Bagian Lima | Berubah

1.3K 189 11
                                        

"Everybody wants to go to heaven, but nobody wants to die."

—Unknown

Gala mendengus gusar sembari mengusap kasar wajahnya kala dua sosok itu kembali mengusiknya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gala mendengus gusar sembari mengusap kasar wajahnya kala dua sosok itu kembali mengusiknya. Padahal ia telah berkali-kali menyatakan kalau ia tidak bisa. Tapi mereka berdua bersikap seolah tidak memiliki telinga. Mereka masih saja meminta hal yang sama pada Gala. Padahal mereka sudah paham dengan benar jawaban apa yang akan mereka terima.

"Berapa kali sih gue bilang ke kalian? Gue nggak bisa!"

Lagi. Tegas suara itu mengalun di udara. Dan dua sosok itu kembali mendapat jawaban yang sama.

Tapi, bukan mereka namanya kalau ditolak delapan kali langsung menyerah begitu saja.

"Lo bukan nggak bisa, tapi nggak mau. Gue tahu, lo pemegang gelar spiker terbaik tingkat SMP di Bandung 'kan? Gosipnya udah nyebar!"

Itu adalah Arfa, pemuda berbadan tinggi dengan punggung tegap dan sorot mata yang tegas. Di sebelahnya adalah Daniel, pemuda manis dengan lesung pipi sedalam Palung Mariana. Beberapa hari terakhir ini mereka kompak mengganggu si anak baru, dengan kalimat permohonan yang terus saja mereka mereka ucap dengan tekad sekeras batu. Padahal jelas-jelas Gala tidak mau membantu. Tapi mereka tetap saja memohon tanpa kenal malu.

"Gue udah nggak mau berurusan lagi sama hal-hal yang berbau voli," ujar Gala pada akhirnya. Ia merogoh ponsel dari kolong meja kemudian mengaktifkannya, hanya untuk mengalihkan atensi supaya ia tidak harus bertatap mata dengan iris penuh binar milik Daniel dan Arfa.

Lagipula, yang mereka lakukan itu percuma. Bagi Gala, binar di kelereng mereka berdua itu tidak ada artinya. Gala itu pendiriannya teguh jika sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan mudah dilawan. Apalagi hanya dengan kalimat permohonan yang dua sosok itu ajukan.

"Ayolah, Gal! Gue cuma butuh lo bantuin kita buat menangin latih tanding ngelawan Akademi Garuda Wicaksana. Cuma itu satu-satunya hal yang bisa gue lakuin sebagai kapten supaya klub voli nggak jadi dibubarin. Tapi sayangnya sekarang kita kekurangan pemain."

Namun rupaya Arfa jauh lebih sulit ditaklukkan. Terbukti dari kalimat-kalimat lain yang pemuda itu ucapkan, yang ujung-ujungnya tetap saja menarik Gala ke satu jalan, yaitu bergabung ke klub voli supaya klub itu tidak jadi dibubarkan.

Gala bergeming pada posisi yang ia pertahankan. Pun juga Arfa dan Daniel yang tak henti mengajukan kalimat permohonan. Hingga pada akhirnya, Gala menyerah juga. Ia meletakkan ponselnya dengan asal kemudian kembali menatap mereka berdua.

"Kalian rela satu minggu-an ini delapan kali bolak-balik nyamperin gue cuma untuk dengar jawaban yang sama? Gue udah bilang kalau gue nggak bisa!"

"Udah gue bilang, Gal. Cuma ini yang bisa gue lakuin untuk nyelametin tim voli."

"Yang tinggal sisa lo, Daniel, sama dua orang lagi? Siapa namanya...Dito sama Ferdi? Lo gila?"

Arfa mendesah. Membujuk Gala itu memang tidak mudah. Tapi ia tahu kalau ia tidak boleh menyerah. "Akan jadi lima orang kalau lo join sama kita."

Behind Your Back[√] [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang