🏆 Reading List WIA Indonesia Periode 1
Setelah selamat dari ledakan di sebuah laboratorium Kota Moorevale, Chloe Wilder dihantui dengan penglihatan-penglihatan yang tidak bisa dimengertinya.
Dylan Grayson, putra semata wayang dari seorang ilmuwan t...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ryouta Residence, Moorevale, USA. 20 Juli 2019, 02.00 PM.
Tiga jam sebeluminsidenledakan Vortex Laboratory.
Seorang pemuda tampan bermata sipit dengan headset di kedua telinganya masuk ke dalam rumah. Ia melepas Nike Air Max putihnya dan meletakkannya ke dalam rak sepatu. Sebuah pantofel kulit hitam yang ada di sana mengalihkan perhatiannya.
"Pops sudah pulang? Jam segini?" gumamnya.
Pemuda itu berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu pelan, kemudian melepas headset di kedua telinganya.
"Masuk!" jawab seseorang yang ada di dalam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pemuda itu membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah home office bernuansa Jepang. Furnitur di ruangan itu didominasi oleh aksen kayu berwarna soft serta cat duco berwarna putih.
"Ada apa?" tanya Dominic, seorang pria paruh baya di meja kerja yang sebagian rambutnya sudah memutih.
"Oh, nothing. Kukira kau masih di laboratorium," ucap lawan bicaranya.
"Tumben kau pulang lebih cepat hari ini. Bukannya kau bilang sedang sibuk dengan tugas praktikum?"
Quentin mengedikkan bahu. "Aku dan partnerku setuju untuk mengerjakan bagian masing-masing di rumah. Bagaimana denganmu, Pops?"
"Aku meningalkan materi penting untuk presentasi hari ini," ucap pria itu sambil memainkan jemarinya di atas keyboard dan mouse, tampak sedang terburu-buru. "Theo Wilder akan datang, jika presentasi hari ini gagal, bisa-bisa Si Tua Kaya itu tidak akan mendanai proyek kami!"
"Astaga! Bisa-bisanya kau melupakan hal sepenting itu!" Quentin terkejut.
"Kukira materi tersebut sudah kuunggah di Google Drive, ternyata belum semuanya," jawab Dominic sambil memijat pelipisnya. "Jadi aku izin pergi meninggalkan kantor lebih cepat."
"Kapan presentasi itu dimulai?"
"Satu jam lagi," ujar Dominic, sedikit panik. "Aku masih harus menambahkan beberapa materi lagi."