Bagian Sepuluh | Mereka Masih Sama

1.1K 185 10
                                        

"Nobody cares, cause I'm alone and the world is having more fun than me tonight."

—Simple Plan

"Jadi, 'tsunami' dari Bandung itu Gala sama Saka?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jadi, 'tsunami' dari Bandung itu Gala sama Saka?"

"Katanya sih begitu, tapi masa 'sih?"

"Saka sama Gala udah saling kenal? Dih, kok nggak pernah cerita-cerita?"

"Tapi waktu itu mereka berantem di kelas, kayak orang yang pernah punya masalah gitu."

"Jangan-jangan mereka berantem gara-gara Saka ninggalin pertandingan voli mereka? Kayak yang kemaren Saka ceritain itu?"

"Tapi masa sih? Gue nggak yakin."

"Menurut lo, kira-kira kenapa ya Saka sama Gala bisa saling benci gitu?"

Saka berjalan dengan acuh sambil menggenggam erat plato yang ia bawa. Jujur, sebenarnya ocehan-ocehan itu membuat panas telinga, tapi Saka bersikap seolah ia tidak mendengar apa-apa. Setidaknya ia tidak ingin makan siangnya menjadi hancur hanya karena dirinya menjadi topik utama pembicaraan mereka.

Tepat setelah bibi kantin menuang lauk terakhir, ia mengedarkan pandangan ke penjuru kantin, mencari apakah masih ada tempat kosong yang bisa ia duduki. Tapi agak sulit rupanya, mengingat jumlah murid yang cukup banyak dan memenuhi hampir semua bangku yang ada. Baru saja Saka ingin mengumpat, ketika akhirnya ia menemukan satu, di ujung sebelah kanan, dekat jendela. Tanpa pikir panjang ia langsung memacu langkah ke arah sana dengan sudut bibir yang membentuk kurva.

Langkah kakinya seringan bulu angsa, berusaha untuk cepat-cepat menjangkau meja kosong itu sebelum ada yang merebutnya. Bukannya apa-apa, ia tidak terlalu suka jika makan bersama dengan orang yang tidak terlalu ia kenal. Rasanya sedikit tidak nyaman. Sedangkan teman sekelasnya sedang menggosipi dirinya, jadi tidak mungkin ia bergabung bersama mereka. Yang ada ia nanti justru diwawancara.

Saka tidak menyangka kalau kisah yang ia ceritakan kemarin akan menarik atensi banyak orang. Ia pikir itu hanya akan masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tapi rupanya kisah tersebut justru melekat di ingatan yang mendengar. Membuat ia menjadi sorot utama gosip hangat seharian. Menjadi bahan perbincangan Dua Belas Mipa Tiga dari pagi sampai siang.

Jujur saja itu cukup untuk membuatnya merasa tidak nyaman. Namanya disebut dari ujung kiri sampai ujung kanan, dari belakang sampai depan. Bukan hanya di kelas, bahkan di kantin sekalipun ia masih bisa merekam namanya disebut-sebut dengan bisik yang cukup kuat untuk ia dengar.

Tapi, jika ia saja sudah sebegini risihnya, bukankah masih ada satu orang lagi yang juga sama risihnya dan harus ikut menulikan telinga?

Saka membuat langkah kakinya semakin berpacu, tapi kali ini atensinya tidak pada tempat yang ia tuju. Ia kembali mengedarkan pandangan, meneliti satu-satu wajah yang ia kenal, sambil diam-diam berharap bahwa ia akan menemukan si pemilik iris kelam yang juga ikut diperbincangkan.

Behind Your Back[√] [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang