Hari ini hujan deras dengan awan mendung terus menggunung, membuat hari terlihat gelap dan dingin. Semua orang tampak menepi, beberapa berada di pinggiran toko menunggu reda yang gak kunjung datang, sebagian memilih tinggal di rumah yang hangat, dan yang lain menghabiskan waktu di cafe di temani minuman dan makanan hangat yang menenangkan.
Lisa berada di golongan ketiga, dengan laptop menyala, kumpulan buku dan beberapa kertas laporan yang menumpuk di mejanya, di temani beberapa biskuit dan teh yang tersisa setengah gelas. gadis itu memiringkan kepala ke kiri dan kanan tampak lelah di barengi suara patahan leher yang meminta berisitirahat. tapi, Lisa tak bisa menurut, deadline draft skripsi harus ia selesaikan secepat mungkin. Ia terlalu banyak menunda dan mengulur waktu karena terlena berlatih tari yang kembali di tekuni.
Rambut hitam panjangnya ia biarkan terurai, begitu pas di padukan blouse putih tulang dan celana jeans. Sederhana namun begitu manis, terutama melihat wajah serius yang membuat semakin cantik, tanpa sadar menarik perhatian beberapa orang yang sayangnya seolah terlihat transparan bagi gadis itu, termasuk bagi lelaki yang berjarak tiga meja darinya. Tengah mencuri pandang dengan senyum yang menampakan dengan jelas rasa ketertarikan.
"hot greentea atas nama Lisa." Panggilan itu membuat Lisa menoleh, lantas segera menghampiri untuk mengambil pesanannya, ini gelas keduanya hari ini. Di hari yang dingin ia butuh sesuatu yang hangat, dan Honey greentea adalah pilihan yang tepat dan aman baginya
Setelah mengucapkan terimakasih, Lisa segera kembali menuju tempatnya duduk. Kali ini earphone terpasang dengan apik di telinganya, Lisa memutar lagu dengan judul serupa minuman yang ia pesan, membuat Lisa semakin tenggelam di dunianya sendiri bersama kertas di tangan.
Lelaki itu menoleh lagi, lalu terkekeh begitu menyadari Lisa yang ikut bersenandung kecil, ia tak bisa mendengar suara Lisa karena jarak yang cukup jauh, namun anggukan kepala menjadi pertanda bahwa gadis itu begitu menikmati lagu yang tengah dia dengarkan.
Tiba-tiba ide melintas, dengan cepat ia beranjak berniat memesan sesuatu sebagai sarana mendekat. Kesempatan tak akan datang dua kali dan ia tak boleh menyia-nyiakan hal itu. Si pemuda bernama Darren bersisian dengan lelaki tinggi yang baru saja datang --yang tak terlalu ia pedulikan, wajahnya masih sesekali menoleh ke arah gadis yang tadi di katakan bernama Lisa. Namanya cantik, serupa si empunya. Pemuda yang baru datang mengikuti arah pandangnya dengan wajah datar dan tas tersampir di sebelah pundaknya. membuat ia menoleh pada si orang asing yang langsung memalingkan wajahnya.
"Orang aneh" gumam Darren, ia tahu pasti Lisa menarik perhatian semua orang disini dan ia pastikan orang ini salah satu sepertinya.
Setelah mengucapkan pesanannya, Darren dengan semangat melangkah menuju meja Lisa yang hanya di duduki gadis itu, rasanya menegangkan membuatnya tertawa dalam hati. Ia telah lama tak merasakan hal ini, dan semua kembali karena gadis asing yang hanya ia tahu namanya. Namun, senyum itu langsung sirna begitu si lelaki tinggi dengan tak sopan menyimpan tas yang ia bawa di meja Lisa yang tepat ada di depannya.
Darren melirik tajam tak terima, namun lelaki itu tak peduli justru terlihat seperti menantangnya. Lisa yang menyadari kehadiran mereka berdua lantas melepaskan earphone yang terpasang lalu menoleh dan senyum secerah mentari kini terbit.
"Sudah datang?" Harusnya Darren bahagia dan tersenyum mendengar suara merdu gadis incarannya, harusnya ini menjadi manis dan menyenangkan untuknya. Seharusnya begitu jika itu di tujukan untuknya, bukan pada si lelaki asing yang duduk di kursi yang ingin ia duduki, dan mengangguk sebagai jawaban.
