[Dibuat untuk merayakan ulang tahun penulis]
Beberapa part telah ditarik demi kepentingan penerbitan🙏
Ketika kata naif masih melekat pada Saka dan Gala, keduanya pernah sama-sama bahagia. Mereka saling menautkan jari kelingking dan mengumbar janji...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit nggak? Perlu ke dokter?"
Saka hanya tersenyum kecil menanggapi kepanikan sang kakak. "Udah nggak kenapa-kenapa kok, Kak. Mending lo benerin gesper lo dulu itu, miring."
Tepat lima menit setelah percakapan terakhir antara Saka dan Gala ditelan udara, Savero datang—bersama dobrakan pintu yang membuat seisi ruangan berjengit karena terkejut—kemudian memeriksa tubuh Saka dari pinggang sampai kepala. Saka tak tahu sebelum datang menjemput, kakaknya itu habis melakukan apa. Tapi pakaiannya berantakan. Gespernya miring ke kanan. Ada salah satu kancing kemeja yang salah pakai. Bahkan Saka hampir saja kelepasan, tapi wajah panik Savero membuat tawanya kembali tertelan. Jadi hanya senyum kecil yang ia terbitkan, sambil menggenggam tangan Savero, kemudian membawanya ke atas pangkuan.
"Tapi kamu pingsan, Sa! Kita ke rumah sakit aja ya?"
Saka menggeleng dengan kurva yang masih belum pudar. Ia mengeratkan genggaman, berusaha menyalurkan hangat melalui jari yang saling bertautan. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk memberi bukti kepada Savero bahwa ia sudah baik-baik saja, selain melalui tatapan mata.
"Duduk dulu, Kak. Lo keringetan. Lo habis ngapain sih? Itu baju bisa sampe berantakan."
"Sa!"
Savero tidak suka saat Saka justru mengalihkan pembicaraan. Dan bukannya duduk di atas kursi, pria dua puluh empat tahun itu justru mendudukkan diri di atas brankar. Ia mempertemukan dahi sang adik dengan punggung tangan. "Masih anget, Sa. Kita ke rumah sakit, ya?"
Lagi, Saka masih memberi jawaban yang sama melalui gelengan kepala. "Nggak usah, Kak. Gue cuma pingsan karena nggak sarapan doang. Kita pulang ke rumah aja. Lo juga pasti capek kan, semaleman ngurusin kerjaan?"
Saka mempertegas tatapan mata—berusaha meyakinkan sang kakak bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan—kemudian membawa tautan jari mereka ke depan dada. "Masih berdetak, Kak. Kerasa kan?"
Savero membuang napas kasar melalui bibir yang sedikit ia buka. Ia paham benar kalau adiknya memang keras kepala. "Oke, kita pulang." Mau tak mau Savero harus mengalah.
Savero turun dari brankar, kemudian memberi punggung pada sang adik sambil merendahkan posisi tubuh. Alis Saka bertaut. "Lo ngapain, Kak?"
Savero menolehkan kepala, masih dengan posisi tubuh yang sama. "Cepetan naik. Kakak gendong."
"Hah?!" Saka menggeleng cepat. "Nggak! Nggak mau! Apa kata temen-temen gue kalau ngelihat gue digendong kayak gitu?"