Bagian Tujuh Belas | Sebuah Retorika

1.3K 190 16
                                        

"Aku terjebak dalam sebuah kontemplasi, tanpa mampu untuk melarikan diri."

—Seseorang Yang Kau Tinggalkan

Saka tak tahu ada apa dengan matanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saka tak tahu ada apa dengan matanya. Telah ia usap berkali-kali, tapi tetap saja sama. Buram dan bayang yang hinggap seolah tak bisa lepas dari apa yang direkam oleh retina.

Padahal, ia terbiasa berdiri di barisan nomor lima dari belakang—karena para tiang listrik selalu mendapat bagian depan, dan dia yang 'seadanya' hanya bisa terima dengan hati lapang kala harus mendapat barisan di belakang. Biasanya tak ada masalah meski ia tak bisa melihat apapun yang ada di depan. Tapi kali ini beberapa punggung temannya terlihat berbayang. Ia berusaha fokus, tapi yang ada justru munculnya titik-titik hitam.

Bukan hanya itu, kini tungkainya pun seolah tak bisa menopang berat badan dengan benar. Tubuhnya gemetar kala sensasi menusuk—entah untuk ke berapa kali—kembali datang. Sudah lama sekali sensasi seperti ini tak ia rasakan. Sakit, ia ingin menjerit, tapi bahkan yang keluar hanya rintih yang mati-matian ia tahan.

Jadi, seperti ini reaksi tubuhnya apabila ia tidak sarapan?

Saka mendesah di sela rintih. Tak terhitung berapa lama ia meremat celana—bahkan kini buku jarinya telah memutih. Malam tadi, lelapnya kembali tak tenang. Padahal Savero telah menyampaikan deret kalimat panjang melalui telepon genggam—Savero harus menginap di rumah temannya karena urusan pekerjaan—tentang bangun lebih pagi, tentang jangan sampai terlambat, tentang jangan lupa minum obat, tapi Saka justru lalai hanya karena bangun kesiangan. Anak itu bahkan tidak sarapan.

Lagi-lagi mimpi sialan itu yang menjadi dalang.

Kini ia menyesal. Saka paham dengan benar kalau sejak lama, tubuhnya memang tak lagi bisa diajak berteman. Tak bisa diperlakukan secara sembarangan. Ada satu bom di dalam dirinya yang akan membuat ia tak baik-baik saja apabila dibangkitkan.

Fokus dengan rasa sakit yang masih menyiksa, Saka bahkan tak sadar, tepat di samping tubuhnya, ada sepasang iris kelam yang memperhatikan. Sejak lama, bahkan sejak peluh di pelipis Saka mengalir dengan deras. Sejak bibir Saka memucat kemudian bergetar. Sejak kepala Saka oleng ke kiri dan ke kanan. Ada satu sosok yang terus merekam, tapi tak berani mengambil tindakan. Hanya memperhatikan dalam diam. Sambil mati-matian menekan rasa khawatir yang mulai naik ke permukaan kala tubuh Saka kembali oleng ke depan.

Saka bahkan tak sadar kalau ia dan Gala bersebelahan.

Upacara bendera kali ini masih sama, masih terasa menyiksa bagi para murid yang memang malas beradu fisik dengan matahari di atas kepala. Tak terhitung berapa dengusan yang Gala dengar dari sekitar. Tapi ia tak peduli, jarena fokusnya hanya pada sosok di sebelah—yang bahkan berdiri saja sudah tidak benar.

Behind Your Back[√] [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang