf begitu menyadari Lisa masih menunggu dengan wajah bingung mendengar itu semua.
"Oh silahkan maju, maaf ya membuat mu menunggu." Chanyeol segera menyingkir, dan senyum itu kembali terpatri dari bibirnya. Lisa hanya mengangguk, ia tak tahu harus mengucapkan apa sekarang, ia hanya ingin cepat pulang dan bersorak gembira.
"Bye...emm Lalisa." Kening Park Chanyeol berkerut begitu membaca name tag yang digunakan Lisa, lantas segera berlalu menyusul Sehun sebelum pemuda itu kesal dan menjadi anak yang semakin menyebalkan.
"Ah.. ya Sunbaenim."
"Kyaaaaaaa tampan!!!" Lisa menjerit dalam hati, berusaha dengan keras mengulum bibirnya dan menahan agar ia tak tersenyum aneh hingga orang bisa menyangkanya gila.
******
Tapi Lisa memang benar-benar gila sekarang!!!
Bagaimana mungkin dengan berani ia mengendap layaknya pencuri dengan sebuah amplop berwarna baby blue di tangan, mata bulatnya melirik sekeliling memastikan tak ada orang yang tengah melihat apa yang kini ia lakukan. Beruntung bel pulang telah berbunyi 10 menit yang lalu, sehingga tak terlalu banyak orang disana.
Begitu Lisa yakin tak ada memperhatikan, dengan cepat ia buka loker; melempar surat itu masuk ke dalam dan dengan segera menutupnya sembari menutup mata.
"Lalisa?" Lisa berteriak kaget, matanya seketika terbuka dan membulat begitu Chanyeol tepat ada di depannya.
"Kau sedang apa? Di loker ku?" Lisa tak dapat menjawab, tanpa mengatakan apapun gadis itu segera berlari meninggalkan Chanyeol yang semakin kebingungan. Tak mau penasaran terlalu lama, Pria itu lantas membuka lokernya, dan tepat setelah itu matanya membulat kaget begitu menemukan surat dari Lisa.
******
Gadis itu terus menunduk, suara gerutuan terus mengalir dari bibir penuhnya. Ia tak pernah berpikir akan sesial itu bahkan tadi benar-benar memalukan, bagaimana mungkin ia tak menyadari kehadiran pria itu? Chanyeol terlalu tinggi untuk tak terlihat, benar-benar memalukan!
Lisa memukul pelan kepalanya beberapa kali, tak hanya aksinya yang gagal, Lisa juga harus pasrah saat bus yang membawanya pulang lewat dengan indah di depannya tadi, membuat ia mau tak mau menunggu di halte dan berdo'a supaya tak ada yang menyusulnya disini.
Menyusul? Astaga percaya diri sekali.
Ia tertawa pahit, terlalu banyak membaca novel romantis pasti membuatnya banyak mengkhayal. Lisa tak boleh terus begini, atau ia bisa gila nanti.
Suara mesin mobil berhenti terdengar tepat di depan Lisa, ia segera bergegas masuk ke dalam bus tak ingin kembali tertinggal atau ibunya nanti akan mempertanyakan hal aneh padanya, dan alasan ia pulang telat hari ini.
Seperti biasa Lisa memilih duduk di baris ketiga dekat jendela, tempat ternyaman untuknya. Setidaknya ia bisa sekedar bersandar atau memperhatikan jalanan dari balik jendela dengan musik yang menemani.
Gadis itu merasakan seseorang duduk di sampingnya, anehnya Lisa tak merasakan pergerakan apapun. Orang ini hanya diam seolah benda mati yang begitu di taruh tak bergerak lagi, untuk menuntaskan rasa penasaran Lisa segera menoleh dan tangan pemuda itu memegang surat miliknya, refleks membuat ia menutup mulut kaget.
Pemuda itu tak menghiraukan reaksi berlebihan Lisa, masih dengan sabar menyodorkan surat itu padanya.
"Ini..."
"Milik mu kan? Ayo ambil." Lisa mengangguk, dan dengan wajah murung segera mengambil kembali surat itu. Perasaan sesak mulai menyeruak di dada, apa artinya ia di tolak tepat di depan matanya sendiri? Pemuda tinggi disampingnya ini bahkan mengembalikan surat yang telah susah payah ia buat, membuatnya ingin menangis sekarang.
"Tidak mau kau buka?" Dan Isak pertama gadis itu lolos, ia sangat takut. Dengan tangan bergetar ia tetap menuruti ucapan itu. Rasanya Lisa ingin segera pulang, mengurung diri dan curhat pada empat kucingnya, ini akan menjadi hari terburuk baginya seumur hidup.
Kening Lisa berkerut begitu membuka isinya, bukan surat darinya melainkan nomer telepon dan id line. Ia mendongak dan wajah datar milik si lelaki menjadi hal pertama yang ia lihat, tanpa mengatakan apapun satu earphone milik Lisa beralih pada telinga pemuda dengan kulit pucat namun bibir berwarna merah muda itu.
"Aku selalu mengunci loker, hubungi dari sana saja" Lisa masih memperhatikan, mulutnya terkunci dengan posisi sedikit terbuka, namun tak berniat menjawab. Mulai terpana pada Side profile sempurna yang tersaji di dekatnya. "Ngomong-ngomong kau membuat aku di marahi lagi, Chanyeol Hyung hampir saja mengamuk saat membaca surat yang dia pamerkan ternyata untuk ku. tsk, kekanakan."
"Maaf" Pria itu - Oh Sehun - mengibaskan tangan, ia tak bermaksud membuat Lisa merasa bersalah; apalagi hanya karena orang gila bernama Park Chanyeol yang dalam satu hari bisa saja memiliki dua kekasih baru.
"Ngggg... Lisa?" Panggil Sehun ragu, dan ini menjadi kali pertama lelaki itu menyebut namanya, membuat Lisa mulai berdebar. "Memangnya aku sewangi itu?" Lanjutnya dengan tanpa beban dan wajah ingin tahu.
Lisa segara menutup wajahnya yang memerah, ia tak sanggup harus membahas apa yang dirinya tulis sekarang, "Aku malu" jawabnya jujur dengan wajah semakin menunduk, sumpah! ia ingin mengubur diri sekarang. Lagi pula kenapa ia harus menulis hal itu di suratnya sih? Bagaimana jika Sehun menganggapnya aneh? Atau bahkan seorang maniak?
"Pffttttttttttt" Lisa kembali menoleh saat mendengar suara menahan tawa dari Sehun, matanya yang lebar semakin membulat tak menyangka. demi Tuhan ini sungguh seorang Oh Sehun yang katanya lebih dingin dari kulkas itu? Dia tengah tertawa karenanya! Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan Lisa.
"Aku tak akan memberitahu apa parfum yang ku gunakan, jika ingin terus merasakannya kau harus terus dekat dengan ku!"
Baiklah bisa di pastikan saat ini hati Lisa telah lumer dengan sempurna!
