F the caste system

703 81 2
                                    

Lisa masih ingat bagaimana ekspresi kaget anggota super M ketika dirinya dengan tidak tahu dirinya menerobos masuk ke ruang tunggu grup besutan SM entertainment itu. Tapi, Lisa tidak perduli. Dia hanya ingin menemui Ten, menjelaskan semuanya.

“Kau gila? Bagaimana kau bisa menerobos masuk seolah-olah ruanganan itu milikmu?” Ten masih menatap Lisa dengan marah. Saat ini mereka berada di tangga darurat, Ten langsung menarik Lisa begitu melihat perempuan berambut pendek itu berada di ruang tunggu grupnya.

“Itu tidak akan terjadi kalau kau tidak mengabaikanku, Mr. Leechaiyapornkul.”

Ten mendegus, memijat pangkal hidungnya. Pusing mendadak menyerang kepalanya. Sudah hampir sebulan dia menghindari Lisa, menghindari penyebab lukanya.

“Lisa.. kita sudah selesai, tidak ada alasan untuk bertemu.”

Kali ini Lisa yang mendengus, perempuan itu bahkan melipat kedua tangannya didada. Wajahnya terlihat jengah dan sedikit angkuh.

“Selesai? Apa maksudmu, bahkan kita belum memulai apapun.”

Pria itu menghela nafasnya kasar, terlihat jelas ia tak nyaman berhadapan dengan Lisa.

“Sudahlah, aku harus kembali.” Ucapnya sebelum berbalik hendak membuka pintu dibelakangnya.

“Berhenti disitu!” Bentak Lisa ketika tangn Ten meraih kenop pintu.

Seolah tuli mendadak, Ten tetap melanjutkan niatnya untuk segera pergi dari sana.

“Ku bilang berhenti!” Teriak Lisa yang langsung mendorong pintu darurat yang sudah terbuka seperempat, membuat Ten terkejut dan menatapnya tidak percaya.

“Kau tuli? Kau tidak mendengarkanku?!” Teriak Lisa lagi begitu dirinya hanya berjarak sepuluh centi dengan Ten.

Pria itu mengusak rambutnya kasar, berusaha mengontrol emosinya yang mulai terpancing. Dia tidak boleh emosi, apalagi ketika berhadapan dengan Lisa.

“Jangan berteriak, atur nafasmu, kontrol emosimu.” Suruh Ten begitu menatap Lisa yang mulai kehilangan kontrolnya.

Masih dengan nafas yang tersengal, Lisa menatap tajam pria yang sedari tadi hanya menampilkan wajah datarnya.

“Kenapa kau menghindariku?!”

Ten menghela nafasnya pelan, menatap langit-langit gedung itu seakan sedang mencari jawaban.

“Aku tidak menghindarimu, hanya saja aku harus tau dimana tempatku.”

"Tempat mu tentu saja di dekat ku, kenapa kau pergi?" Balas Lisa kesal, gadis itu mengeratkan pegangan pada tali tas Celine miliknya, mempertimbangkan jika Ten semakin menyebalkan ia dengan senang hati akan membuatnya melayang di wajah pemuda itu.

"Pengawal? Atau seseorang yang berusaha menaikkan status sosial?" Ten bertanya balik, menyandarkan tubuhnya di dinding. Ini akan lama, Lisa tak akan semudah itu melepaskan dirinya sebelumnya dia puas.

Lisa menggeram, ia tak suka pertanyaan Ten yang begitu menyebalkan, kupingnya panas saat kata-kata itu keluar dari mulut seseorang yang ia sayang, dan jangan salahkan Lisa jika kali ini Celine Triomphe bag berwarna merah itu dengan ringan melayang di sisi kepala Ten. Sukses mengejutkan si pemuda, apalagi Lisa akan mengulangi jika ia tak segera menangkap tas itu.

"Hei Lisa! ya berhenti!" Teriaknya kesal. Ten lantas menahan kedua bahu gadis itu dan menggoyangkannya pelan. Tak mengerti bagaimana Lisa bisa senekat itu, dan tak memikirkan sakit yang ia rasakan, juga harga tas itu. Demi tuhan, ia tahu jika Celine memilihnya sebagai Muse bukan untuk melihat barang mereka di banting seenaknya.

