Bagian Dua Belas | Syarat

1.1K 191 16
                                        

"Saat kau mengenal kasih sayang, kau juga akan menanggung resiko kebencian."

—Uchiha Itachi

Gala menatap kain pel yang baru saja disodorkan padanya dengan wajah masam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gala menatap kain pel yang baru saja disodorkan padanya dengan wajah masam. Rautnya bak singa jantan yang hendak menerkam. Tubuh yang tak terlalu tinggi namun berisi itu berdiri tegang dengan dua tangan yang saling mengepal. Bibir tipisnya ia katup sekuat tenaga supaya tidak mengeluarkan kalimat kasar. Semua yang ia lakukan saat ini merupakan manifestasi dari rasa kesal yang mati-matian ia tahan.

Intinya, sosok Galaxtra saat ini sama sekali tak enak untuk dipandang.

Sosok Saka yang berdiri dengan jarak satu meter darinya juga tidak jauh berbeda, meski respon yang dia berikan tidak hiperbola seperti Gala. Saka hanya terdiam dengan iris yang tidak mampu Gala baca, tapi jelas ada kesal di sana, juga raut tidak terima.

Tadi, baru saja Gala mengambil beberapa langkah kaki untuk hengkang dari hingar kantin, datang Pak Bahri—guru olahraga dengan postur tegap dan tubuh berisi—yang kemudian dengan cepat memahami apa yang tengah terjadi. Terlebih saat Pak Bahri merekam sosok Saka yang bersimpuh di lantai, dengan jarak beberapa jengkal dengan makanan yang berserakan. Langsung saja guru yang telah mengabdi belasan tahun di SMA Wirasantika itu melontar tanya dengan lantang—tentang siapa biang keladi dari keributan yang terjadi—dan sontak saja puluhan pasang mata di kantin menjawab, "Saka dan Galaxtra."

Jadi, di sinilah mereka berdua berakhir. Di sebuah gor indoor dengan Pak Bahri yang menatap mereka dengan sorot menghakimi, dan satu buah kain pel yang—mau tidak mau—harus mereka terima meski dengan setengah hati.

Tidak ada yang lebih buruk di hari itu bagi Saka dan Gala, selain diberi perintah untuk mengepel gor indoor yang luasnya bukan hanya sekedar hitungan jengkal. Pak Bahri menghadiahi pekerjaan itu sebagai hukuman. Yeah, itu wajar, mengingat bukan hanya prestasi yang membuat SMA Wirasantika menjadi salah satu sekolah yang cukup terkenal, tetapi juga kedisiplinan yang sangat ditekankan. Melenceng sedikit dari buku peraturan, hukuman langsung saja menanti untuk dikerjakan.

Sepuluh menit berjalan, dan dua anak muda itu 'dengan hati lapang' mngerjakan hukuman. Diam-diam Gala merutuk dalam hati. Memandang keji sosok yang ia anggap lebih pendek darinya—padahal ia hanya lebih unggul tiga senti. Gala tak paham apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini. Terkurung di gor dengan seseorang yang ia benci, dan ia sama sekali tidak punya akal untuk bisa melarikan diri.

Terlebih sosok Pak Bahri masih mengawasi—duduk di tribun nomor dua dari bawah—sambil memutar-mutar gumpalan kunci menggunakan tangan kiri. Gala tak henti menatap benda logam itu dengan raut tak terbaca, bertanya-tanya dalam hati mengapa benda itu seolah mengejek dirinya dan berkata, "Hei, aku bisa mengurungmu berdua di tempat ini dengan Saka!"—bahkan kini Gala tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba menjadi gila.

Behind Your Back[√] [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang