seven👣

12.5K 640 20
                                        

Janganlah berjanji bila tak dapat menepati karena kadang janji adalah kebohongan yang manis

Sabrina.A.M.A


Dan sepertinya pristiwa malam ini tidak berakhir begitu saja. Setelah lucky dan yang lain mengetahui bina terluka mereka langsung memanggil dokter pribadi keluarga atmaja untuk datang ke_kediaman atmaja

"Itu bener udah gitu aja dok? Coba cek lagi deh takut takut nanti malah parah, trus nanti berbekas gimana?"

Sepertinya kak ervan benar benar merasa bersalah karena dia aku terluka sehingga dia yang paling berisik dan heboh menyuruh dokter untuk memeriksa lukaku untuk yang ke lima kalinya

"Bina bener bener gak papa ko kak" aku mencoba memberikan pengertian kepada kak ervan mau bagaimanapun kasihan kan dokter nya mana udah malem banget lagi

"Yakin princess?" Tanya ervan meyakinkan, yang di balas anggukan tegas dari sabrina

"Kalian keluar queen butuh istirahat biar abang yang urus queen dan abang gak mau di bantah mama dan papa juga istirahatlah"

Septian angkat bicara menghentikan kegaduhan, jujur ia juga kawatir terhadap adiknya, sangat malah, ia akan memastikan untuk mendisiplinkan ervan nanti yang mengakibatkan queennya terluka

Tidak ada yang membantah ervan dan azriel mendekati sabrina mengecup kening adik mereka dengan sayang mengucapkan selamat malam dan lalu keluar dengan muka enggannya

"Princess sama abang ya selamat malam dan mimpi indah sayang" papa pun mengelus rambutku dan mengecup keningku di ikuti oleh mama

Betapa bahagianya diriku memiliki keluarga yang lengkap dan sangat menyayangiku tak henti henti ku mengucap sukur kepada _NYA

Setelah semua keluar tinggal sabrina dan septian di kamar yang luas itu, hening menyelimuti suasana

Septian mendekati sabrina yang tengah berbaring bersandar di kepala ranjang ia duduk di pinggir ranjang pas di samping sabrina, ia mengelus rambut panjang halus sabrina dengan sayang

"Makan dulu yah kan belum makan baru istirahat oke?"

Sabrina mengangguk antusias di iringi senyum cerah menjawab perkataan sang kaka

Septian memanggil pelayan untuk membawakan makan untuk sabrina

"Makan dulu biar abang yang suapin kan lagi sakit tangannya"

Sabrina lagi lagi hanya mengagguk antusias sebagai jawaban sungguh ia benar benar senang sang kakak memperhatikannya

Sabrina makan dengan lahap masih di iringi senyum bahagianya itupun tak luput dari mata tajam septian namun tak ayal iapun ikut tersenyum melihat sang adik tersenyum bahagia

"Jadi bina panggil abang atau kaka?" Bina memiringkan kepalanya meminta jawaban sembari berkedip lucu

Septian tak kuasa menahan senyum lebarnya melihat tinggah menggemaskan sang adik

"Bina maunya sebut apa?" Septian balik bertanya sembari menaruh tempat makan yang sudah habis di nakas lalu memberikan segelas air putih kepada bina. Bina menerimanya lalu meminumnya

"bina pengen sebut bang asep boleh?" Bina bertanya sembarai menyerahkan gelas yang telah kosong kepada septian

"Asep?" Septian mengerutkan keningnya bingung

"Ia asep dari bahasa sundanya kasep yang artinya ganteng kan abang ganteng jadi bina panggil asep terus juga nama abang kan septian tinggal tambah A jadi asep baguskan?" Ceroscor sabrina dengan semangat ia begitu antusias dengan nama yang akan di pakai oleh kakanya itu

"Hmmm bagus" septian sempat terpaku di tempat melihat sang adik bisa sesenang ini ketika dengannya tiba tiba rasa hangat mengaliri hatinya yang selama ini beku, mengingat seberapa kerasnya ia mencari sang adik sampai sempat ia hampir putus asa kini ia menemukan separuh hatinya, separuh hati yang dulu ia berikan kepada bayi perempuan yang dengan teganya di pisahkan darinya kini ia hadir kembali dengan rupa yang lebih rupawan dan kini ia janji ia akan menjaga separuh hatinya yang telah kembali sekuat yang ia bisa.

"Bang A? Bang A gak papa?"

Septian keluar dari lamunannya ia menoleh kepada sang adik yang tengah merengut lucu ia terkekeh pelan adiknya kesal ternyata

"Hmm apa?" Septian bertanya sembari semakin mendekat ke arah bina mendekap tubuh mungil adik nya dengan sayang

"Dari tadi bina ngomong abang nya malah ngelamun, abang kenapa?"

Masih dalam dekapan sang kakak bina berbicara sembari mendongkakan kepalanya untuk menatap sang kakak, mata bulatnya mengerjap lucu

"Abang gak papa kok abang cuma kangen queen-nya kaka, queen harus janji sama abang jangan pergi lagi, jangan terluka, jangan sedih, jangan nangis karena kalo bina sakit kaka lebih sakit oke?"

Dapat bina rasakan pelukan sang kaka mengerat, suara sang abang bergetar, bina membalas pelukan sang abang tak kalah eratnya

"Bina sayang abang" bina tak sanggup bila harus berjanji, jalan hidupnya masih panjang dan ia tak bisa menjamin bahwa hidupnya tak akan di terpa masalah

Septian mengerti apa yang di pikirkan sang adik ternyata adiknya lebih dewasa dari yang ia kira

Melepas dekapannya septian beralih merangkum wajah mungil sang adik dengan tangan lebarnya mengelus pelan pipi halus sang adik dengan sayang

"Abang lebih sayang bina, sayang sekali sampai rasanya dada ini sesak malihatmu terluka jangan terluka lagi ku mohon"

Bina mentap sang kaka meneliti wajah rupawan sang kaka dengan lekat, terdapat kesungguhan di manik gelap sang kaka

"Akan bina usahakan tapi bina gak bisa janji" bina ter senyum manis mengelus rahang tegas sang kaka merambat mengelus rambut lebat sang kaka dengan sayang, ia melihat keseriusan dan kasih sayang yang besar untuk nya dari manik hitam sang kaka dalam hati ia diam diam berjanji untuk membuat kaka nya bangga kepadanya, ia akan menjadi orang hebat suatu hari nanti janjinya dalam hati.

"Aku menyayangimu" septian memejamkan matanya meresapi segala bentuk sentuhan dari sang adik

"Ya aku tau, maka abang pun berjanjilah untuk selalu baik baik saja"

"Akan abang usahakan" septian meraih kedua tangan mungil itu untuk di genggamnya

"Tidurlah sudah larut abang akan di sini sampai queen tidur"

"Boleh bina tidur bareng abang malam ini? bina takut tidur sendiri bina gak pernah tidur sendiri waktu di panti"

Bina menatap memohon kepada septian

Septian terkekeh pelan merengkuh tubuh mungil sang adik lalu berbairing di tengah ranjang besar bersama, septian meraih serimut dan menyelimuti tubuh sabrina dan tentunya dirinya pula

Di sandarkannya kepala sabrina di dadanya dan tangannya yang merengkuh pinggang ramping bina , menghirup dalam dalam aroma khas bina membuatnya tenang sepertinya malam ini ia tak akan begadang, sepertinya ia takan membutuhkan obat tidurlagi sudah ada obat yang lebih manjur ternyata

Sabrina memeluk tubuh kekar itu dengan posisi nyaman kantukpun mulai datang

"Mimpi indah my queen, aku menyayangimu" di kecupnya kening bina dengan sayang lalu ikut ter lelap menjemput mimpi indah.


Maksih buat sarannya
Saya akan melakukan yang terbaik mohon dukungannya

Vote dan coment kalian itu bikin semngat buat ngetik:)

FAMILY PROTECTION Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang