Malam harinya keluarga atmaja berkumpul di meja makan, suasana di meja makan kini terasa berbeda jika biasanya mereka melewatkan makan malam bersama, sekarang mereka terlihat berkumpul walaupun belum lengkap semua di karenakan yang lain masih berada di luarnegri
Sabrina menuruni tangga dengan langkah ragu ia tampak imut dengan menggunakan baju tidur bercorak kelinci juga bandana kuping kelinci yang bertengger manis di kepalanya, tidak usah di tanya darimana dan bagaimana ia mendapatkannya sang mama yang memintanya dan ia tak sanggup untuk menolak alhasil ia menggunakannya walaupun ia merasa sedikit konyol dan malu menggunakannya
"Selamat malam"ucapnya setelah tiba di dekat meja makan dengan tersenyum kikuk, ia sadar dari saat ia menuruni tangga ia tengah diperhatikan
"Selamat malam wah anak mama cantik sekali"
sang mama berseru dengan gembira melihat anak perempuan satu satunya itu memakai baju dan aksesoris pilihannya, ah ia melewatkan tumbuh kembang anaknya sejauh ini ternyata, sang putri sekarang telah tumpuh menjadi gadis yang cantik sangat cantik malah
"Perinces papa cantik sekali, pasti laparya kan belum makan dari tadi ayo duduk sini deket kak tian"
Bina menatap septian ragu, sejak ia datang ke rumah ini dari siang tadi ia samasekali belum bertegur sapa dengan kakak pertamanya itu
Bina melangkahkan kakinya ragu menuju kursi yang di tunjuk oleh papanya. Setelah sampai ia tidak langsung duduk ia menatap septian kakak pertamanya dengan takut takut, semua yang di meja makan memperhatiakan dengan hening
"Boleh?" Bina pertanya dengan suara lirih kepada septian sembari menundukan kepalanya
Tidak mendapat respon dari septian bina mendongkakkan kepalanya untuk melihat mengapa sang kakak diam saja, alhasil ia betatapan dengan netra hitam pekat yang tengah menatapnya tapi entah mengapa ia merasakan kehangatan menyelimuti hatinya menatap netra gelap sang kakak yang tengah menatap dirinya dengan lembut walau belum ada senyum di bibir pria itu
"Boleh bina duduk disini?"
Bina mengulang dan memperjelas perkataannya mengira mungkin sang kakak tidak mendengar dengan jelas perkataannya tadi.
Merasa lagi lagi ia tidak mendapat respon apapun ia memiringkan kepalanya menatap polos kepada kakaknya dengan mata perkedip lucu
Septian tidak melewatkan barang sedetikpun gerak gerik sang adik dari sang adik menuruni tangga sampai ia berdiri di sampingnya tapi sungguh ia merasa terpaku mentap gerak gerik sangadik yang begitu ekspresif, adik nya sungguh sangat cantik dan lucu ia tidak biasa menampik hal itu. Seakan tersadar septian menganguk dengan tenang
Sabrina tersenyum manis dan duduk dikursi
"Terima kasih" ucapnya di sertai senyum secerah mentari pagi
Ketiga pemuda yang sedari tadi memperhatiakan terbegong bengong dan terdiam kaku
Sedetik kemudian ervan sang kakak berteriak heboh mengagetkan seisi rumah
"Aaaaa yaampun yaampun kak ziel gimana ini kak!? Kenapa adik aku imut banget kak aku harus apa kak!? Gimana nanti kalo ada cowo jatuh cinta sama senyum adik ku kak aku gak akan biarin itu terjadi!"
Saking kagetnya oleh teriakan sang kaka sabrina yang baru saja mau meminum susu nya terlonjak kaget dan tanpa sengaja susu panas itu tumpah sedikit terkena tangannya untungnya susu itu tidak sampai jatuh
Septian yang melihatnya langsung mengambil susu yang di pegang bina dan meletakannya di meja mengambil tangan bina mengelapnya dengan lembut menggunakan saputangan yang ada di saku celanyanya
Sabrina kaget bukan main atas perhatian dari kakanya, sabrina masih terbengong dan tersadar saat sang kaka menggendongnya menuju tempat cuci tangan yang ada tidak jauh dari meja makan, menurunkannya dan membasuh tangan bina yang memerah di air yang mengalir, bina masih diam dan memperhatikan apa yang di lakukan oleh kakanya
"Sakit?" Tanya septian yang masih fokus pada tangan sabrina yang memerah
"Gak sakit kok"
Septian yang tadinya nya menunduk memperhatian tangan sabrina langsung mentap sabrina lalu mengurutkan keningnya bingung 'mengapa sabrina malah tersenyum di saat dirinya terluka'? Pikir septian
"Gak sakit?" Septian kembali bertanya belum yakin atas jawaban sang adik
"Sedikit sih tapi gak papa kok sabrina bisa tahan" jawabnya masih sembari tersenyum
Mendengar jawaban dan melihat senyum sang adik septian tak kuasa menahan senyumnya 'ternyata sang adik lebih kuat dari apa yang ia bayangkan'
Septian terkekeh kecil dan memeluk tubuh mungil sabrina, adik nya terlalu kurus pikirnya
"Hmmm adik kakak kuat ternyata"
Masih dengan senyum septian mempererat dekapannya kepada sang adik
Typo bertebaran
Maaf bila masih banyak kekurangannya
Sebenernya sempet bingung mau lanjut atau ngak
Menuruk kalian mending lanjut atau ngak ?
Di tunggu kritik dan sarannya y
KAMU SEDANG MEMBACA
FAMILY PROTECTION
Fiksi RemajaJUDUL AWAL TE ECONTRE (Aku Menemukanmu) Ketika takdir memainkan perannya,kita haya bisa mengikuti alurnya. Sejauh mana kita berandai selama bukan takdirnya kita hanya bisa pasrah dan berusaha semampukita. Hidup nya penuh dengan luka sebelum ia bert...
