Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

twelve'kilas balik'

11.2K 571 23
                                        


Yang telah terjadi jangan lah kau sesali tapi jadikanlah itu sebagai penyesalan yang membawa pembelajaran untukmu juga orang lain
.....


"Selesai" ucap pemuda yang mengenakan jas putih juga baju hijau khas oprasi sebagai dalamannya


"Apa dia baik baik saja?" Tanya septian

Pemuda tersebut mengangguk sembari tersenyum meyakinkan

"Tapi dia tidak terlihat baik?" Tanya ervin ragu

"Itu normal untuk orang yang baru saja mengalami kejadian buruk, ia akan baik baik saja " tuturnya

"Apa aku bisa pulang sekarang?" Tanya sabrina dengan lemah di atas berangkar

"Tentu, kau baik baik saja, hanya perlu istirahat dan minum vitaminmu mengerti?" Peringat sang dokter muda itu

"Baiklah terima kasih" tutur azriel

Septian bangkit berjalan menuju berangkar sabrina, di elusnya rambut sang adik dengan sayang, ia menatap luka di leher sabrina rahang nya mengeras seketika

"Maafkan abang ya, abang janji ini gak akan terulang lagi"

sesal septian, dengan kening yang di satukan dengan sabrina septian berjanji untuk tidak akan ada lagi yang bisa melukai adiknya, jiwanya

"Bukan salah siapapun memang itu sudah jadi garis takdir bina"

Terang sabrina dengan mengelus rahang septian dengan lembut, menenangkan hati sang kaka yang tengah risau dengan rasa bersalah yang menumpuk di ulu hati, sabrina tau septian menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada dirinya, begitupun dengan saudaranya yang lain

"Bang ayo pulang?" Ajak sabrina dengan tiba tiba di tengah acara melankolis yang tengah berlangsung

Septian terkekeh mengerti betul tabia't sang adik

"Hmm..mari kita pulang" ucap septian sembari tersenyum

-----------------------

Sabrina kembali dari rumah sakit dengan di kawal oleh empat mobil hitam, dengan isi empat orang permobil, dengan demikian ia dikawal oleh enam belas pria berbaju hitam selama perjalanan menuju rumah, ia jadi merasa seperti orang penting pikir sabrina

"Sayang kamu baik baik saja?"

Saat sampai rumah dengan bantuan kaka kakanya ia langsung di todong banyak pertanyaan dari sang mama dan papa tak lupa juga mami dan papi, kedua wanita paruh baya yang begitu ia sayangi itu tak kuasa membendung tangis

Tak berbeda dengan sang wanita, sang pria pun mentap penuh kahawatir padanya yang saat itu memasuki rumah dengan langkah lemah sembari di bantu, karena ia tak ingin di gendong

"Aku baik baik saja mah, pah, mih, pih" terang sabrina

"Jika boleh aku ingin kekamar tubuhku sungguh lemas" ucap sabrina sembari meringgis pelan, sungguh rasanya kakinya sudah tak kuat menahan bebannya sendiri

"Istirahatlah, maafkan papi belum bisa menjagamu dengan baik, papa menyayangimu" ucap sang papa sembari mengecup pucuk kepala sabrina, sabrina menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan sang papa

Baru hendak bicara, sabrina merasakan kakinya melemas dan hampir jatuh bila septian tak lebih awal menahan tubuhnya yang limbung dan menggendongnya, semua orang tersentak kaget saat sabrina limbung, kedua wanita paruh baya itu sudah tak kuat membendung tangis yang sempat mereda itu

"Mama, mami jangan nangis bina gak papa" ucap sabrina dengan lirih, ia sakit saat melihat kedua wanita yang di hormatinya menangis

Sabrina menoleh melihat kaka kaka nya yang tengah mengalihkan pandangan dengan mata berkaca kaca, ia melihat sorot penyesalan di mata sang kaka, sabrina menghela nafas pasrah, semua orang menyalahkan diri mereka sindiri atas apa yang terjadi padanya, ia jadi merasa bersalah membuat mereka khawatir

FAMILY PROTECTION Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang