Yang orang tak ketahui soal Lisa?
Selayaknya orang-orang, dia memilki satu titik racun yang mudah menghancurkan segala pemikiran dan eksistensinya, yang dapat menyebar dengan cepat bahkan lebih cekatan dari cahaya, dan seolah menghentikan seluruh waktu dalam sementara.
Saat dia bertanya;
Dan pertanyaan itu menggali berbagai hal.
Menjemput ketakutan yang paling ia kubur selama ini, tak pernah mau ia tunjukkan lagi. Kini hal itu telah mendobrak belenggu miliknya mengatakan hallo dan mentertawakan, melihatnya dengan jenaka. Sesuatu yang paling Lisa benci...
Rasa iri.
Ia tak suka ketika merasa dengki hanya dengan melihat foto orang lain dengan senyum lebar, ingin membuang perasaan tak terima kala membaca pemikiran luar biasa dari orang-orang yang ia kenal, saat mereka telah bertumbuh namun Lisa masih disini, Berada di titik pecundang yang tak dapat beranjak.
Lisa tak suka saat kebanggaan yang tersisa hanya menjadi masa lalu, kenyataan orang-orang telah menyusul dan perlahan ia terbelakang.
Ini salahnya yang hanya diam dan tak bergerak, tapi tetap ia ingin mengalahkan semua orang.
Kenapa?
Kenapa dia tetap begini?
Kenapa ia tak berubah?
Mengapa semua orang memamerkan hidup indahnya, sedangkan Lisa tak mempunyai hal serupa?
Ia juga ingin dengan bangga menunjukan kebahagiaan, dia berhasil dengan pendidikan begitu juga percintaannya.
Tapi lagi-lagi kenyataan berkata lain.
"Aku bisa lebih baik dari itu."
Komentarnya pada saat menonton pertunjukan tari sahabatnya.
"Dia baru magang, tak perlu berlebihan."
Cibirnya begitu tak sengaja melihat postingan media sosial teman satu kelasnya dulu.
"Lalu kenapa?" Lisa mulai berkata pada dirinya sendiri. Memutar Kursi menghadap kaca, memperhatikan wajahnya dengan seksama.
"Kau malu?" Monolog mulai mengalir, menghalau racun yang mengambil alih.
"Kau memang pecundang. Tak melakukan apapun tapi berharap tinggi"
"Lihat? Orang lain mulai beraktivitas sedangkan diri mu masih tertidur, memainkan ponsel seperti orang tak ada kerjaan."
Lisa terus dan terus mengatakan itu untuk dirinya sendiri, menampar rasa tidak tahu dan malas yang menggunung.
"Kau hanya bisa membenci dan mengharapakan kasih"
Kemudian dia benar-benar menampar wajahnya sendiri,
berkali-kali,
Dari sisi kiri dan kanan.
merasakan panas dan rasa sakit yang menyebar.
"Jangan manja gadis gila, orang tua bukan tempat untuk kau repotkan selamanya."
"Lihat dirimu? Apa yang telah kau berikan untuk mereka?"
"Untuk dirimu sendiri?"
Dengan gemetar Lisa membawa karet gelang dan mengikat rambutnya asal.
Masih tak terlambat, dia masih bisa mengejar.
Dan iri bukan solusi.
Dia mulai bergerak lagi, sesederhana memulai pagi dengan mandi, menutup media sosial dan menyelesaikan semua kewajiban.
Noya's corner :
Lagi ngerasain yang namanya down, dan ujungnya malah toxic buat diri sendiri sama omongan yang keluar cuma sampah doang.