"Kau yang harusnya berhenti." Suara Lisa berubah rendah, wajahnya masih mendongak, menatap Ten dengan mata bulat yang terlihat dingin.

"Aku tak pantas bersama mu." Jawab Ten langsung, membuat Lisa membuang muka dan menyingkirkan tangannya.

"Aku tak cukup cantik? Kau tidak menyukai ku?" Wajah Lisa mengeras, tampak terkejut dan memegang kembali tasnya. Ten yang tahu tanda bahaya menahan tas Lisa dan menggeleng.

"Bukan begitu, tentu saja kau cantik! Aku juga menyukai mu!"

"Terus kenapa?"

"Cobalah lihat sekitar mu, semua orang tahu kita berasal dari tempat yang sama dan berakhir berbeda."

"Apanya yang berbeda? Jangan membuat ku semakin marah Ten!"

"Tanpa ku jelaskan kau juga sudah tahu."

"Kau setuju dengan hal itu?"

Ten hanya diam, membuat Lisa mengangguk mengerti, ia telah mendapatkan jawabannya. Gadis itu melangkah menjauhi Ten, membuat pria itu dapat bernafas lega karenanya. Setidaknya Lisa harus tahu bagaimana orang-orang memandang hubungan keduanya. Seseorang dengan penyandang gelar global superstar tak pantas dengan idol biasa seperti biasanya.

Namun seketika mata Ten membulat, begitu menyadari jika gadis  nekat itu berjalan dengan cepat menuju ruangannya lagi. Tak bisa ia biarkan atau Lisa bisa melakukan hal gila di luar nalar, bermain drama membuat popularitas Lisa meningkat tajam, semakin di akui dan di sukai, tentunya semua hal kecil yang di lakukannya bisa berdampak besar.

"YA KAU MAU KEMANA!" Ten menyusul dan menarik tangan Lisa, nyaris membuat mereka menjadi headline news esok pagi.

"Mencari siapa sialan yang mengatakan hal itu." Jawab Lisa tenang, namun terlihat menakutkan karena ia kini tersenyum.

"Kenapa diam? Aku ingin melakban orang itu, lalu kemudian membunuh mu, pria sialan! Beraninya membuat ku seperti ini, memangnya aku peduli soal status bangsat macam itu hah? Jika kau ingin pergi, pergi saja aku tak peduli! Tapi jangan menahan ku, dengar ya pecundang aku..." Semua Omelan panjang Lisa terhenti saat Ten menarik tubuhnya dan membungkam mulut Lisa dengan bibirnya, menahan kepala Lisa agar tak menjauh darinya, melumatnya terburu.

Ucapan Lisa memang menyakitkan untuk di dengar, tapi ia juga setuju dan semuanya memang kebenarannya. Ia mengakui terlalu mendengarkan orang lain, sadar jika semuanya tak adil bagi Lisa, pun mengerti jika gadis ini mengamuk.

"Maaf!"

Lisa dan Ten tersentak, dan segera mendorong tubuh pria itu. Jantungnya berdetak kencang. Rasanya seperti di sambar petir. Dan itu bertambah begitu mengetahui siapa yang datang ke rooftop.

"Haruto..."

"Aku janji tak akan mengatakan apapun noona, J..jadi silahkan lanjutkan."

Lisa mengusap wajahnya yang memerah, ia lebih baik orang lain yang mengetahui hal ini di banding anak itu, bagaimana harga dirinya nanti?

"Dia..."

"Diamlah!" Potong Lisa, namun tetap mendekap Ten, menyembunyikan wajahnya. Semoga haruto bisa di percaya.

*****

Noya's Corner

Cerita ini bukan cuma punya gua, tapi hasil pemikiran awal kak NoirSkylaR yang beberapa bagiannya terinsipirasi it's okay to be not okay. kalian yang suka Tenlis coba main deh ke lapak dia isinya gula-gula 😭🤧

lalalisaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang