Eighteen'Septian'

7.8K 455 39
                                        

Sesosok siluet pria tengah mengamati kepadatan jalan raya dari balik kaca jendela besar diruangannya, berdiri gagah menjulang mengamati manusia manusia yang nampak kecil bila diamati dari gedung pencakar langit yang saat ini ia pijak

Menatap pada hiruk pikuk perkotaan dengan pandangan kosong, entah apa yang ia pikirkan, hanya ia sendiri yang tahu

Pintu ruangan diketuk

"Masuk" ucap pria tersebut menggema di ruangan luas nan kosong itu

"Tuan" sapaan hormat dari pria berpakaian hitam hitam tak sedikitpun dapat mengalihkan perhatiannya

"Katakan!" Titah Septian

Pria tersebut menelan ludah dan mengangguk kecil dengan jantung berdegup kencang

"Nona ditemukan 16tahun yang lalu dipanti asuhan terima kasih bunda" pria berpakaian serba hitam itu menatap sang tuan dengan ragu

"Lalu?" Septian membalikkan badannya melangkah mendekati mejanya, lalu duduk dikursi kebesarannya dengan satu alisnya terangkat

"Pada umur 7tahun nona sempat menghilang lalu ditemukan kembali saat ia berumur 15tahun pada kecelakaan mobil dipinggiran kota" ucap pria berbaju hitam tersebut

"Kemana ia saat menghilang selama 7tahun itu?"

"Maaf tuan" pria berbaju hitam itu menunduk takut

"Saya belum menemukan secara lengkapnya"

Urat biru dipunggung tangan septian jelas terlihat saat ia mengencankan genggamannya pada pena

"Apa kau bosan bekerja denganku!?" Nada septian acuh tetapi tidak dengan atsmosfer suram yang mencekam disekeliling septian

"Tidak tuan!" Pria berbaju hitam itu menggeleng panik, keringat dingin mulai bercucuran, bajunyapun mulai kuyup oleh keringatnya sendiri

"Cari tau apa yang terjadi pada sabrina, jangan lewatkan barang sekecil apapun" titah septian dengan datar

Pria itu mengagguk mengerti

"Tuan?"

"Nona mengelami amnesia setelah kecelakaan itu, lalu pemilik panti membangun ingatan baru untuk nona"

Septian yang tadi tengah menatap pena digengamannya langsung mengalihkan tatapannya pada pria tersebut

"Mana dokumennya?" Pinta septian

Pria itu menyerahkan dokumen cukup tebal pada septian

"Kau boleh keluar!" Ujar septian sembari mulai membaca dokumen tersebut

Pria tersebut mengangguk hormat lalu keluar dari ruangan yang mencekam itu

Septian membaca semua dokumen tersebut, lalu membalikkan kursinya menghadap jendela besar dibelakangnya

Menatap gedung gedung lain yang tak kalah tingginya, dengan pandangan menerawang

Bukan septian dan saudaranya yang lain tidak menyadari perubahan sang adik, sabrina, tetapi mereka percaya pada sabrina toh sejauh ini sabria tidak melakukan hal yang aneh aneh

Tetapi semuanya semakin ganjil ketika sang opa yang selama ini tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan keluarganya mulai ikut andil

Sang opa meminta sabrina untuk ikut dengannya keinggris, tentu ia dan saudaranya menolak keras keinginan sang opa

Septian tak akan membiarkan siapapun mengambil sabrina kembali, sabrina hanya akan disini, disisinya

Septian beranjak dari duduknya lalu melangkah ke rak buku didingding kiri

Mendorong rak tersebut dan terpampanglah sebuah ruangan yang didalamnya terdapat fasilitas lengkap dan yang paling mencolok adalah banyaknya layar monitor yang didalamnya terdapat satu objek, seorang gadis cantik, yaitu Sabrina

Bisa dikatakan ini adalah controlroom pribadi septian, bila dikata ini berlebihan maka septian akan menjawab tidak, tidak ada yang namanya berlebihan untuk keamanan sabrina

Mungkin bila oranglain melihat ini, mereka akan mengira septian adalah brother compleks tapi mereka tidak tau bahwa sabrina selalu dalam bahaya, ia baru menyadarinya saat ia dan saudaranya yang lain tengah berjalan jalan dengan sabrina, ia melihat seseorang tengah mengamati sabrina dan itu adalah orang yang sama bukan cuma satu orang dan sekali dua kali tapi terlalu sering untuk dikatakan kebetulan

Setiap ia dan sabrina pergi keluar rumah pasti ia selalu melihat pria itu dikejauhan tengah mengamati sabrina

Ia sudah pernah untuk mencoba menangkapnya tetapi gagal semenjak saat itu ia tidak pernah mihatnya lagi, tapi ia ragu bila mereka telah menyerah

Septian yakin ada yang mencoba merencanakan hal buruk bagi sabrina, dan tugasnya sekarang adalah melindungi sabrina apapun yang terjadi

Bunyi dering ponsel menggema, septian melihat ponselnya dan seketika senyum lembut tercipta diparas tampannya yang selalu nampak kaku

"Hallo" sapa septian

"Ada apa sayang?"lanjutnya

"......."

"Kau mau kemari?"

"........"

"Iya abang tunggu diloby"

Septian mematikan telponnya sembari menggeleng kecil, ia melihat jam yang tersampir indah dipergelangan tangannya

Ia harus bergegas bila tidak, sang tuan putri akan mengambek dan itu akan jadi masalah untuknya karena tidak bisa bermanja manja lagi

Septian melangkahkan kakinya dilantai dasar kantor diikuti oleh asisten sekaligus orang kepercayaannya bram, para lekerja langsung menunduk hormat, tak ayal juga mengundang tanda tanya besar apalagi saat dirinya malah duduk disofa dekat resepsionis yang langsung menghadap pintu masuk

Pekerja dilantai dasarpun mulai kikuk saling melempar tatapan dan dibalas gelengan tanda tak tahu menahu

Sedangkan sang pembuat ulah malah santai menopangkan kaki sembari membaca dokumen

Bram yang melihat ulah sang jungjungannya hanya dapat menggeleng pasrah, sudah banyak hal aneh yang terjadi dan ia alami sejak putri kesayangan atmaja hadir, dan ia tidak terkejut lagi dengan kelakuan sang jungjungan bila menyangkut sang nona muda

Pintu masuk kantor berulang kali terbuka dan tertutup tapi yang datang selalu bukan yang dinanti, septian sempat berfikir mungkin nanti bila sang adik datang ia akan kesusahan membuka pintu, atau harus antri dulu dengan pegawai yang lain

Dengan jengah septian meminta agar pintu tidak tertutup dan dibiarkan terbuka, bram menghela nafas kasar ia harus pergi mengurus pintu otomatis itu agar tidak tertutup dan menghalangi jalan sang nona muda

Setelah dirasa pintu tidak akan membuat sabrina kesusahan ia mulai santai kembali mengecek laporan yang diberikan oleh bram

Belum juga membaca ia melihat dari kejauhan ada seorang officeboy yang menengteng ember dan lap bekas mengepel dengan tetesan tetesan air yang menetes kelantai

Septian mengerutkan dahinya tidak suka, ia adalah sang perfectcsionis apalagi sang adik akan datang bila sabrina terjatuh akibat tetesan air itu bagaimana? Itu berbahaya

Lagi lagi bram menghembuskan nafasnya kasar ingin ia berteriak didepan muka sang bos

"Bos ayolah kau tidak akan mati hanya karena menginjak tetesan airkan!!?"

Tapi sayang ia tidak punya keberanian sebesar itu, ia harus pergi mengurus hal penting menurut bosnya dengan langkah lunglai, dalam hati berkata

'Officeboy yang malang, tapi lebih malang diriku'

*******************

Maaf bila banyak typo!!

Maaf pendek



FAMILY PROTECTION Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang